Wisata Tumbuh dari Potensi Lokal
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung - Pariwisata Kota Bandung tak hanya bertumpu pada kawasan yang sudah dikenal luas. Potensi di berbagai sudut kota terus digali melalui Kawasan Wisata Kreatif (KWK), dengan harapan pariwisata tumbuh bersama ekonomi masyarakat.
Bagi Pemerintah Kota Bandung, pengembangan kawasan wisata bukan sekadar menghadirkan tempat untuk dikunjungi. Setiap kawasan diharapkan mampu menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengembangkan produk kreatif, seni budaya, sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung Adi Junjunan Mustafa mengatakan sektor pariwisata memiliki kontribusi besar terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD). Setiap tahun, kontribusinya berada di kisaran 34 persen, terutama berasal dari pajak hotel, restoran, kafe, dan hiburan.
“Setiap tahun dihitung berapa sumbangan PAD dari pariwisata. Utamanya memang dari pajak hotel, pajak restoran, pajak kafe dan pajak hiburan, kurang lebih 34 persen,” kata Adi, seperti dikutip dari ANTARA, Selasa (29/9).
Potensi tersebut menjadi salah satu alasan Pemkot Bandung mengembangkan delapan KWK. Kawasan itu meliputi KWK Cigadung, Braga, Rajut Binong, Terpadu Gedebage, Literasi Cinambo, Kawasan Tekstil Cigondewah, Pasirkunci, serta Cibaduyut.
Masing-masing kawasan memiliki karakter berbeda. Ada yang bertumpu pada seni dan budaya, sejarah, ekonomi kreatif, hingga produk unggulan masyarakat.
Perbedaan karakter itu menjadi modal untuk menghadirkan pengalaman wisata yang tidak seragam. Kawasan tidak hanya menjadi etalase, tetapi juga ruang bagi potensi lokal untuk tumbuh dan dikenal lebih luas.
“Pengembangan pariwisata tidak dapat hanya menjadi tanggung jawab satu perangkat daerah karena membutuhkan dukungan dari berbagai sektor,” ujarnya.
Sebab, perjalanan menuju sebuah kawasan wisata tidak berhenti pada daya tariknya. Infrastruktur, penerangan jalan, ruang publik hingga kelancaran lalu lintas ikut menentukan kenyamanan pengunjung.
“Kalau jalan menuju kawasan wisata bagus, lampu penerangan jalannya juga bagus dan terang, kemudian kemacetan bisa dihindari, itu semuanya membutuhkan kolaborasi,” katanya.
Karena itu, Adi mengajak para pelaku KWK memanfaatkan ruang publik dan pusat keramaian sebagai tempat memperkenalkan potensi kawasan kepada masyarakat.
Pemerintah, pelaku usaha, komunitas, seniman, budayawan, dan warga diharapkan dapat berjalan bersama. Dengan kolaborasi itu, delapan kawasan wisata kreatif bukan hanya menjadi destinasi berkarakter, tetapi juga membuka ruang agar manfaat ekonomi pariwisata kembali dirasakan masyarakat. (gin)
Editor : Inilahkoran

