Tewasnya Pelajar SMA 7 Kota Bogor, Ceu Atty Desak Disdik Jabar Lakukan Ini
DPRD meminta Dinas Pendidikan Jawa Barat turun tangan pasca kasus kekerasan berakibat tewasnya pelajar di depan gerbang SMA 7 Kota Bogor.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bogor – DPRD meminta Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat turun tangan pasca kasus kekerasan berakibat tewasnya pelajar di depan gerbang SMA Negeri 7 Kota Bogor.
“Saya mendesak Disdik Jabar bisa bekerja sama dengan berbagai stakeholder di Kota Bogor. Seperti dengan Disdik Kota Bogor, Polresta, Bagian Hukum Sekretariat Daerah Kota Bogor, Kejaksaan Negeri Kota Bogor dan lembaga terkait, seperti Komisi I dan IV DPRD Kota Bogor,” ungkap Anggota Fraksi PDI Perjuangan Kota Bogor, Atty Soemaddikarya kepada wartawan, Rabu.
Atty melanjutkan, untuk mensosialisasikan program sadar hukum bagi pelajar SMA/SMK dalam satu program, harus dilakukan roadshow ke setiap sekolah tentang sadar hukum bagi pelajar dan mensosialisasikan bahaya risiko tawuran hingga berdampak pada nyawa pelajar yang melayang sia-sia.
"Dengan begitu, tanpa oknum pelajar sadari, hobi tawuran akan tumbuh menjadi naluri seorang pembunuh," terang wanita yang akrab disapa Ceu Atty.
Baca Juga: RM Tewas Bersimbah Darah di Depan SMAN 7 Kota Bogor, Tersangka Mengaku Terbakar Dendam
Ceu Atty menambahkan, oknum pelajar yang melakukan perbuatan kriminal akan merugikan dirinya sendiri karena separuh waktunya akan dihabiskan dalam masa kurungan.
"Pelajar yang membunuh sesama pelajar, secara tidak langsung merugikan sendiri karena akan membunuh masa depannya sendiri. Hidup dan waktunya akan dihabiskan didalam jeruji besi dengan segala penyesalan," tambahnya.
Atty membeberkan, apalagi kasus yang teranyar mencuat diduga terjadi akibat balas dendam, yang akhirnya menewaskan satu pelajar akibat luka tusukan senjata tajam.
"Tawuran yang kerap terjadi juga kerap menelan korban, ini jadi dendam antar pelajar. Akibatnya apa? Yang tidak bersalah, yang tidak berdosa jadi sasaran, jadi korban. Mental pelajar yang sok jagoan atas nama solidaritas banyak dipengaruhi oknum senior dan alumni sekolah yang mewariskan mental brutal kepada juniornya," bebernya.
Baca Juga: Malam Berdarah di Depan SMA 7 Bogor, Polisi Ringkus Dua Remaja, Sita Enam Senjata Tajam
Menurutnya, hal ini menjadi perhatian seluruh pihak, sebab mental di usia pelajar yang masih labil rawan didoktrin. Sebab anak-anak masih berada di usia labil, sehingga mudah dipengaruhi, mudah didoktrin dan pasti akan mengedepankan ego dan emosi sesaat.
'Tampil sebagai jagoan sangat dipengaruhi situasi dan kondisi pergaulan di lingkungan yang salah. Ini menjadi faktor utama dan harus diputus mata rantai dengan pembinaan dan edukasi dimana pelajar tugasnya belajar, sebagai kewajibannya untuk menjadi generasi penerus bangsa," pungkasnya. (rizki mauludi)
Editor : inilahkoran


