Wamenkes : 2,3 Juta Anak Indonesia Berstatus Zero Dose, Ini Strategi Penanganannya

Sebanyak 2,3 juta anak Indonesia masih belum pernah mendapatkan imunisasi atau berstatus zero dose.

Wamenkes : 2,3 Juta Anak Indonesia Berstatus Zero Dose, Ini Strategi Penanganannya
Sebanyak 2,3 juta anak Indonesia masih belum pernah mendapatkan imunisasi atau berstatus zero dose.

INILAHKORAN.ID - Sebanyak 2,3 juta anak Indonesia masih belum pernah mendapatkan imunisasi atau berstatus zero dose, sebuah kondisi yang dinilai dapat mengancam kekebalan komunitas secara nasional.

Pemerintah, kini mengandalkan jaringan posyandu mempercepat pendataan dan penanganan kasus tersebut hingga ke tingkat paling bawah di masyarakat.

Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Dante Saksono Harbuwono menyebut, secara nasional masih terdapat sekitar 2,3 juta anak yang belum tersentuh imunisasi dasar. Kondisi itu menjadi pekerjaan rumah besar yang harus segera diselesaikan.

“Secara nasional masih ada sekitar 2,3 juta anak yang masih zero dose,” kata Dante Saksono Harbuwono, Selasa (12/5/2026).

Menurutnya, salah satu tantangan utama dalam memetakan anak zero dose adalah keterbatasan pendataan di lapangan. Meski setiap ibu sudah menerima buku kesehatan ibu dan anak atau buku pink sejak masa kehamilan, data tersebut tidak selalu termanfaatkan secara optimal.

Dia menjelaskan, buku tersebut sebenarnya sudah memuat catatan lengkap status imunisasi anak. Namun dalam praktiknya, buku tersebut kerap tidak dibawa atau tidak diperiksa secara rutin.

“Semua data sebenarnya sudah ada di buku pink itu, sudah ada contrengan apakah dia diimunisasi atau belum,” ucapnya.

Guna mengatasi hal tersebut, pemerintah memperkuat peran posyandu sebagai ujung tombak layanan kesehatan masyarakat. Saat ini terdapat sekitar 300 ribu posyandu di seluruh Indonesia yang tersebar hingga tingkat RW.

Dante menilai, jumlah tersebut sangat strategis menjangkau masyarakat secara langsung. Terutama jika dibandingkan dengan jumlah puskesmas yang sekitar 10 ribu unit.

“Kalau kita hanya mengandalkan puskesmas yang jumlahnya sekitar 10 ribu, itu tidak akan bisa menjangkau sampai ke ujung-ujung. Yang paling bisa sampai ke ujung-ujung adalah posyandu,” ujar dia.

Para kader posyandu, lanjutnya memiliki peran penting dalam mendeteksi bayi yang belum tercatat maupun belum mendapatkan imunisasi dasar. Mereka juga melakukan penyuluhan langsung kepada masyarakat di tingkat RT dan RW.

“Di sinilah peran posyandu sebagai ujung tombak masyarakat,” ucapnya.

Dia menambahkan, pendekatan berbasis komunitas tersebut diharapkan mampu menutup celah data anak zero dose yang selama ini tidak terdeteksi sistem.

Khusus di wilayah Jawa Barat, Dante menyebut masih terdapat sekitar 67 ribu anak zero dose. Angka tersebut sempat mencapai 122 ribu pada 2024, namun berhasil ditekan menjadi sekitar 40 ribu pada 2025.

Di Kota Bandung sendiri, terdapat sekitar 6.700 anak yang belum mendapatkan imunisasi dasar. “Kita harapkan dalam satu sampai dua tahun ke depan, angka itu bisa dibabat habis sehingga tidak ada lagi anak zero dose di Jawa Barat,” ujar dia.

Dante menegaskan, imunisasi bukan hanya persoalan individu. Tetapi berkaitan dengan perlindungan komunitas melalui herd immunity. Anak yang tidak diimunisasi tetap memiliki risiko menularkan penyakit kepada anak lain di sekitarnya.

“Kalau ada satu anak yang tidak diimunisasi, maka kita tidak bisa mengeliminasi penyakit tersebut. Kalaupun tertular, gejalanya lebih ringan,” tandasnya.***


Editor : JakaPermana