Tragedi Siswa Cimahi di Flyover Pasupati, Psikolog: Bunuh Diri Bukan Faktor Tunggal
Kasus bunuh diri seorang siswa Kota Cimahi yang melompat dari Flyover Pasupati pada Selasa 10 Februari 2026 kembali menyita perhatian publik.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Kasus bunuh diri seorang siswa Kota Cimahi yang melompat dari Flyover Pasupati pada Selasa 10 Februari 2026 kembali menyita perhatian publik.
Pasalnya, tragedi di Flyover Pasupati itu memicu kekhawatiran mendalam atas tren kasus bunuh diri yang mengintai kalangan remaja. Terutama setelah diketahui sekolah tempat siswa di Cimahi tersebut bersekolah pernah mengalami kejadian serupa pada 2024.
Menanggapi hal ini, psikolog asal Bandung Billy Martasandy mengatakan fenomena bunuh diri pada siswa dan remaja tidak bisa disederhanakan sebagai akibat dari satu faktor penyebab saja.
Menurutnya, keputusan tragis tersebut umumnya merupakan akumulasi dari berbagai tekanan psikologis yang tidak tertangani dengan baik.
"Fenomena bunuh diri pada remaja tidak bisa dipandang sebagai akibat dari satu faktor tunggal. Itu penting untuk tidak berspekulasi pada satu motif saja, melainkan melihatnya sebagai tanda bahwa kesehatan mental remaja perlu perhatian serius dari lingkungan sekitar," kata Billy, Rabu 18 Februari 2026.
Menurutnya, sejumlah faktor yang kerap menjadi pemicu meliputi gangguan depresi dan kecemasan, tekanan beban akademik, perundungan (bullying) baik di lingkungan sekolah maupun media sosial, konflik pertemanan, hingga persoalan internal dalam keluarga.
"Situasi ini semakin parah ketika remaja merasa putus asa dan tidak memiliki ruang aman untuk mencurahkan perasaan atau bercerita," sebutnya.
Salah satu aspek krusial yang disoroti Billy yakni peran keluarga. Dia menyebut, keluarga memegang peran sentral dalam pembentukan kesehatan mental anak lantaran merupakan lingkungan pertama tempat anak belajar mengenali dan mengekspresikan emosi.
Sebaliknya, minimnya komunikasi, konflik orang tua, pola asuh yang terlalu keras atau menekan, kurangnya perhatian emosional, hingga masalah ekonomi dapat meningkatkan tingkat stres pada remaja secara signifikan.
"Sementara keluarga yang terbuka, hangat, dan suportif cenderung membantu remaja lebih kuat menghadapi tekanan di luar rumah," bebernya.
Mengingat sekolah korban pernah mengalami kasus serupa dua tahun lalu, Billy menekankan upaya pencegahan tidak bisa bersifat insidental, melainkan harus sistematis dan berkelanjutan.
Dia menyarankan sejumlah langkah konkret, mulai dari penguatan layanan konseling yang mudah diakses siswa, penerapan program anti-bullying yang konsisten, pelatihan bagi guru untuk mengenali tanda-tanda awal depresi, hingga edukasi kesehatan mental yang rutin bagi murid. Koordinasi yang erat antara pihak sekolah, orang tua, dan tenaga profesional juga dinilai sangat krusial.
"Ini untuk deteksi dini dan pendampingan, sehingga siswa yang terlihat ‘baik-baik saja’ tetap mendapat ruang aman untuk bercerita," terangnya.
Billy juga menyoroti pentingnya sinergi tiga pilar yakni pemerintah, sekolah, dan keluarga. Pemerintah diharapkan menyediakan layanan kesehatan mental yang terjangkau dan melakukan edukasi publik secara masif. Sekolah perlu menciptakan lingkungan belajar yang aman dan peduli kesejahteraan emosional, sementara keluarga diharapkan menerapkan pola pengasuhan yang komunikatif dan empatik.
Lebih jauh, Billy menolak anggapan anak zaman sekarang 'lemah mental'. Dia menegaskan, remaja saat ini menghadapi tekanan sosial yang jauh lebih kompleks dibandingkan generasi sebelumnya.
"Anggapan anak zaman sekarang ‘lemah mental’ itu perlu diluruskan. Yang dibutuhkan remaja bukanlah stigma, melainkan dukungan nyata, pendampingan, serta pendidikan karakter yang relevan dengan tantangan zaman," pungkasnya.
Editor : Doni Ramdhani


