Wajah Berbeda Pasar Merdeka

PASAR Merdeka bersiap membuka babak baru. Revitalisasi ini menjadi bagian dari penataan kawasan pusat Kota Bogor.

Wajah Berbeda Pasar Merdeka
PASAR MERDEKA: Wali Kota Bogor Dedie A Rachim bersama Dirut Perumda PPJ Kota Bogor Jenal Abidin beserta jajaran didampingi jajaran PT FAM saat meninjau Pasar Merdeka, Kamis (6/8). Keberadaan pasar bersih Merdeka ini untuk menunjang penataan area Jalan Semeru, Merdeka, Jalan MA Salmun dan menambah pasar bersih di kota hujan.

Oleh : Rizki Mauludi

Tak lama lagi, denyut baru perdagangan akan hadir di jantung Kota Bogor. Di tengah upaya menata kawasan Jalan Merdeka, Semeru, MA Salmun hingga Perintis Kemerdekaan, Pasar Merdeka dipersiapkan menjadi lebih dari sekadar tempat jual beli.

Pasar ini diharapkan menjadi simpul baru aktivitas ekonomi sekaligus wajah baru kawasan yang selama ini dikenal padat oleh pedagang.

Harapan itu mengemuka saat Wali Kota Bogor Dedie A Rachim meninjau progres revitalisasi Pasar Merdeka, Kecamatan Bogor Tengah, Kamis (6/8). Di hadapannya, bangunan pasar yang kini telah memasuki tahap akhir pengerjaan mulai memperlihatkan bentuk barunya.

Dedie mengatakan, Pasar Merdeka menjadi bagian dari rangkaian penataan pasar tradisional yang tengah dilakukan Pemerintah Kota Bogor. Sebelumnya, Pasar Jambu Dua berkembang menjadi tujuan wisata kuliner, sementara Pasar Gembrong Sukasari telah direspons positif oleh para eks pedagang Pasar dan Plaza Bogor.

“Ada tiga pasar yang insya Allah semuanya sudah siap. Pertama kan Pasar Jambu Dua, perkembangannya sangat positif. Branding-nya justru lebih kepada kuliner. Kemudian juga Pasar Gembrong Sukasari, sekarang ini Pasar Merdeka dalam rangka penataan area Semeru, Merdeka juga MA Salmun, termasuk juga Jalan Perintis Kemerdekaan,” ujar Dedie.

Pasar Merdeka diproyeksikan mampu menampung sekitar 450 pedagang. Selain pedagang yang selama ini berada di tempat penampungan sementara, pemerintah juga ingin mengakomodasi pedagang barang bekas dan onderdil agar aktivitas mereka berpindah dari trotoar ke dalam pasar.

Dengan begitu, rencana revitalisasi pedestrian di sepanjang Jalan Merdeka hingga kawasan Jembatan Merah dapat berjalan tanpa mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat.

“Rencana bulan depan atau akhir September sudah mulai secara bertahap pedagang-pedagang yang ada di TPS masuk,” katanya.

Dedie membayangkan Pasar Merdeka sebagai pasar dengan wajah yang lebih beragam. Tidak hanya menjual kebutuhan pokok seperti sayur, buah, ikan, ayam, dan daging, tetapi juga menjadi sentra onderdil, barang bekas, hingga kawasan kuliner yang memanfaatkan letaknya yang strategis di pusat kota.

Saat ini, progres pembangunan disebut telah melampaui 90 persen. Pekerjaan yang tersisa lebih banyak berupa penyelesaian akhir, termasuk area parkir dan penambahan gardu listrik untuk menunjang kebutuhan operasional pasar.

Project Manager PT Firnie Alataz Malanihat (FAM), Martin Rustandi, mengatakan pihaknya menargetkan lantai dasar dan lantai satu rampung pada Agustus sehingga pedagang dapat mulai menempati kios pada September.

“Setelah pedagang masuk, baru kami melaksanakan pekerjaan di luar bangunan seperti area parkir dan fasilitas pendukung lainnya. Prioritas kami sekarang adalah pedagang bisa segera masuk,” ujarnya.

Martin menjelaskan revitalisasi dilakukan tanpa membongkar seluruh bangunan. Struktur utama pasar tetap dipertahankan dan diperkuat, kemudian dilanjutkan dengan pembenahan fasilitas. Lantai dua nantinya disiapkan sebagai ruang kuliner, kerajinan, kafe, hingga co-working space. (gin)


Editor : Inilahkoran