Abu Bahaya, Warga Waspada
DI balik rutinitas harian, muncul ancaman tak kasat mata yang mengintai setiap helaan napas warga. Tak ada cara selain waspada.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh : Maman Suharman
Nunung Nurohman
Udara di Jawa Barat akhir-akhir ini sedang tidak bersahabat. Sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau mengancam sektor kesehatan masyarakat.
Menyikapi kondisi ini, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon, Eni Suhaeni, mengetuk kesadaran masyarakat untuk saling menjaga diri.
Menurutnya, abu vulkanik bukan sekadar debu biasa. Partikelnya yang teramat tipis dan tajam bisa dengan mudah menyelinap ke saluran pernapasan, mata, hingga mengiritasi kulit.
“Abu vulkanik ini bisa berdampak langsung pada napas, mata, dan kulit kita. Kita semua perlu lebih waspada saat beraktivitas,” ujar Eni, Senin (7/9).
Bagi mereka yang harus mengais rezeki atau beraktivitas di luar ruangan, butiran abu halus ini bisa memicu batuk, radang tenggorokan, hingga sesak napas. Kondisi ini tentu menjadi alarm bahaya, terutama bagi anak-anak, lansia, dan warga yang memang sudah memiliki riwayat penyakit asma atau gangguan paru-paru.
Tak hanya membuat napas terasa berat, abu yang hinggap di mata bisa memicu kemerahan dan rasa perih yang mengganggu penglihatan. Sementara pada kulit, gesekan partikel abu yang tajam berisiko memicu gatal-gatal hingga infeksi jika tidak segera ditangani.
Mengingat risiko yang tidak sepele ini, Dinkes Cirebon meminta warga untuk tidak mengabaikan gejala-gejala tubuh yang mulai melemah.
“Jika sudah mulai merasa sesak napas yang berat, nyeri dada, pandangan mulai terganggu, atau gejala fatal lainnya, tolong jangan ditunda. Segera datang ke fasilitas kesehatan terdekat,” pesan Eni penuh harap.
Masyarakat di wilayah terdampak disarankan tetap berada di dalam rumah dan membatasi aktivitas di luar ruangan. Jika terpaksa keluar, warga diminta menggunakan masker berstandar perlindungan tinggi, seperti N95 atau KN95, serta mengenakan kacamata pelindung.
Warga juga disarankan mengenakan pakaian berlengan panjang dan sepatu tertutup untuk mengurangi kontak langsung antara abu vulkanik dan permukaan kulit.
Sebagai langkah perlindungan, Pemerintah Kabupaten Cirebon akan segera menerbitkan Surat Edaran (SE) Bupati mengenai kesiapsiagaan menghadapi dampak erupsi dan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
“Kami akan segera membuat SE Bupati tentang kesiapsiagaan dan perlindungan masyarakat dari dampak erupsi serta sebaran abu vulkanik,” ucap Eni.
Tasikmalaya Waspada Sementara itu, Pemerintah Kota Tasikmalaya mulai menyiapkan langkah antisipasi terhadap potensi dampak sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.
Meski hingga kini wilayah Kota Tasikmalaya belum terdampak langsung sebaran abu vulkanik, Pemkot Tasikmalaya telah melakukan koordinasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD), termasuk BPBD, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, dan Dinas Lingkungan Hidup.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Tasikmalaya Budi Martanova mengatakan, langkah tersebut dilakukan sebagai tindak lanjut surat edaran Gubernur Jawa Barat mengenai antisipasi dampak erupsi Gunung Anak Krakatau.
“Kita mendapat surat edaran dari Pak Gubernur dan sudah disampaikan ke Pak Wali untuk semuanya tetap terkoordinasikan antara BPBD, Dinkes, Dinas Pendidikan, dan juga Dinas Lingkungan Hidup,” kata Budi, Senin (7/9).
Menurutnya, koordinasi diperlukan untuk mengantisipasi apabila aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau nantinya berdampak terhadap wilayah Kota Tasikmalaya.
Budi menyebut, BPBD Kota Tasikmalaya juga mengikuti rapat secara daring bersama BPBD Provinsi Jawa Barat yang dipimpin Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat. Dalam pertemuan tersebut, sejumlah daerah diminta tetap melakukan langkah antisipasi meski belum terdampak.
“Salah satunya kita mungkin koordinasikan dengan Dinkes, apakah kita perlu mempersiapkan masker atau tidak, karena yang terdampak saat ini masih sampai di beberapa wilayah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, berdasarkan informasi yang diterima BPBD, wilayah Priangan Timur hingga saat ini belum terdampak sebaran abu vulkanik.
Secara teknis, kata Budi, arah angin menjadi salah satu faktor yang menentukan wilayah yang berpotensi terdampak sebaran abu vulkanik.
“Wilayah Priangan Timur belum (terdampak), tapi kita tetap mengantisipasi,” katanya. (bsf)
Editor : Inilahkoran

