Sabang Jadi Pusat Riset Kelautan Internasional
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Sabang - Laut di sekitar Pulau Weh bukan sekadar bentang biru yang mengelilingi Sabang. Di wilayah ini, laut menjadi bagian dari kehidupan, sumber penghidupan, sekaligus ruang yang menyimpan banyak pertanyaan tentang perubahan iklim.
Pertanyaan-pertanyaan itu kemudian dibawa ke lapangan oleh para peneliti, akademisi, dan mahasiswa dari sejumlah negara. Melalui Program Lapangan UTM-PORSEC-USK 2026, Sabang menjadi ruang belajar riset kelautan yang mempertemukan peserta dari Indonesia, Malaysia, Vietnam hingga Thailand.
Program bertajuk “Capacity Building on Ocean Remote Sensing Towards Climate Resilience” tersebut memanfaatkan lingkungan laut dan pesisir Sabang sebagai laboratorium terbuka. Para peserta belajar memahami laut melalui teknologi penginderaan jauh, data satelit, dan teknologi geospasial.
Wakil Wali Kota Sabang Suradji Junus menyambut kehadiran program tersebut sebagai sebuah kehormatan bagi daerahnya.
“Kami sangat senang dan merasa terhormat karena Kota Sabang telah dipilih sebagai salah satu lokasi pelaksanaan Program Lapangan UTM-PORSEC-USK 2026,” kata Suradji di The Pade Dive Resort, Sabang, seperti dikutip dari ANTARA, Rabu (9/9).
Pilihan terhadap Sabang bukan tanpa alasan. Sebagai kota kepulauan, kehidupan masyarakat Sabang memiliki hubungan yang erat dengan laut. Perikanan, pariwisata, keanekaragaman hayati hingga pembangunan kota semuanya bersinggungan dengan wilayah pesisir.
“Bagi Sabang, laut bukan hanya bagian dari kondisi geografis, tetapi bagian penting dari identitas dan kehidupan sehari-hari. Lingkungan pesisir dan laut kita menopang kehidupan masyarakat dari sektor perikanan, pariwisata, keanekaragaman hayati serta pembangunan kota,” ujar Suradji.
Karena itu, perubahan yang terjadi di laut bukan sekadar persoalan yang dibicarakan dalam ruang-ruang akademik. Perubahan suhu, kondisi pesisir, hingga dinamika lingkungan laut pada akhirnya dapat bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat.
Di sinilah teknologi penginderaan jauh mengambil peran. Data dari satelit memungkinkan para peneliti melihat perubahan lingkungan laut dan pesisir dari sudut pandang yang lebih luas.
Teknologi geospasial membantu mengolah berbagai informasi tersebut sehingga kondisi laut dapat dipahami dengan lebih terukur.
Bagi Sabang, pengetahuan semacam itu dapat menjadi modal untuk menjaga wilayah pesisir sekaligus mengelola sumber daya laut secara lebih tepat. Namun, teknologi tidak berdiri sendiri.
Di balik satelit, perangkat pengamatan, dan data yang terus dikumpulkan, ada manusia yang harus mampu membaca dan menerjemahkannya. Karena itu, peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi bagian penting dari program tersebut. (gin)
Editor : Inilahkoran

