Tujuh Hari Panjang Menanti Jalan Pulang
NIAT mencari nafkah membawanya ke tengah laut. Harapan bertemu keluarga membuat Faisal terus bertahan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Tujuh hari Faisal Weskurni menunggu daratan. Selama itu pula laut menjadi satusatunya tempat berpijak.Sementara gelombang, rasa takut, dan ketidakpastian datang silih berganti.
Di tengah laut, warga Kabupaten Bandung Barat itu hanya punya satu bayangan yang terus dijaga: pulang kepada istri dan dua anaknya.
Pekan sebelumnya, Faisal berangkat dari rumah dengan tujuan yang jauh lebih sederhana. Dia hendak menuju Kalimantan Tengah untuk bekerja sebagai sopir di perkebunan kelapa sawit.
Kontrak selama satu tahun sudah menunggunya.
Faisal berangkat seorang diri, membawa rencana untuk mencari penghidupan.
Tak ada yang menyangka langkahnya menuju tempat kerja itu akan berubah menjadi perjalanan panjang untuk mempertahankan hidup.
Sabtu (19/9) malam, KMP Virgo Transport 8 yang ditumpanginya tenggelam.
Dari 243 orang yang tercatat dalam manifes, hingga kini 126 orang masih belum ditemukan.
Faisal masih mengingat bagaimana malam itu bermula. Ombak bergoyang cukup keras.Tubuhnya sempat muntah. Tetapi rasa tidak nyaman itu belum membuatnya berpikir bahwa sesuatu yang lebih buruk akan terjadi.
Sekitar pukul 00.15 waktu setempat, Faisal sedang merokok ketika suara keras terdengar dari sisi kiri kapal.
“Saya itu posisinya lagi ngerokok, terus ngedengar bunyi ngebledug di sebelah kiri kapal,” kata Faisal saat dihubungi, Senin (21/9).
Sesaat kemudian, kapal mulai miring. Faisal langsung berteriak memperingatkan penumpang lain. Dia bergegas mengambil pelampung, kemudian membangunkan teman-temannya.
“Terdengar jelas. Kapal miring! Saya berteriak, ‘Woi, kapal miring! Kapal miring!’ Habis itu saya ke belakang ngambil pelampung, membangunkan teman- teman,” katanya.
Setelah itu, semuanya berlangsung cepat. Penumpang berlarian mencari jalan keluar. Sebagian berusaha mendapatkan pelampung.
Sebagian lainnya melompat ke laut ketika kapal semakin miring. Namun, menurut Faisal, tidak ada peringatan resmi dari kru kapal sebelum keadaan berubah menjadi kepanikan.
“Enggak ada sedikit pun orang kapal yang bilang apa, kapal mau tenggelam, enggak ada. Alarm enggak ada, panduan evakuasi enggak ada. Seharusnya ada bilang kapal mau miring atau badai besar, itu enggak ada,” ujarnya.
Dia sempat melihat sekoci telah diturunkan sebelum kapal benar-benar terbalik.
Namun, dia tidak mengetahui siapa saja yang berhasil menaikinya. Saat kapal semakin miring, Faisal masih bersama 10 orang lainnya.
Mereka berusaha bertahan dalam keadaan yang serba tidak pasti.
“Waktu terakhir di atas kapal itu ada 11 orang bersama saya. Saya yang pertama terbawa arus. Banyak orang meminta tolong, tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa, hanya pasrah,” katanya.
Laut kemudian memisahkan Faisal dari kapal.
Azan Subuh berkumandang ketika dia mulai terbawa arus. Sejak saat itu, dia tak lagi tahu apa yang akan terjadi beberapa jam kemudian, apalagi keesokan harinya. Yang bisa dilakukan hanya bertahan.
Di tengah laut, orangorang mencoba menemukan cara masing-masing untuk menjaga harapan.
Ada yang salat. Ada yang mengaji. Bahkan, kata Faisal, ada yang melihat hiu di sekitar mereka. “Ada teman yang salat, ada yang mengaji.
Bahkan ada orang yang melihat hiu,” ujarnya.
Faisal memilih terus memikirkan keluarganya.
Istri dan dua anaknya yang masih kecil menjadi alasan terbesar untuk tidak menyerah.
Dalam kondisi apa pun, dia ingin kembali melihat mereka.
Hari pertama berlalu.
Kemudian hari kedua.
Hari-hari berikutnya berjalan dalam ketidakpastian.
Laut tetap luas, gelombang datang silih berganti, sementara daratan tak kunjung terlihat.
Tujuh hari dia terkatungkatung.
Selama itu pula, rasa takut berjalan bersama harapan. Dia tak hanya memikirkan keselamatan dirinya, tetapi juga orang-orang yang sebelumnya berada di sekelilingnya.
Sebagian meminta pertolongan.
Sebagian berusaha bertahan. Sebagian lainnya perlahan hilang dari pandangan. Dari 243 orang yang tercatat dalam manifes, 126 orang hingga kini masih belum ditemukan.
Faisal akhirnya kembali ke daratan. Setelah melalui tujuh hari yang panjang, dia dijemput dan didampingi Pemerintah Kabupaten Bandung Barat (KBB) melalui Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) KBB.
Kepala Disnakertrans KBB Yoppie Indrawan memimpin pendampingan bersama Camat Sindangkerta.
Pemerintah daerah memfasilitasi tiket kepulangan Faisal dari lokasi evakuasi menuju Bandara Soekarno- Hatta, Tangerang.
Setelah tiba di bandara, perjalanan belum selesai.
Faisal bersama tim pendamping melanjutkan perjalanan menggunakan Kereta Cepat Whoosh menuju Bandung. Dari sana, dia diantar hingga rumahnya di Kampung Parakan Tolok, Desa Wangunsari.
“Kami pastikan kondisi beliau dalam keadaan sehat, aman, dan siap berkumpul kembali bersama keluarga,” kata Yoppie, Senin (21/9).
Bagi pemerintah daerah, pendampingan itu bukan hanya soal memastikan seorang warga kembali ke rumah. Kondisi fisik dan psikologis Faisal setelah melewati musibah juga menjadi perhatian.
“Ini bukti nyata setiap warga Kabupaten Bandung Barat, di mana pun berada, menjadi tanggung jawab pemerintah daerah,” ujarnya.
Yoppie mengatakan, musibah tersebut sekaligus menjadi pengingat tentang kerentanan warga yang bekerja jauh dari kampung halaman. Mereka berangkat seorang diri, membawa harapan untuk keluarga, tetapi harus menghadapi risiko yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
“Musibah yang menimpanya mengingatkan kembali pentingnya perlindungan menyeluruh bagi para pekerja yang merantau, mulai dari keberangkatan, selama bekerja, hingga kepulangan,” tuturnya.
Kini Faisal sudah berada di rumah. Tetapi tujuh hari di laut belum sepenuhnya pergi dari ingatan. Dia masih mengalami trauma. Bahkan, untuk kembali menaiki kapal besar, Faisal belum sanggup membayangkannya.
Rencana bekerja di Kalimantan Tengah pun untuk sementara ditunda.
“Kalau naik kapal besar lagi, sekarang pasti masih trauma. Ke depan belum tahu, saya ingin menenangkan pikiran dulu, istirahat di rumah,” katanya.
Untuk saat ini, dia memilih tinggal lebih lama di rumah. Menenangkan pikiran.
Memulihkan diri. Dan menikmati kembali sesuatu yang selama tujuh hari hanya bisa ia bayangkan dari tengah laut: berkumpul bersama istri dan kedua anaknya.
(agus satia negara/gin)
Editor : Inilahkoran

