Wastra Nusantara Menjelajah Panggung Dunia
BATIK dan wastra Nusantara tak lagi hanya dikenakan, tetapi juga diceritakan. Fesyen menjadi jembatan yang membawa budaya Indonesia ke dunia internasional.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Selembar kain tak lagi sekadar menjadi penutup tubuh. Di tangan para perancang busana, wastra Nusantara menjelma menjadi bahasa budaya yang mampu bercerita tentang identitas, sejarah, dan kekayaan Indonesia kepada dunia.
Karena itu, Menteri Kebudayaan Fadli Zon meyakini para desainer memiliki peran penting dalam membawa warisan budaya Indonesia melampaui batas negara. Bukan hanya sebagai pelaku industri fesyen, tetapi juga duta budaya yang memperkenalkan wastra Nusantara ke panggung internasional.
“Budaya berada di hulu, lalu ekonomi kreatif, pariwisata, dan lain-lain berada di hilir. Kita juga perlu untuk melakukan hilirisasi budaya kita, salah satunya adalah melalui tangan-tangan para perancang busana kita. Para perancang busana bisa membawa wastra kita, termasuk batik, di tengah-tengah peradaban dunia,” ujar Fadli Zon, seperti dikutip dari ANTARA, Rabu (5/8).
Menurut Fadli, wastra Nusantara kini telah berkembang menjadi bagian dari ekosistem ekonomi budaya. Batik, tenun, dan ragam kain tradisional lainnya tidak lagi hanya dipandang sebagai warisan leluhur, melainkan juga menjadi kekuatan industri kreatif yang memiliki nilai ekonomi sekaligus diplomasi budaya.
Dia mengapresiasi para perancang busana yang berhasil menghadirkan batik dalam berbagai bentuk karya modern. Kehadiran batik di panggung mode internasional, termasuk melalui pameran dan instalasi fesyen, dinilai menjadi cara efektif memperkenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat dunia.
Fadli berharap semakin banyak kolaborasi terjalin antara desainer Indonesia dan perancang busana mancanegara. Sinergi tersebut diyakini akan mempercepat pengenalan wastra Nusantara sebagai bagian dari fesyen global.
Semangat itu salah satunya ditunjukkan perancang busana Ivan Gunawan melalui pameran “Nusanova 2.0 Sekar Jagat” di Jakarta. Pameran tersebut mengajak pengunjung menikmati fesyen bukan sekadar sebagai produk, melainkan sebagai karya seni yang menyimpan proses kreatif panjang.
Melalui instalasi yang disajikan, publik diajak menyaksikan perjalanan selembar kain hingga menjelma menjadi busana. Dengan cara itu, setiap karya diharapkan tidak hanya dinikmati dari tampilannya, tetapi juga dipahami nilai budaya yang melatarbelakanginya. (gin)
Editor : Inilahkoran


