Bahagia Tetap Tumbuh di Usia Senja

LANSIA tak hanya butuh perawatan. Mereka juga membutuhkan ruang untuk bergerak dan bahagia.

Bahagia Tetap Tumbuh di Usia Senja
DAMPINGI LANSIA: Mahasiswa UI mengembangkan Wreda-Perma, program pendampingan bagi 40 lansia di Yayasan Panti Jompo Wijaya Kusuma, Bekasi dengan memadukan edukasi pencegahan diabetes dan penguatan kesejahteraan psikologis.

Usia boleh bertambah, tetapi ruang untuk merasa bahagia tidak pernah semestinya ikut menyempit. Bagi para penghuni Yayasan Panti Jompo Wijaya Kusuma, Bekasi, merawat kesehatan bukan hanya tentang menjaga kadar gula darah, tetapi juga tentang tetap bergerak, berinteraksi, dan memiliki alasan untuk menjalani hari.

Gagasan itulah yang dibawa mahasiswa Universitas Indonesia (UI) melalui Wreda-Perma, sebuah program pendampingan bagi 40 lansia yang memadukan edukasi pencegahan diabetes dengan penguatan kesejahteraan psikologis.

Program tersebut lahir dari pengamatan terhadap kondisi para penghuni panti. Dari 40 lansia berusia 56 hingga 87 tahun, enam orang memiliki risiko tinggi diabetes melitus, sementara empat lainnya telah terdiagnosis diabetes.

Kondisi itu berjalan beriringan dengan keterbatasan layanan kesehatan di panti yang berdiri sejak 2019 tersebut. Pemeriksaan kesehatan baru dilakukan sebulan sekali. Sementara edukasi gizi berkelanjutan, aktivitas fisik terstruktur, dan dukungan psikologis belum tersedia secara memadai.

Ketua Tim Wreda-Perma, Nela Nurul Mutoharoh, mengatakan pencegahan diabetes pada lansia tidak bisa hanya dilihat dari persoalan makanan atau kadar gula darah.

“Upaya mencegah diabetes pada lansia perlu dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya melalui pengendalian gula darah, tetapi juga dengan memperhatikan pola makan, aktivitas fisik, dan kondisi psikologis,” kata Nela di Depok, seperti dikutip dari ANTARA, Senin (14/9).

Persoalan psikologis menjadi perhatian tersendiri. Hasil observasi tim menemukan sejumlah lansia menunjukkan tanda stres dan kecemasan. Sebagian mudah tersinggung atau agresif, sementara lainnya memilih menarik diri dari lingkungan sosial.

“Observasi kami menemukan sejumlah lansia menunjukkan tanda stres dan kecemasan, seperti mudah tersinggung, agresif, hingga menarik diri dari interaksi sosial. Kondisi psikososial seperti kesepian, isolasi, dan stres dapat memengaruhi kesehatan serta meningkatkan risiko penyakit kronis,” ujarnya.

Karena itu, Wreda-Perma dirancang tidak sekadar menjadi program edukasi diabetes. Para lansia diajak merawat tubuh sekaligus membangun kembali rasa nyaman, keterhubungan, dan kebermaknaan dalam keseharian. (gin)


Editor : Inilahkoran