Terapkan Metode ILHAM, Inovasi MI Hidayatul Mubtadiin Ketitang untuk Menghafal Alquran
Madrasah Ibtidaiyah atau MI Hidayatul Mubtadiin Ketitang, Desa Japurabakti, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon menciptakan dan menerapkan metode Integrated, Listening, Hand, Attention, and Matching (ILHAM).
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Cirebon - Madrasah Ibtidaiyah atau MI Hidayatul Mubtadiin Ketitang, Desa Japurabakti, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon menciptakan dan menerapkan metode Integrated, Listening, Hand, Attention, and Matching (ILHAM).
Pembimbing Kelas Tahfiz Alquran MI Hidayatul Mubtadiin Ketitang mengatakan, penerapan metode itu bertujuan mendidik siswa-siswinya menghafal Alquran. ILHAM diklaim dapat mempercepat proses menghafal.
Dia menuturkan, program menghafal Alquran menggunakan metode ILHAM ini baru diterapkan di kelas lima MI Hidayatul Mubtadiin Ketitang. Program sendiri bersifat ekstrakurikuler serta dijalankan di luar jam kegiatan belajar mengajar (KBM) setiap Sabtu hingga Senin.
"Menghafal Alquran butuh komunitas, sehingga keberadaan sekolah di kompleks pesantren membangkitkan semangat anak-anak dalam menghafal Alquran," ungkapnya, Jumat 9 Agustus 2024.
Ia menjelaskan, metode ILHAM menggabungkan berbagai potensi kecerdasan dan pendayagunaan indera. Ini terdiri dari lima komponen utama, yakni integrated (terhubung), menggabungkan berbagai jenis kecerdasan seperti linguistik, matematik, visual, kinestetik, musikal, interpersonal, dan intrapersonal untuk mengoptimalkan hasil hafalan.
Selanjutnya, Listening (mendengarkan), melibatkan latihan mendengar dan mengucapkan kalimat Alquran dengan pembimbing yang mencontohkan bacaan ayat. Lalu yang ketiga hand (tangan, adalah menggunakan gerakan tangan untuk memperkuat hafalan dan memicu semangat siswa menggunakan kode pada ruas jari untuk mengingat ayat.
"Kalau Attention memfokuskan gerakan bibir, mimik wajah, dan intonasi suara siswa yang saling berhadapan untuk saling memperhatikan, memotivasi, dan mengevaluasi proses menghafal.
Siswa juga mencocokkan bunyi hafalan dengan posisi jari tangan, menyimak hafalan secara bergantian, dan membetulkan kesalahan pada lembaran naskah mushaf," paparnya.
Dia mengaku, program ini juga memungkinkan para siswa tidak hanya mampu menghafal ayat per ayat, tetapi juga hafal penomoran dan jumlah surat yang telah dihafal. Harapannya, program ini bisa diterapkan di seluruh kelas, bahkan di tingkat Raudlatul Athfal (RA).
"Untuk sementara yang dihafal adalah juz 30. Semoga melalui metode ini para siswa tidak takut untuk menghafal Alquran,” tukasnya.
Editor : Doni Ramdhani


