Angkutan Pelajar Gratis Tekan Kemacetan Malang

Angkutan Pelajar Gratis Tekan Kemacetan Malang
ANGKUTAN GRATIS: Pemkot Malang, Jawa Timur mulai mengoperasionalkan layanan angkutan pelajar gratis, Senin (31/8). Angkutan pelajar gratis di Kota Malang dioperasikan untuk mengantar pelajar.

INILAH, Malang - Pagi di sekitar sekolah sering dimulai dengan pemandangan yang sama. Kendaraan orang tua berhenti bergantian di depan gerbang, sebagian menepi untuk menurunkan anak, sementara kendaraan lain mengantre menunggu giliran. Ketika jam pulang tiba, situasi serupa kembali terjadi.

Jalan Bandung dan Jalan Tugu menjadi dua kawasan di Kota Malang yang kerap merasakan kepadatan tersebut. Antrean kendaraan pribadi untuk mengantar dan menjemput pelajar membuat arus lalu lintas tersendat, terutama pada jam-jam sibuk.

Pemerintah Kota Malang kini mencoba mengubah kebiasaan itu melalui layanan angkutan pelajar gratis. Sebanyak 66 kendaraan angkutan kota (angkot) disiapkan untuk melayani pelajar melalui 15 rute.

Wali Kota Malang Wahyu Hidayat berharap layanan tersebut dapat menjadi alternatif bagi keluarga sehingga penggunaan kendaraan pribadi untuk mengantar dan menjemput anak bisa berkurang.

“Kami tidak bisa melarang menggunakan kendaraan pribadi, tetapi berharap dengan angkutan ini bisa mengurangi kepadatan pada jam puncak,” kata Wahyu seperti dikutip dari ANTARA, Senin (31/8).

Layanan angkutan pelajar gratis beroperasi sejak pagi. Kendaraan mulai mengantar pelajar sekitar pukul 05.45 WIB, kemudian kembali menjalankan layanan penjemputan pada pukul 14.45 WIB.

Program tersebut tidak hanya diarahkan untuk memindahkan pelajar dari kendaraan pribadi ke angkutan umum. Pemkot Malang juga ingin memastikan keberadaan layanan benar-benar terintegrasi dengan pengaturan lalu lintas di sekitar sekolah.

Karena program masih baru berjalan, pemerintah menggandeng Kepolisian Resor Kota Malang Kota serta pihak sekolah untuk mengatur titik-titik yang selama ini kerap dipadati kendaraan.

“Kami juga berkoordinasi dengan sekolah supaya mengatur agar tertib, tidak ada kemacetan di titik-titik sekolah yang selama ini ada kepadatan maupun kemacetan,” ujar Wahyu.

Pemkot Malang mengalokasikan anggaran sekitar Rp1,9 miliar untuk program tersebut. Operasionalnya menggunakan skema buy the service (BTS), dengan pembayaran biaya operasional kepada koperasi yang menaungi para sopir angkot.

Besaran pembayaran kepada sopir disesuaikan dengan jarak tempuh yang dipantau melalui GPS. Nilainya paling rendah sekitar Rp75 ribu per hari. (gin)


Editor : Inilahkoran