Warga Keluhkan Bau Limbah SPPG Bojonggebang Cirebon, Pengelola Membantah

Warga Bojonggebang, Babakan, Cirebon, mengeluhkan bau limbah SPPG. Pengelola membantah membuang limbah ke selokan dan berjanji mengecek ulang.

Warga Keluhkan Bau Limbah SPPG Bojonggebang Cirebon, Pengelola Membantah
Warga Bojonggebang, Babakan, Cirebon, mengeluhkan bau limbah SPPG. Pengelola membantah membuang limbah ke selokan dan berjanji mengecek ulang.

INILAHKORAN.ID– Warga di sekitar Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) 1 Desa Bojonggebang, Kecamatan Babakan, Kabupaten Cirebon, mengeluhkan dugaan pembuangan limbah sembarangan yang disebut telah berlangsung cukup lama.

Warga menduga limbah dibuang ke selokan hingga area jalan. Kondisi tersebut disebut menimbulkan bau menyengat yang mengganggu kenyamanan masyarakat di sekitar lokasi.

Sejumlah warga mengaku telah berulang kali menyampaikan keberatan. Namun, mereka menilai keluhan tersebut belum mendapatkan penanganan yang memadai dari pengelola SPPG.

Salah seorang warga, Ifan, mengatakan bau limbah sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. Ia mengaku telah beberapa kali menegur pihak terkait, tetapi belum mendapatkan respons seperti yang diharapkan.

“Kami sudah sangat terganggu. Baunya menyengat dan ini bukan baru sekali. Saya sudah beberapa kali menegur, tetapi seperti diabaikan. Kami tinggal di sini, jadi setiap hari kami yang merasakan dampaknya,” kata Ifan, Selasa (27/10/2026).

Ifan juga mengaku sempat memeriksa instalasi pengolahan air limbah (IPAL) di lokasi SPPG. Berdasarkan pengamatannya, ia menduga fasilitas tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

“Setelah saya cek, IPAL-nya diduga tidak berfungsi. Kalau IPAL berjalan dengan benar, pertanyaan kami sederhana, kenapa masih ada limbah dan bau yang dikeluhkan warga. Ini yang harus dijelaskan pengelola,” ujarnya.

Warga Minta Pengelolaan Limbah Dievaluasi

Keluhan serupa disampaikan warga lainnya, Lukman. Ia meminta pengelola SPPG tidak menganggap persoalan limbah sebagai masalah sepele karena berkaitan dengan kebersihan lingkungan dan kenyamanan masyarakat.

“Jangan karena menjalankan program untuk masyarakat, lingkungan sekitar justru dibuat tidak nyaman. Kami mencium baunya, kami melihat kondisinya dan kami yang tinggal di sini. Kalau memang pengelola merasa sudah benar, silakan buktikan pengelolaan limbahnya benar dan jangan sampai ada yang tercecer atau dibuang sembarangan,” kata Lukman.

Menurut Lukman, warga juga mengkhawatirkan kemungkinan dampak terhadap lingkungan dan kesehatan apabila persoalan tersebut tidak segera ditangani.

“Kami tidak mau menunggu sampai ada warga yang sakit baru semuanya sibuk. Persoalan limbah harus diselesaikan sekarang. Jangan sampai keluhan warga terus dianggap angin lalu,” tegasnya.

Warga lainnya, Ibu Nas, turut mengeluhkan kondisi lingkungan di sekitar SPPG. Ia menyebut gangguan bau semakin terasa pada malam hari. Menurut dia, warga menduga terdapat aktivitas pembuangan limbah ke area sekitar jalan maupun bagian belakang lokasi SPPG.

“Kami bukan melarang SPPG beroperasi. Silakan menjalankan kegiatannya, tetapi jangan mengorbankan warga sekitar. Kami juga punya hak mendapatkan lingkungan yang bersih dan tidak bau. Masa setiap hari kami harus menerima kondisi seperti ini,” katanya.

Ia meminta pengelola segera melakukan pembenahan dan memastikan seluruh limbah dialirkan ke sistem pengolahan yang semestinya.

“Kalau memang ada IPAL, gunakan dan pastikan berfungsi. Jangan ada lagi limbah yang dibuang sembarangan. Kami sudah cukup terganggu dan ingin ada tindakan nyata, bukan sekadar penjelasan,” ujarnya.

Kepala SPPG Bojonggebang Bantah Buang Limbah ke Selokan

Sementara itu, Kepala SPPG 1 Desa Bojonggebang, Dedi Utomo, membantah tudingan bahwa limbah dari kegiatan SPPG dibuang ke selokan maupun jalan.

Menurut Dedi, limbah yang dihasilkan dari kegiatan SPPG telah dialirkan melalui instalasi pengolahan air limbah yang tersedia.

“Tidak benar kalau limbah kami dibuang ke selokan, apalagi ke jalan. Semua limbah kami buang dan kelola melalui IPAL,” kata Dedi.

Meski membantah tudingan tersebut, Dedi menyatakan akan melakukan pengecekan kembali menyusul keluhan masyarakat.

“Kami akan cek ulang di lapangan. Kalau memang ada persoalan yang dikeluhkan warga, tentunya akan kami lihat dan evaluasi,” pungkasnya.

Keluhan warga dan bantahan pengelola tersebut menjadi dasar perlunya pemeriksaan kondisi saluran pembuangan serta fungsi IPAL di lokasi. Pemeriksaan langsung di lapangan diperlukan untuk memastikan sumber bau dan apakah pengelolaan limbah telah berjalan sebagaimana mestinya.***


Editor : JakaPermana