976 Jiwa Terdampak Banjir di Kabupaten Bogor

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat mencatat, total ada sekitar 258 rumah dan bangunan sekolah yang terendam banjir akibat meluapnya air Sungai Cimanceri, Kabupaten Bogor.

976 Jiwa Terdampak Banjir di Kabupaten Bogor
"Data sementara, ada 258 bangunan yang terdampak banjir," ujar Pranata Humas Ahli Muda BPBD Jabar Hadi Rahmat, Senin 3 Maret 2025. (antara)

INILAHKORAN, Bandung - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat mencatat, total ada sekitar 258 rumah dan bangunan sekolah yang terendam banjir akibat meluapnya air Sungai Cimanceri, Kabupaten Bogor.

Ratusan rumah itu tersebar di Desa Sukasari, Desa Rawapanjang dan Desa Tugu Selatan.

"Data sementara, ada 258 bangunan yang terdampak banjir," ujar Pranata Humas Ahli Muda BPBD Jabar Hadi Rahmat, Senin 3 Maret 2025.

Selain itu, ada enam jiwa di Desa Sukasari dan 547 jiwa di Desa Rawapanjang yang terdampak banjir serta 423 jiwa di Desa Tugu Selatan yang terdampak banjir

"Satu orang atas nama Asep Mulyana (59) asal Desa Citeko yang dinyatakan hilang terbawa arus," ucapnya.

Hadi mengimbau, agar masyarakat tetap waspada terkait potensi bencana hidrometeorologi akibat cuaca ekstrem. Berdasarkan data yang diterimanya, potensi hujan masih terus terjadi di wilayah Jabar. 

"Dari informasi yang didapatkan BPDB, Jabar masih dalam periode musim hujan," katanya. 

Selain peristiwa banjir, Kabupaten Bogor juga diterpa bencana alam longsor di Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua. Kemudian, Desa Kuta, Kecamatan Megamendung, Desa Cimandala, Kecamatan Sukaraja, Desa Harkatjaya Kecamatan Sukajaya, Desa Tanjungsari, Kecamatan Cijeruk dan Desa Mekarjaya, Kecamatan Ciomas.

Hadi memastikan, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa bencana alam ini.

"Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa longsor, korban terdampak ada di dua KK dan sembilan jiwa di Kelurahan Harkatjaya, Kelurahan Mekarjaya satu KK dan tiga jiwa," ucapnya.

Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, menyampaikan keprihatinannya atas bencana yang terjadi, terutama terkait meluapnya Sungai Jayanti di Kabupaten Bogor yang mengakibatkan banjir dan merendam pemukiman warga.

"Saya belum mengetahui secara pasti penyebab utama meluapnya Sungai Jayanti, namun hal ini perlu segera dikaji agar solusi yang tepat dapat diambil," ujar Dedi Mulyadi, dikutip Senin (3/3/2025).

Namun, ia menegaskan bahwa alih fungsi lahan di kawasan Puncak Bogor harus segera dihentikan demi menjaga keseimbangan ekosistem dan mencegah bencana lebih lanjut.

"Berdasarkan data yang kami miliki, lebih dari seribu hektare lahan perkebunan teh di Puncak telah beralih fungsi. Ini menjadi perhatian serius karena berpotensi memperburuk kondisi lingkungan," katanya.

Dedi berencana berkoordinasi dengan pihak terkait, seperti PTPN dan Perhutani Jabar, untuk mengembalikan fungsi konservasi lahan yang telah berubah.

"Kita tidak boleh hanya memikirkan keuntungan ekonomi jangka pendek. Sejak zaman kolonial, Belanda menanam teh di kawasan ini bukan hanya untuk produksi, tetapi juga sebagai bagian dari upaya konservasi lingkungan dan perlindungan lahan," tandasnya. 


Editor : Doni Ramdhani