Ancaman Kesehatan dari Debu Kapur di Cipatat, Dinkes Pantau Keluhan Pernapasan Warga
Dinkes KBB terus memantau kesehatan pernafasan warga akibat dari debu kapur yang mencemari udara di kawasan Cipatat
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Pencemaran debu putih akibat aktivitas pengolahan batu kapur di Desa Gunungmasigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat yang sempat disamakan warga dengan “hujan salju” kini bukan sekadar masalah kenyamanan lingkungan, namun mulai menjadi perhatian serius terkait risiko gangguan kesehatan masyarakat.
Pasalnya, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bandung Barat (KBB) mengungkapkan, paparan partikel debu kapur yang terjadi hampir setiap hari berpotensi menimbulkan dampak buruk bagi sistem pernapasan.
Terutama bagi kelompok yang rentan seperti balita, lansia, ibu hamil, serta penderita asma dan penyakit paru kronis.
Merespons kekhawatiran warga, Dinkes KBB segera mengerahkan tim surveilans kesehatan bekerja sama dengan Puskesmas setempat untuk memantau kondisi warga secara langsung di lokasi terdampak.
Plt Kepala Dinkes KBB, Lia Nurliana Sukandar menjelaskan, pemantauan ini bertujuan mendeteksi sedini mungkin tanda-tanda gangguan kesehatan sekaligus memberikan panduan perlindungan diri, sehingga apabila ditemukan peningkatan kasus dapat segera ditangani tanpa menunggu menjadi parah.
“Kami ingin memastikan dampak kesehatan terpantau sejak dini dan segera ditindaklanjuti. Debu kapur adalah partikel berbahaya jika terhirup terus-menerus, yang tak hanya mengiritasi saluran napas tetapi juga berisiko memperberat penyakit yang sudah diderita,” kata Lia, Sabtu (4/7/2026).
Lia memaparkan, hasil pemantauan lapangan mencatat keluhan yang paling banyak dilaporkan warga meliputi batuk, tenggorokan kering dan gatal, bersin-bersin, pilek, hingga iritasi mata yang terasa merah, perih, dan berair.
"Debu halus yang mudah menembus masuk ke dalam rumah pun mengganggu aktivitas dasar seperti menjemur pakaian maupun beristirahat," ujarnya.
Bahkan, penderita penyakit pernapasan kronis mengaku sesak napas jauh lebih mudah muncul saat intensitas debu meningkat, terutama pada siang hari saat operasi pengolahan berjalan aktif.
Meski hingga kini belum tercatat lonjakan kunjungan pasien ke fasilitas kesehatan yang secara langsung dikaitkan dengan paparan debu ini, Lia mengingatkan risiko jangka panjang tetap nyata jika tidak ada pengendalian sumber pencemaran.
"Kami mengimbau warga untuk menutup pintu-jendela saat aktivitas pabrik berlangsung, menggunakan masker saat beraktivitas di luar, dan segera memeriksakan diri jika keluhan tidak kunjung membaik," pungkasnya.
Editor : Ahmad Sayuti

