Balepare Kota Baru Parahyangan Bergemuruh, Ratusan Pesilat Jawa Barat Lestarikan Warisan Leluhur dalam Festival Penca Parahyangan

Denting gamelan dan sorak sorai menggema di Balepare Kota Baru Parahyangan, tempat ratusan pesilat dari berbagai penjuru Jawa Barat berkumpul untuk merayakan seni bela diri tradisional dalam Festival Penca Parahyangan. 

Balepare Kota Baru Parahyangan Bergemuruh, Ratusan Pesilat Jawa Barat Lestarikan Warisan Leluhur dalam Festival Penca Parahyangan

INILAHKORAN, Ngamprah – Denting gamelan dan sorak sorai menggema di Balepare kota baru parahyangan, tempat ratusan pesilat dari berbagai penjuru jawa barat berkumpul untuk merayakan seni bela diri tradisional dalam Festival Penca Parahyangan. 

Acara yang berlangsung dari tanggal 26 hingga 28 September 2025 ini menjadi bukti nyata semangat pelestarian budaya di tengah arus globalisasi yang semakin deras.
 
Festival yang diselenggarakan oleh PAMENCA (Paguyuban Seni Nayaga Penca) Jabar-Banten bekerja sama dengan Bale Seni Barli kota baru parahyangan ini, berhasil menarik perhatian lebih dari 500 peserta dari berbagai paguron (perguruan) pencak silat di seluruh jawa barat

Ketua penyelenggara, Dede Yanto menjelaskan, kegiatan ini bertujuan untuk melestarikan dan mengedukasi generasi muda tentang seni nayaga (musik pengiring) dan pencak silat, serta menjadi ajang silaturahmi bagi para pelaku dan pelestari pencak silat di jawa barat.
 
"Kami ingin generasi muda semakin mencintai dan bangga dengan pencak silat sebagai warisan budaya luhur," kata Dede, Minggu 28 September 2025.

"Festival ini adalah wadah bagi mereka untuk menunjukkan kemampuan, bertukar pengalaman, dan mempererat tali persaudaraan," sambungnya.

Menurutnya, PAMENCA Jabar-Banten memiliki visi untuk menjadi wadah yang kuat bagi para pelaku nayaga pencak dan pencak silat. Organisasi ini berupaya untuk memediasi kepentingan para anggotanya, serta membentuk ekosistem yang kondusif untuk pengembangan ekonomi di kalangan pamenca. 

"Tentu saja, hal ini membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, terutama pemerintah, dalam merealisasikan visi tersebut," ujarnya.
 
"Kami berharap PAMENCA dapat menjadi jembatan antara para pelaku pencak silat dengan pemerintah dan pihak swasta. Kami ingin menciptakan peluang ekonomi bagi para pelaku pencak silat, sehingga mereka dapat hidup sejahtera dari seni yang mereka cintai," pungkasnya.
 
Pembukaan festival pada Jumat, 26 September 2025, dihadiri oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bandung Barat, Asep Dendih. 

Dalam kesempatan tersebut, Asep menekankan pentingnya pelestarian budaya sebagai cermin dan identitas bangsa. "Bangsa yang hebat adalah bangsa yang mampu mempertahankan budayanya," tegasnya. 

Asep berharap agar para pelaku pencak silat mendapatkan perhatian lebih agar dapat terus hidup dan berkembang di setiap daerah, serta menjadi kebanggaan Kabupaten Bandung Barat.
 
"Kami berharap pemerintah daerah dan pusat dapat memberikan dukungan yang lebih besar kepada para pelaku pencak silat, baik dari segi pelatihan, fasilitas, maupun kesempatan untuk tampil di berbagai ajang," imbuhnya.
 
Dukungan terhadap pelestarian pencak silat juga datang dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Provinsi jawa barat, Yeti, perwakilan dari Disparbud Jabar, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya festival ini. Dirinya berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan dan dikembangkan di masa depan, di tengah gempuran budaya asing.
 
"Kami sangat mendukung kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk melestarikan dan mengembangkan budaya Sunda, termasuk pencak silat. Kami berharap festival ini dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk melakukan hal serupa," ujar Yeti.

Yeti menyebut, Festival Penca Parahyangan se-jawa barat di Balepare kota baru parahyangan bukan hanya sekadar ajang kompetisi dan pertunjukan seni. Lebih dari itu, festival ini adalah momentum untuk memperkuat identitas bangsa, melestarikan warisan budaya leluhur.

"Dan membangkitkan semangat generasi muda untuk terus mengembangkan seni pencak silat sebagai kebanggaan Indonesia," pungkasnya. *** (agus satia negara)


Editor : Ahmad Sayuti