Netty Prasetiyani Harap Program MBG Tepat Sasaran, Guna Intervensi Prevalensi Stunting di Jabar

Program makan bergizi gratis (MBG) yang digagas pemerintah pusat tidak hanya menyasar para pelajar, tetapi juga ibu hamil, ibu menyusui dan balita.

Netty Prasetiyani Harap Program MBG Tepat Sasaran, Guna Intervensi Prevalensi Stunting di Jabar
Netty Prasetiyani mengatakan, program MBG yang ditargetkan mampu menjangkau 19 juta penerima dengan tujuan menurunkan angka stunting, diharapkan mampu terealisasi. (yuliantono)

INILAHKORAN, Bandung - Program makan bergizi gratis (MBG) yang digagas pemerintah pusat tidak hanya menyasar para pelajar, tetapi juga ibu hamil, ibu menyusui dan balita.

Keputusan ini disambut baik Anggota Komisi IX DPR Netty Prasetiyani Heryawan yang mengharapkan program MBG ini dapat tepat sasaran, sehingga mampu mengintervensi prevalensi stunting khususnya di Provinsi Jawa Barat.

Netty Prasetiyani mengatakan, program MBG yang ditargetkan mampu menjangkau 19 juta penerima dengan tujuan menurunkan angka stunting, diharapkan mampu terealisasi.

Mengingat prevalensi stunting di Jabar masih di angka 21 persen, dengan target pada 2024 tereliminasi setidaknya di angka 14 persen guna menuju zero new stunting di 2030.

"Kami mendukung penuh program ini, namun perlu evaluasi menyeluruh untuk memastikan efektivitas dan pemerataan, khususnya di daerah tertinggal, terpencil, dan perbatasan (3T)," ujar Netty Prasetiyani usai kegiatan Reses Perseorangan di kediamannya, Jalan Pasir Impun, Kota Bandung, Senin malam 6 Januari 2024.

Netty Prasetiyani menjelaskan, ada tiga fokus utama dalam program tersebut diantaranya pemenuhan gizi. Program ini harus memenuhi standar gizi yang ditetapkan Kementerian Kesehatan agar benar-benar meningkatkan status gizi masyarakat.

Selanjutnya, pemerataan sehingga tidak hanya di perkotaan, tetapi juga menjangkau wilayah 3T agar semua lapisan masyarakat merasakan manfaat program ini.

"Kemudian fokus pada keamanan pangan sehingga proses produksi, pengolahan, hingga distribusi makanan harus dijaga agar tetap aman dan berkualitas tinggi," ucapnya.

Netty Prasetiyani juga menyoroti, akan pentingnya pendampingan edukasi dan literasi gizi bagi masyarakat.

"Makanan bergizi ini hanya diberikan sekali sehari, namun masyarakat harus dibimbing untuk membangun pola makan sehat sehari-hari," kata Netty Prasetiyani.

Program MBG ini sendiri bersumber dari APBN 2025 sebesar Rp71 triliun yang mencakup pemeriksaan kesehatan, edukasi gizi dan dukungan manajemen. 

Sebagian besar pendanaan akan digunakan untuk penyediaan makanan bergizi, sementara Rp3 triliun dialokasikan untuk pemeriksaan kesehatan 10 juta masyarakat.

Netty juga mendorong evaluasi menyeluruh oleh Badan Gizi Nasional (BGN), setelah pelaksanaan program selama beberapa hari hingga pekan pertama. 

"Evaluasi ini harus melibatkan seluruh pihak yang berkontribusi, seperti Kodim, pesantren, LSM, hingga masyarakat setempat, agar program ini tepat sasaran dan memenuhi komitmen Presiden," tegas Netty.

Dia berharap program ini menjadi tonggak awal dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045 dengan generasi yang sehat dan berkualitas. 

"Mari kita kawal bersama program ini agar menjadi solusi nyata bagi peningkatan status gizi masyarakat Indonesia," tutupnya. 


Editor : Doni Ramdhani