Jejak Lima Pewarta dan Misteri Selat Sunda
LIMA pewarta foto berangkat mengejar gambar Gunung Anak Krakatau. Kini, jejak mereka justru dicari di luasnya Selat Sunda.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Selat Sunda masih menyimpan jejak yang belum ditemukan. Lima pewarta foto yang berangkat untuk mengabadikan aktivitas Gunung Anak Krakatau kini justru menjadi bagian dari pencarian tak berujung.
Mereka datang membawa kamera, peralatan kerja, dan satu tujuan: merekam aktivitas gunung api yang sedang menjadi perhatian. Laut menjadi jalan yang harus ditempuh, sementara lensa kamera menjadi alat untuk membawa cerita dari tengah Selat Sunda kembali ke daratan.
Namun, perjalanan itu terputus. Speedboat yang membawa lima jurnalis dan tiga orang lainnya kehilangan kontak di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau. Hingga Rabu (9/9), delapan orang di dalam kapal tersebut masih belum ditemukan.
Lima jurnalis itu adalah M. Bagus Khoirunnas dari Kantor Berita ANTARA, Ari Basuki dari Merdeka.com, Yudistiro Pranoto dari iNews, Firman Daus dari Anadolu Agency, serta Donal yang merupakan jurnalis lepas. Tiga orang lainnya yakni Warta sebagai kapten kapal, Surakman sebagai anak buah kapal, dan Heriyanto sebagai pemandu.
Mereka berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang, menggunakan speedboat Arupadhatu 1 sekitar pukul 14.00 WIB. Tujuannya kawasan Gunung Anak Krakatau.
Sekitar 42 menit kemudian, sebuah jejak terakhir masih sempat dikirimkan. Salah satu anggota rombongan membagikan titik lokasi kepada Putra M Akbar, anggota Pewarta Foto Indonesia (PFI) yang berada di Lampung.
Titik itu menunjukkan posisi mereka berada di antara Carita dan Gunung Anak Krakatau. Setelah itu, laut seolah menutup pintu komunikasi.
Informasi mengenai keberadaan rombongan menjadi samar setelah titik lokasi terakhir dibagikan. Upaya menghubungi mereka dilakukan, tetapi tidak mendapatkan jawaban.
Dalam laporan lain yang mengacu pada kronologi Basarnas, komunikasi terakhir dengan rombongan tercatat pada pukul 14.42 WIB. Setelah itu, keberadaan kapal tidak lagi dapat dipastikan hingga akhirnya rombongan dinyatakan hilang kontak.
Kepala Kantor SAR Banten Al Amrad mengatakan pencarian kemudian diperluas dengan mempelajari rute perjalanan dari Carita menuju kawasan Anak Krakatau.
“Kita memperluas area pencarian karena hari ini kita mempelajari rute dari Carita sampai dengan Anak Gunung Krakatau,” kata Al Amrad, Rabu (9/9).
Pencarian bukan perkara sederhana. Selat Sunda merupakan perairan terbuka dengan kondisi yang dapat berubah. Di kawasan sekitar Anak Krakatau, operasi pencarian juga berlangsung di tengah paparan abu vulkanik dan kondisi gelombang yang menjadi tantangan bagi personel SAR.
Tim pencari kemudian menyisir sejumlah wilayah yang diperkirakan berkaitan dengan jalur perjalanan speedboat. Pulau Rakata, Pulau Panjang, hingga kawasan perairan lainnya menjadi bagian dari pencarian.
Hari pertama pencarian belum memberikan hasil. Operasi kemudian dilanjutkan dengan memperluas area penyisiran. Sejumlah kapal dan peralatan SAR dikerahkan, termasuk KN SAR Tetuka 247, RIB, KAL Anyer, serta drone thermal.
Unsur Basarnas, Polairud, TNI, Polri, pemerintah daerah, nelayan dan masyarakat ikut terlibat dalam operasi tersebut.
Di daratan, pencarian memiliki wajah lain. Ada keluarga yang menunggu. Ada rekan kerja yang terus memantau telepon. Ada ruang redaksi yang menantikan kabar. Ada pula komunitas pewarta foto yang bergerak mengawal pencarian.
Lima nama yang biasanya muncul di daftar penugasan kini menjadi nama yang disebut dalam operasi SAR. M Bagus Khoirunnas, Ari Basuki, Yudistiro Pranoto, Firman Daus dan Donal. Mereka berangkat untuk bekerja. Tidak ada yang mengetahui, perjalanan jurnalistik tersebut akan berubah menjadi pencarian besar di tengah laut.
Pewarta Foto Indonesia kemudian memperkuat koordinasi bersama PFI Jakarta dan PFI Tangerang untuk membantu proses pencarian dan evakuasi.
Ketua Umum PFI Pusat Dwi Pambudo menegaskan bahwa keselamatan para jurnalis dan kru kapal menjadi perhatian utama organisasi.
“Keselamatan rekan-rekan jurnalis di lapangan adalah prioritas tertinggi yang tidak bisa ditawar,” ujar Dwi Pambudo.
PFI juga menyatakan apresiasi terhadap langkah cepat Basarnas dan Ditpolairud Polda Banten yang bergerak di tengah kondisi medan yang sulit.
“Kami berharap seluruh jurnalis dapat segera ditemukan dalam kondisi sehat dan selamat tanpa kurang satu apa pun,” kata Dwi.
Kadiv Humas Polri Irjen Jhonny Eddizon Isir mengatakan Polri bersama Basarnas dan seluruh unsur terkait terus memaksimalkan pencarian.
“Polri bersama Basarnas dan seluruh unsur terkait terus memaksimalkan pencarian terhadap rekan-rekan jurnalis yang hilang kontak saat menjalankan tugas peliputan,” ujar Isir.
Menurut dia, kolaborasi seluruh unsur menjadi bagian penting dalam operasi tersebut. Namun keselamatan personel yang melakukan pencarian juga harus tetap diperhatikan.
“Kolaborasi dan sinergi seluruh unsur menjadi bagian penting dalam upaya pencarian ini, dengan tetap memperhatikan kondisi serta keselamatan personel di lapangan,” katanya.
Pernyataan itu menunjukkan, pencarian tidak hanya berpacu dengan waktu, tetapi juga dengan kondisi alam. Tim SAR harus bergerak sejauh mungkin untuk menemukan kapal, tetapi tidak boleh mengabaikan keselamatan mereka sendiri. (ant/gin)
Editor : Inilahkoran

