Waspada Kekerasan Seksual, Pelaku Didominasi Anak dan Pelajar
Kasus kekerasan seksual di Kabupaten Cirebon saat mulai meningkat. Para pelaku didominasi anak-anak dan pelajar.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Cirebon - Kasus kekerasan seksual di Kabupaten Cirebon saat mulai meningkat. Para pelaku didominasi anak-anak dan pelajar.
"Modus mereka, diawali melalui perkenalan di jejaring media sosial (Medsos)," kata Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak, Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Cirebon , Wiwin Winarni, Senin (9/3/2020).
Wiwin menjelaskan, pada tahun 2019 angka kekerasan terhadap perempuan jumlahnya mencapai 108 kasus. Kejadian ini, lanjutnya, menyasar para pelajar dengan jumlah mencapai 46 kasus. Modusnya, para pelaku berkenalan melalui jejaring media sosial dengan berbagai tipu daya.
"Ujungnya ya itu tadi, berakhir dengan perlakuan tindakan kekerasan. Para pelakunya diduga berkelompok, mereka tersebar dan bekerja secara terorganisir," ungkap Wiwin.
Mirisnya, kata Wiwin, latar belakang pendidikan pelaku cukup baik. Bahkan, ada yang mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi. Tercatat, Untuk pelaku yang bergelar S1 ada 14 kasus, S2 dan S3 masing-masing 1 kasus. Sementara untuk latar belakang pendidikan SMA 29 kasus, SMP 28 kasus, SD 13 kasus dan selebihnya mereka yang tidak teridentifikasi latar belakang pendidikannya, mencapai 21 kasus.
"Kalau dilihat dari usia pelaku, cukup mengagetkan. Karena ada dua kasus pelakunya masih berusia 6 sampai 12 tahun. Usia 13 sampai 18 tahun sebanyak 8 kasus, usia 19 sampai 24 tahun sebanyak 27 kasus," jelas Wiwin.
Sementara lanjutnya, kategori pelaku yang usianya 25 sampai 40 tahun ada sebanyak 47 kasus, dan untuk usia pelaku di atas 40 tahun sebanyak 24 kasus. Saat ini, DP2KBP3A Kabupaten Cirebon, terus berupaya untuk melakukan pencegahan karena Kabupaten Cirebon memiliki tujuan ingin mencapai Kabupaten layak anak.
“Kami banyak melakukan edukasi, ke sekolah-sekolah. Karena kebetulan di kita ada sekolah yang korbannya banyak. Kita pun langsung turun ke sekolah,” katanya.
Wiwin menambahkan, pihaknya telah memiliki jejaring hingga ke pedesaan. Hampir di setiap desa ada petugasnya. Mulai dari Satgas hingga Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM).
Selain sekolah juga, DP2KBP3A juga menyasar ke pesantren-pesantren dan puskesmas.
"Untuk Puskemas, ada Puskesmas Beber. Pelayanannya sudah maksimal, khususnya terkait dengan puskesmas layak anak. Hak-hak terhadap anak sudah terpenuhi. Disana ada berbagai fasilitasi seperti tempat bermainnya, ditambah dengan sarana konseling," tukasnya. (maman suharman)
Editor : JakaPermana


