776 Anak di Cimahi Putus Sekolah, Ngatiyana: 525 Ikut Program Kesetaraan
Pemkot Cimahi terus berupaya memutus rantai anak putus sekolah atau ATS dengan cara menggulirkan program kesetaraan
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Persoalan anak putus sekolah masih menjadi tantangan serius bagi Pemerintah Kota Cimahi, dengan data terbaru menunjukkan sebanyak 776 anak usia sekolah tercatat belum mengakses layanan pendidikan formal maupun nonformal.
Kendati demikian, melalui program pendidikan kesetaraan, sebanyak 525 anak putus sekolah di antaranya telah berhasil kembali ke jalur pendidikan, sementara sekitar 200 anak lainnya masih menjadi fokus pendekatan pemerintah.
"Setelah pendeteksian dan identifikasi di masyarakat, ditemukan sekitar 776 orang anak putus sekolah. Namun, sudah ada 525 yang melanjutkan melalui paket A, B, dan C," kata Wali Kota Cimahi, Ngatiyana, Rabu 11 Februari 2026.
Tak cuma itu, Ngatiyana menyebut, pihaknya terus mendorong sisanya agar segera kembali bersekolah melalui berbagai jalur yang tersedia, termasuk Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang menyelenggarakan pembelajaran daring maupun tatap muka, salah satunya di wilayah Cipageran.
"Kita harus memastikan semua anak bisa sekolah. Untuk pembiayaan, telah disiapkan anggaran termasuk Bantuan Operasional Pendidikan (BOP)," tegasnya.
Tak cuma itu, Ngatiyana menilai, unsur Guru Tenaga Kependidikan (GTK) Jawa Barat, dan Forkopimda Kota Cimahi berperan sebagai forum strategis untuk menyusun arah kebijakan dan penganggaran program pendidikan tahun depan.
"Kita telah membahas program-program yang akan dilakukan, yang nantinya akan diintegrasikan dengan Musrenbang tingkat kecamatan dan menjadi bagian dari RPJMD tahun 2027," ujarnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Cimahi, Juli Suprijadi, menjelaskan faktor penyebab anak putus sekolah di Cimahi tergolong kompleks, dengan pendataan menyeluruh dilakukan bersama aparat kewilayahan hingga tingkat RT/RW.
"Sebagian besar, sekitar 28-38 persen, tidak bersekolah karena tidak mau, dipicu oleh keinginan bermain atau minim motivasi belajar," jelasnya.
Selanjutnya, faktor ekonomi menjadi penyebab kedua, diikuti alasan lain seperti pernikahan dini dan keharusan bekerja.
"Sebagian besar anak yang tidak sekolah (ATS) berasal dari jenjang transisi, yakni lulusan SD yang tidak melanjutkan ke SMP atau lulusan SMP yang tidak melanjutkan ke SMA, dengan target pendidikan wajib minimal 12 tahun atau lulus SMA," tandasnya. ***
Editor : Ahmad Sayuti

