Bahas Larangan Study Tour, Dedi Mulyadi Sebut yang Dilarang Itu Bukan Piknik!
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, kembali menegaskan sikapnya terkait pelarangan kegiatan study tour di lingkungan sekolah yang akhir-akhir ini menuai pro dan kontra.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, kembali menegaskan sikapnya terkait pelarangan kegiatan study tour di lingkungan sekolah yang akhir-akhir ini menuai pro dan kontra.
Dalam sebuah pernyataan, Dedi menyatakan bahwa kebijakan tersebut tidak bertujuan untuk menyulitkan pihak mana pun, melainkan sebagai bentuk evaluasi terhadap kegiatan yang dinilai tidak lagi relevan dengan semangat pembelajaran.
“Saya dituduh membuat mereka susah. Padahal yang saya larang itu study tour, bukan piknik,” ujar Dedi Mulyadi dalam podcast bersama Deddy Corbuzier, Senin 4 Agustus 2025.
Dedi menjelaskan, konsep study tour seharusnya tidak identik dengan bepergian jauh. Menurutnya, pembelajaran bisa dilakukan di lingkungan sekitar sekolah yang memiliki banyak potensi edukatif.
“Kan judulnya study tour, ‘study’ itu belajar, dan tidak harus jauh-jauh. Sampah di sekolah saja banyak yang tidak terurus, selokan di belakang sekolah warnanya sudah hitam pekat. Itu bisa jadi bahan pembelajaran,” jelas Dedi.
Ia juga mencontohkan potensi pembelajaran dari makanan jajanan di sekitar sekolah. “Minyak gorengnya sudah hitam, bisa dibawa ke laboratorium dan dipelajari kandungan bahayanya. Itu pun termasuk bagian dari belajar,” tambahnya.
Menanggapi protes dari sejumlah pihak, termasuk dari pelaku industri pariwisata dan travel yang sempat menggelar aksi demo di Gedung Sate, Dedi menekankan bahwa keputusan tersebut diambil untuk melindungi dunia pendidikan dari kegiatan yang kurang efektif secara akademik.
“Kalau ada orang tua yang merasa mampu membiayai anaknya jalan-jalan, ya silakan saja. Tapi jangan bawa nama sekolah. Ajak saja anaknya dan teman-temannya piknik, jangan jadikan itu sebagai program sekolah,” tegasnya.
Ia pun mengingatkan bahwa dalam struktur kurikulum pendidikan nasional, tidak ada mata pelajaran study tour. “Di institusi sekolah itu tidak ada kurikulum study tour. Itu hanya kegiatan tambahan yang dipilih sekolah. Jangan sampai guru jadi kehilangan wibawa hanya gara-gara urusan beginian,” tutup Dedi.
Editor : Firda Rachmawati

