Kampus Bersiap Hadapi Bencana
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Yogyakarta - Bencana tidak selalu datang dengan tanda yang mudah dibaca. Ketika erupsi gunung api terjadi, pemerintah membutuhkan lebih dari sekadar langkah tanggap darurat. Pengetahuan dan kepakaran dibutuhkan untuk membaca ancaman, memahami dampak, serta menentukan kebijakan yang tepat.
Karena itu, perguruan tinggi di Indonesia diminta mulai mengidentifikasi para pakar dan ahli kebencanaan yang mereka miliki.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Prof Fauzan mengatakan, kepakaran yang tersimpan di kampus perlu dihubungkan dengan kebutuhan pemerintah dan instansi terkait, termasuk dalam menghadapi bencana erupsi Gunung Anak Krakatau.
“Sebagaimana yang kami sampaikan ketika press release menghadapi bencana erupsi Anak Krakatau, perguruan tinggi diminta untuk mengidentifikasi para pakar yang terkait dengan kebencanaan ini,” katanya di Yogyakarta, sepeti dikutip dari ANTARA, Rabu (9/9).
Permintaan tersebut menunjukkan, kampus tidak hanya dipandang sebagai ruang pendidikan dan penelitian. Dalam situasi kebencanaan, perguruan tinggi memiliki sumber daya pengetahuan yang dapat menjadi bagian dari upaya pemerintah membaca situasi dan mengambil keputusan.
Para ahli vulkanologi, kebencanaan, lingkungan, kesehatan, sosial, teknologi hingga bidang lain dapat berkontribusi sesuai kompetensinya. Pengetahuan yang mereka miliki dapat membantu pemerintah memahami persoalan berdasarkan data dan kajian ilmiah.
Fauzan melihat konsorsium perguruan tinggi se-DIY yang diluncurkan dalam Sarasehan Sains dan Teknologi Yogyakarta dapat menjadi salah satu wadah untuk mempertemukan kekuatan tersebut.
Konsorsium itu mempertemukan perguruan tinggi negeri dan swasta dengan pemerintah daerah, dunia usaha, serta dunia industri. Dari pertemuan tersebut, berbagai kepakaran diharapkan tidak berhenti sebagai daftar nama atau sekadar pertukaran gagasan, tetapi bergerak menjawab kebutuhan nyata. (gin)
Editor : Inilahkoran

