Torehkan Sejarah, Unjani Kukuhkan Empat Guru Besar Baru
Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani) Kota Cimahi menorehkan sejarah baru dengan dikukuhkannya empat Guru Besar dalam kurun waktu hampir satu dekade.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Cimahi - Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani) Kota Cimahi menorehkan sejarah baru dengan dikukuhkannya empat Guru Besar dalam kurun waktu hampir satu dekade.
Hadirnya empat Guru Besar Unjani yamg baru ini, yakni Prof. Dr. Agus Subagyo, S.IP., M.Si, Prof. Dr. Heni Nurani Hartikayanti, S.E., M.Si., Ak., C.A., Prof. Dr. Ir. Bambang Widyanto, M.Sc., dan Prof. Dr. Ir. Sigit Yoewono Martowibowo, MME, pun mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak, termasuk Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah 4 Jabar dan Banten.
"Saya atas nama Kemendikbudristek tentu mengapresiasi proses seremoni pengukuhan Guru Besar Unjani untuk mengedukasi kepada masyarakat bahwa telah ada guru besar baru," kata Kepala LLDIKTI Wilayah IV Jawa Barat dan Banten,
Dr. M. Samsuri, S.Pd., M.T., IPU di Aula Fisip Unjani, Rabu 10 Januari 2024.
Menurutnya, seremoni pengukuhan ini penting untuk diketahui oleh masyarakat lantaran Guru Besar ini merupakan jenjang jabatan akademik tertinggi untuk para dosen.
"Itu menjadi kewenangan setiap perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta," tuturnya.
Samsuri mengaku bersyukur ada empat Guru Besar Unjani yang dikukuhkan. Pasalnya, ini pertama kali dalam sejarah Unjani di bawah kepemimpinan pak Rektor Prof. Hikmahanto Juwana dan Ketua Pengurus Yayasan Kartika Eka Paksi TNI AD. Letjend TNI (Purn) Dr. Tatang Sulaiman, S.Sos., M.Si.
"Dalam catatan di Unjani dan LLDIKTI sangat istimewa dan penambahan guru besar ini selain seremoni untuk dipublikasikan juga saya harapkan bisa menjadi spirit motivasi bukan hanya secara pribadi untuk dosen-dosen yang lain," terangnya.
"Tapi, juga untuk kampus-kampus lain. Khususnya bagi Unjani, karena dengan adanya tambahan guru besar saya berharap ini tidak stagnan," sambungnya.
Bahkan, sebut Samsuri, bisa terus melahirkan yang baru dan produktivitas di dalam proses kualitas pembelajaran, dalam melakukan penelitian, inovasi dan pengabdian kepada masyarakat juga makin meningkat.
Sehingga, pada akhirnya perguruan tinggi itu tidak hanya dikenal sebagai menara gading, tetapi tentu bisa menjadi gading-gading di tengah masyarakat dengan banyaknya riset-riset yang bermanfaat juga pengabdian kepada masyarakat.
"Karena sebelumnya hanya ada satu guru besar dan itu sudah cukup lama. Sehingga, paradigma ini diubah oleh ketua yayasan dan pak rektor bahwa menjadi guru besar bisa mendongkrak kualitas institusi," ujarnya.
Rektor Unjani, Prof. Hikmahanto Juwana menambahkan, Unjani ini mencetak sejarah lantaran setelah tahun 2014 silam pihaknya hanya memiliki satu Guru Besar. Namun, kali ini ada empat Guru Besar yang dilahirkan langsung dari Unjani.
Menurutnya, capaian sejarah ini tidak terlepas dari LLDIKTI yang memfasilitasi lantaran seringkali posisi Guru Besar di universitas swasta kerap menjadi hal menakutkan bagi para dosen lantaran guru besar biasanya ada di perguruan tinggi negeri.
"Tapi sekarang Kemendikbudristek melalui LLDIKTI justru memfasilitasi kami dengan baik agar para dosen di Unjani bisa menjadi guru besar. Tentunya, ini menjadi hal positif persaingan antar perguruan tinggi baik negeri maupun dari luar perguruan tinggi negeri sudah mulai hadir," tuturnya.
"Kami dari universitas swasta ingin juga ikut dalam persaingan itu memberikan pendidikan yang sangat berkualitas
dan Alhamdulillah ini semua dari Unjani didukung penuh oleh yayasan Kartika Eka Paksi," ungkapnya.
Hikmahanto menilai, tanpa dukungan penuh dari Yayasan Eka Paksi berkaitan dengan anggaran jenjang kepangkatan bagi para dosen. Bahkan kampus Unjani bisa megah seperti sekarang itu tidak mungkin terjadi.
"Mungkin sekarang ini Unjani bila dibandingkan dengan universitas-universitas negeri sekalipun, kita punya percaya diri bahwa kita mampu bersaing itu berkat komitmen yayasan Kartika Eka Paksi yang dimiliki oleh Mabes TNI AD sehingga kita bisa seperti ini," bebernya.
Kendati demikian, Hikmahanto pun tak memungkiri untuk bisa melahirkan empat Guru Besar Unjani ini tidak mudah lantaran ada berbagai kendala yang dihadapi.
"Kalau internal banyak dari dosen-dosen yang merasa kalau di swasta itu seolah-olah gak mungkin menjadi seorang guru besar. Sehingga, mereka hanya fokus mengajar dan kadang-kadang meneliti," ucapnya.
Hikmahanto menilai, Tridharma Perguruan Tinggi itu harus dijalankan dengan nuansa yang lebih memfasilitasi para dosen untuk bisa menjadi Guru Besar terlepas dari negeri atau swasta.
"Untuk kendala eksternal memang ada masalah-masalah kadangkala kita harus dilihat oleh negeri apakah sudah pantas atau belum dan lain sebagainya," ujarnya.
"Sekarang di Kementerian sudah dibuat efisien bagi mereka yang mau menjadi Guru Besar mereka bisa mengikuti proses itu sudah sampai dimana dan lain sebagainya sudah disampaikan kemudian hilang itu tidak akan terjadi karena sudah ada digitalisasi," tandasnya.
Di tempat yang sama, Ketua Yayasan Kartika Eka Paksi (YKEP) Dr. Tatang Sulaiman S.Sos., M.Si menambahkan, pihaknya bertanggungjawab untuk menyelenggarakan pendidikan.
Selain itu, pihaknya pun memiliki visi misi terhadap Unjani untuk menjadikannya sebagai perguruan tinggi yang besar.
"Ada empat sebenarnya ciri-cirinya itu untuk universitas besar itu, satu menghasilkan profesor mah itu sudah dilakukan. Kedua, memiliki fakultas kedokteran dan itu kita sudah punya," ujarnya.
Ketiga, sambung Tatang, tahun akreditasinya harus unggul dan keempat membuka program rektoral.
"Mudah-mudahan 2024 ini keempat persyaratan ini bisa kita tempuh. Sehingga untuk mencapai visi itu kita bekerja keras, dari rektorat dan dari yayasan, kami menyiapkan segala sesuatu untuk sumber daya," tandasnya.*** (agus satia negara)
Editor : Ahmad Sayuti

