Viral Video Tari Dolalak di Acara Maulid Nabi, Panitia Klarifikasi dan Sampaikan Permohonan Maaf
Sempat viral, ini klarifikasi panitia soal acara maulid nabi yang menampilkan penari.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN - Media sosial kembali ramai dengan beredarnya sebuah video pertunjukan Tari Dolalak yang menampilkan latar belakang spanduk bertuliskan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Video tersebut menuai perdebatan publik karena dianggap tidak tepat jika dikaitkan dengan acara keagamaan.
Penjelasan Panitia
Menanggapi viralnya video tersebut, panitia penyelenggara langsung memberikan klarifikasi dan menyampaikan permohonan maaf. Mereka menjelaskan bahwa pertunjukan Tari Dolalak bukan bagian dari acara Maulid Nabi, melainkan rangkaian tradisi lokal yang rutin digelar setelah pengajian.
“Terkait video yang beredar, perlu kami luruskan bahwa setelah acara pengajian memang dilanjutkan dengan acara merti dusun serta pagelaran seni budaya lokal. Tari Dolalak adalah bagian dari tradisi di Desa Mutisari, bukan rangkaian utama Maulid Nabi,” jelas perwakilan panitia.
Panitia mengakui adanya kelalaian karena tidak segera melepas banner pengajian setelah acara Maulid Nabi selesai. Hal inilah yang kemudian menimbulkan salah persepsi di masyarakat.
Tidak Ada Unsur Penistaan Agama
Pihak panitia menegaskan bahwa mereka sama sekali tidak memiliki niat untuk melecehkan atau menistakan agama.
“Kesalahan kami karena lupa melepas banner setelah acara pengajian siang hari. Kami pastikan tidak ada maksud untuk menyinggung pihak mana pun,” tegas panitia.
Tradisi Budaya dan Keagamaan Berjalan Bersama
Di wilayah Wonosobo, khususnya Desa Mutisari, sudah menjadi tradisi bahwa setiap acara pengajian Maulid Nabi kerap dilanjutkan dengan kegiatan kebudayaan, termasuk Tari Dolalak. Hal ini dianggap sebagai bentuk pelestarian seni lokal sekaligus mempererat kebersamaan warga.
Meski demikian, panitia mengimbau masyarakat untuk memahami konteks acara tersebut dan berharap ke depan tidak ada lagi kesalahpahaman.
Editor : Firda Rachmawati


