Tradisi Bermain Kembali Hidup
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Purwokerto - Suara riuh anak-anak kembali memenuhi ruang bermain di Purwokerto. Bukan bunyi notifikasi dari layar gawai, melainkan teriakan, langkah kaki, dan tawa yang mengiringi permainan tradisional.
Festival Permainan Tradisional Non-Alat dalam rangka Edu Expo Milad Ke-112 Al Irsyad Al Islamiyyah menjadi ruang bagi anak-anak untuk mengenal kembali permainan yang pernah akrab dalam kehidupan sehari-hari. Gobak sodor hingga sunda manda dimainkan tanpa bantuan peralatan khusus.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas Widodo Sugiri yang meninjau festival tersebut, Minggu, menilai kegiatan itu bukan sekadar hiburan. Ada gerak tubuh, interaksi, sekaligus pengenalan budaya yang ikut tumbuh di dalamnya.
“Ini adalah hal yang luar biasa ketika anak-anak sekarang sudah terbiasa menggunakan gadget, kemudian tidak banyak bergerak. Nah, ini mengembalikan permainan tradisional,” katanya, seperti dikutip dari ANTARA, Minggu (6/9).
Bagi Sugiri, pendidikan tidak cukup hanya mengejar kemampuan akademis. Anak juga perlu mengenal akar budaya yang membentuk lingkungan dan masyarakat tempat mereka tumbuh.
Permainan tradisional menjadi salah satu jalan sederhana untuk mengenalkan hal tersebut. Anak-anak bergerak, bermain bersama, belajar mengikuti aturan, sekaligus berinteraksi dengan teman-temannya.
Aktivitas itu juga memberi manfaat bagi perkembangan fisik. Permainan yang mengharuskan anak berlari, melompat, mengejar atau berpindah tempat membuat tubuh mereka lebih aktif di luar kelas.
Karena itu, Sugiri berharap festival tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial dalam rangkaian milad.
“Kami berharap festival tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi ditindaklanjuti dengan memberikan ruang bagi anak-anak memainkan permainan tradisional dalam aktivitas keseharian di sekolah,” katanya.
Dia juga berharap sekolah lain di Banyumas mengikuti langkah serupa. Permainan tradisional, menurut dia, dapat kembali menjadi bagian dari aktivitas pendidikan sekaligus cara sederhana merawat budaya.
Semangat yang sama dibawa Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto. Sekretaris Umum Pengurus Cabang Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto Supardan mengatakan festival menjadi momentum untuk memperkenalkan keberagaman permainan tradisional dari berbagai wilayah Indonesia. (gin)
Editor : Inilahkoran

