172 dari 400 Spesimen Positif Influenza, Netty Prasetiyani Minta Masyarakat Waspada

Netty Prasetiyani mengingatkan kewaspadaan terhadap influenza setelah 172 dari 400 spesimen terdeteksi positif berdasarkan surveilans Kemenkes.

172 dari 400 Spesimen Positif Influenza, Netty Prasetiyani Minta Masyarakat Waspada
Netty Prasetiyani mengingatkan kewaspadaan terhadap influenza setelah 172 dari 400 spesimen terdeteksi positif berdasarkan surveilans Kemenkes. (Dok Inilah)

INILAHKORAN.ID - Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher, mengingatkan pentingnya memperkuat kewaspadaan terhadap influenza di tengah pemantauan aktivitas virus yang masih berlangsung di Indonesia.

Berdasarkan laporan surveilans Kementerian Kesehatan periode 18–24 Oktober 2026, sebanyak 172 dari 400 spesimen yang diperiksa terdeteksi positif influenza.

Meski proporsi hasil positif menurun dibandingkan minggu sebelumnya, pemantauan dan upaya pencegahan tetap perlu dilakukan secara konsisten.

“Data ini perlu menjadi pengingat bahwa kewaspadaan terhadap influenza harus terus dijaga. Kita tidak perlu panik, tetapi pencegahan dan deteksi dini jangan sampai diabaikan,” ujar Netty, dalam keterangan persnya, Senin (26/10/2026).

Dia menekankan, anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat dengan penyakit penyerta memerlukan perhatian khusus. 

Netty mendorong agar edukasi mengenai gejala influenza, etika batuk dan bersin, kebersihan tangan, serta penggunaan masker ketika sakit terus diperkuat.

“Sekolah dan keluarga memiliki peran penting dalam pencegahan. Anak-anak perlu dibiasakan menjaga kebersihan, sementara orang tua harus peka terhadap perubahan kondisi kesehatan anak dan tidak memaksakan mereka beraktivitas ketika sedang sakit,” jelasnya.

Politisi PKS ini juga meminta agar kesiapan Puskesmas dan rumah sakit terus diperhatikan. "Kemudahan akses pemeriksaan, ketepatan penanganan, dan sistem rujukan yang berjalan baik diperlukan agar pasien yang membutuhkan pertolongan dapat segera ditangani," katanya.

"Kita juga membutuhkan informasi yang akurat, edukasi yang mudah dipahami, dan layanan kesehatan yang siap. Penggunaan obat, termasuk antivirus, harus berdasarkan penilaian tenaga medis, bukan karena kepanikan atau mengikuti informasi yang belum terverifikasi,” tegasnya. ***


Editor : Gin gin T Ginulur