Yantie Rachim Jenguk Dua Korban Kebakaran Tegallega

Ketua TP-PKK yang juga Istri Wali Kota Bogor Yantie Rachim dua korban luka kebakaran di Babakan Sirna, Kelurahan Tegallega yang masih menjalani perawatan.

Yantie Rachim Jenguk Dua Korban Kebakaran Tegallega
Ketua TP-PKK yang juga Istri Wali Kota Bogor Yantie Rachim dua korban luka kebakaran di Babakan Sirna, Kelurahan Tegallega yang masih menjalani perawatan./Rizki Mauludi

INILAHKORAN.ID - Ketua TP-PKK yang juga Istri Wali Kota Bogor Yantie Rachim dua korban luka kebakaran di Babakan Sirna, Kelurahan Tegallega yang masih menjalani perawatan intensif di RS PMI Kota Bogor pada Jumat 06 Maret 2026.

Update terbaru keduanya mengalami luka bakar cukup serius pada seluruh bagian tubuh.

Yantie Rachim didampingi jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kota Bogor menjenguk dua korban di rumah sakit. Bahkan Yantie memberikan bantuan kepada kedua korban.

"Saya didampingi oleh Ibu Kadinkes, dokter-dokter dari RS PMI, serta Pak Camat, Pak Lurah dan jajaran perangkat daerah. Kami berada di RS PMI untuk mengunjungi korban kebakaran tadi malam yang berlokasi di Babakan Sirna RW 09/RT 03, Kelurahan Tegallega. Ada tiga korban dalam kejadian ini seorang balita berusia 1 tahun 4 bulan yang meninggal dunia, serta seorang nenek berusia 47 tahun dan seorang anak berusia 8 tahun," ungkap Yantie kepada wartawan. 

Yantie memaparkan, saat kebakaran terjadi, ibu dari anak-anak ini sedang bekerja sehingga tidak berada di rumah. 

"Pertama-tama, saya ingin mengucapkan turut berbela sungkawa sedalam-dalamnya atas meninggalnya balita dari Putry akibat kejadian tersebut.bSetelah kami tinjau, korban selamat mengalami luka bakar yang sangat serius. Sang nenek mengalami luka bakar sekitar 70-80%, sedangkan sang anak sekitar 60-70%. Kami bersama tim dokter dari PMI akan terus melakukan observasi dan pendampingan," paparnya. 

"Kemungkinan akan ada tindakan operasi untuk anak tersebut, sementara untuk sang nenek harus dirujuk ke rumah sakit di Jakarta agar mendapatkan penanganan yang lebih optimal. Saya mengimbau seluruh warga Bogor untuk selalu berhati-hati terhadap barang-barang berisiko tinggi di dalam rumah, seperti gas elpiji, instalasi listrik, dan barang elektronik lainnya," jelas Yantie. 

Yantie menjelaskan, terkait bantuan, Pemkot Bogor telah memberikan bantuan berupa natura atau ebutuhan pokok dan uang duka cita kepada korban

"Kami juga membantu mengurus pembiayaan BPJS Kesehatan yang sempat terkendala. Selain itu, jika mereka sudah sembuh dan bisa pulang, kami sudah menyiapkan hunian sementara (kontrakan) di dekat rumah lama mereka yang bisa ditinggali selama tiga bulan," jelasnya. 

Yantie juga memaparkan, dirinya sempat mengobrol dengan ibu. Sebagai seorang ibu, pastinya sangat menderita melihat anaknya dalam keadaan sakit karena luka bakar, ditambah lagi beliau adalah tulang punggung keluarga. 

Ditempat yang sama, Kepala Dinas Kesehatan, Erna Nurena memaparkan, terkait pembiayaan rumah sakit, pasien ini adalah peserta BPJS Mandiri yang kebetulan memiliki tunggakan dan dikenai denda pelayanan. 

"Alhamdulillah, hari ini masalah tersebut sudah kita selesaikan. Jadi, untuk proses pembiayaaan, baik pasien anak di RS PMI maupun pasien nenek yang nanti akan dirujuk ke Jakarta, semuanya sudah selesai dan dijamin oleh BPJS. Pihak Kecamatan dan Kelurahan juga akan terus mendampingi. Selain fokus pada dua pasien yang dirawat di rumah sakit, kami juga akan memperhatikan kondisi psikologis Ibu Fitri yang nantinya akan didampingi oleh pihak Puskesmas untuk terapi psikologis," bebernya. 

Ditempat yang sama, Direktur Pelayanan Medis RS PMI, dr. Firmansyah Abdi menuturkan, dari pihak RS PMI menyampaikan kondisi kedua pasien secara lebih detail. Kondisi sang nenek yang saat ini berada di ruang intensif mengalami luka bakar tingkat dua (grade 2) dengan luas 80%. Dengan kondisi tersebut, ditambah adanya kecurigaan trauma atau cedera pada saluran napas, perawatan terbaik yang dibutuhkan pasien harus dilakukan di rumah sakit tipe A. 

"Karena di Bogor belum ada rumah sakit tipe A, kami sudah berkoordinasi dan mencoba memproses rujukan ke rumah sakit besar di Jakarta, seperti RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), RS UI, atau RS Persahabatan. Sementara untuk sang anak yang sekarang dirawat di Ruang Mawar, penanganannya sudah dipegang oleh dokter bedah plastik yang akan merencanakan operasi pembersihan luka dan penggantian perban," jelasnya.

"Namun, sebelum tindakan itu dilakukan, kami harus memperbaiki kondisi umumnya terlebih dahulu dengan mengganti cairan dan mineral yang hilang akibat luka bakar. Oleh karena itu, anak tersebut sementara akan dirawat secara lebih intensif di ruang intensif anak (PICU)," tegas Firman.***


Editor : JakaPermana