12 Tahun Jalan Rusak Diabaikan, Warga Desa Luwungkencana Protes Bangun Kuburan dan Boneka Pocong

Warga Desa Luwungkencana, Kecamatan Susukan, Kabupaten Cirebon kembali menyuarakan kekecewaannya terhadap pemerintah atas kondisi jalan rusak parah yang tak kunjung diperbaiki. 

12 Tahun Jalan Rusak Diabaikan, Warga Desa Luwungkencana Protes Bangun Kuburan dan Boneka Pocong
Kali ini, bukan dengan spanduk atau aksi demo seperti biasa melainkan dengan cara yang unik dan menggelitik. Warga Desa Luwungkencana membuat replika kuburan lengkap dengan boneka pocong berkacamata di tengah jalan. (tangkapan layar)

INILAHKORAN, Cirebon - Warga Desa Luwungkencana, Kecamatan Susukan, Kabupaten Cirebon kembali menyuarakan kekecewaannya terhadap pemerintah atas kondisi jalan rusak parah yang tak kunjung diperbaiki. 

Kali ini, bukan dengan spanduk atau aksi demo seperti biasa melainkan dengan cara yang unik dan menggelitik. Warga Desa Luwungkencana membuat replika kuburan lengkap dengan boneka pocong berkacamata di tengah jalan.

Aksi warga Desa Luwungkencana tersebut langsung menyita perhatian warganet setelah diunggah ke grup Facebook Komunitas Orang Cirebon (KOCI) oleh akun Dian Kusdianto.

Dalam unggahannya, Dian menulis: "Jalan yg dulu sempat viral dan heboh, kini jalan tsb dihebohkan lagi dengan munculnya pocong di siang hari...
Cat: Disidak PJ Bupati dan jajarannya sdh, dan kini kabarnya jln tsb molor dari janji yg sdh ditetapkan...
Lok: Desa Ujunggebang Luwing-di Ds Ujunggebang Kec Susukan Kab Cirebon."

Unggahan itu langsung mendapat respons besar, dengan lebih dari 335 suka dan 68 komentar hanya dalam beberapa jam. Beberapa komentar justru menyindir kondisi politik dan kinerja pemerintah daerah dengan gaya satir dan bahasa Cirebonan yang tajam.

Akun Gandhi Leiwakabessy, menulis: "Poconge di Pai Kumis kang Kandel, bari kacamata ambisan persis kaya bupatie." (Pocongnya dikasih kumis yang tebal dan kacamata supaya mirip sama bupatinya).

Sementara akun Szmarno Marno menyindir perhitungan anggaran pemerintah, "Lamun dalane d beresi d itung" ng wong kaene kah Ika luwiane je." (Kalau jalannya diberesin dan dihitung-hitung, orangnya itu nggak akan dapat lebihannya).

Kritik juga disampaikan oleh akun Afif Zufri yang menduga proyek jalan tersebut masih mandek di tahap lelang, "Lelange durung prgata pragat kyae sih mang onoe." (Lelangnya belum selesai-selesai sepertinya ya, Mang Ono).

Sementara akun Syueb Osam menyentil partai politik penguasa, "Mantep wong Cirebon ora salah pilih PDIP terbaik di Kabupaten Cirebon." (Mantap, orang Cirebon nggak salah pilih, PDIP terbaik di Kabupaten Cirebon).

Dan komentar paling tajam datang dari akun Wa Arnold yang menulis "Pemerintah baka gawe fasilitas go dewek gage gerak cepat... Ari Anggo masyarakat dadak' mente jele kaken ini itu!!! TEMBELEK" (Pemerintah kalau bangun fasilitas untuk sendiri cepat banget, tapi kalau untuk masyarakat malah banyak alasan! Memalukan!)

Kondisi jalan Luwung Kencana-Ujunggebang ini memang sudah lama dikeluhkan. Selama 12 tahun, warga harus bertahan dengan jalan yang rusak parah, becek di musim hujan, dan berdebu saat kemarau.

Seperti diketahui, pada awal Januari 2025, warga sempat menggelar aksi unjuk rasa. Sehari setelahnya, pada Sabtu 4 Januari 2025, Pj Bupati Cirebon Wahyu Mijaya, bersama Kapolresta Cirebon Kombes Pol Sumarni, dan Ketua DPRD Kabupaten Cirebon Shopi Zulfia meninjau langsung kondisi jalan tersebut.

Dalam kesempatan itu, Wahyu Mijaya menyampaikan bahwa perbaikan jalan secara permanen dengan betonisasi membutuhkan waktu cukup lama, karena harus menempuh proses lelang. 

"Revitalisasi permanen akan dilelang terlebih dahulu, dan kemungkinan pengerjaannya baru bisa dimulai pada awal Maret 2025,” tegasnya kepada awak media.

Namun kenyataan di lapangan berkata lain. Hingga pertengahan Juli 2025, pengerjaan belum juga dimulai. Berdasarkan penelusuran melalui situs resmi LPSE Kabupaten Cirebon paket peningkatan jalan Bunder–Luwung Kencana belum memiliki nilai kontrak. Artinya, proses lelang masih belum rampung atau bahkan belum berjalan.

Aksi meletakkan pocong berkacamata di tengah jalan rusak bukan sekadar lucu-lucuan. Bagi warga, itu adalah simbol nyata atas “matinya kepedulian pemerintah” terhadap rakyat kecil.

Warga sudah terlalu lama bersabar. Mereka tidak menuntut hal muluk-muluk, hanya sekadar jalan layak untuk aktivitas sehari-hari. Tapi janji demi janji yang disampaikan pemerintah belum kunjung terealisasi, sementara anggaran dan proyek lain terus bergulir. 


Editor : Doni Ramdhani