Bandung Initiative Perkuat Langkah Menuju Ekosistem PFII: Menghidupkan Nadi Ekonomi

GERAKAN kolektif bernama Bandung Initiative menjadi lompatan besar Kota Kembang untuk masuk dalam ekosistem Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII).

Bandung Initiative Perkuat Langkah Menuju Ekosistem PFII: Menghidupkan Nadi Ekonomi
EKOSISTEM: Wali Kota Bandung Muhammad Farhan ungkap memperkuat kesiapan Kota Kembang masuk ekosistem pusat finansial internasional Indonesia (PFII) melalui Bandung Initiative.

Oleh: Bsafaat

Bandung bukan sekadar kota kembang dan kreativitas, tetapi kini sedang bersiap mengambil peran besar di panggung dunia. Bandung Initiative jadi langkah awal dalam merajut mimpi besar itu.

Namun, ambisi takkan berujung hasil signifikan ketika hanya dimulai dari meja-meja rapat yang berjarak. Semangat kebersamaan antara pemerintah, pelaku usaha, dan para pegiat teknologi jadi kuncinya.

Bagi Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, inisiatif ini adalah bukti nyata bahwa masa depan ekonomi kota harus dibangun bersama-sama.

Konsepnya sederhana namun mendalam: kumpulkan semua orang, satukan visi, lalu ciptakan lingkungan yang saling mendukung.

“Tentu saya menyambut hangat semua pihak, terutama mereka yang telah menandatangani Bandung Initiative. Ini adalah contoh yang sangat bagus tentang bagaimana kita membangun sebuah ekosistem dari bawah ke atas,” ujar Farhan, Rabu (16/9).

Farhan menyadari betul bahwa tugas pemerintah adalah membuka jalan lewat regulasi dan kebijakan yang ramah bagi dunia usaha. Namun di atas semua itu, muara dari setiap pertumbuhan ekonomi haruslah membawa kesejahteraan yang nyata bagi warga Bandung sendiri.

Melihat ke belakang, Bandung punya catatan gemilang. Sebelum pandemi melanda, ekonomi kota ini pernah melesat hingga 7,2 persen. Saat ini, denyut ekonomi Bandung berada di angka 5,76 persen—sebuah angka yang baik, namun belum mencerminkan potensi Bandung yang sesungguhnya.

Ada kerinduan untuk kembali bergerak cepat.“Sekarang kita merayap di 5,76 persen. Kita belum kembali ke kapasitas penuh kita. Jadi, kita perlu tumbuh lebih cepat lagi,” aku Farhan jujur.

Di mata Farhan, Bandung butuh “mesin baru” untuk kembali berlari, dan ekosistem finansial internasional adalah salah satu jawabannya. Agar langkah besar ini tidak goyah, kepastian hukum menjadi fondasi utama.

Menariknya, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memberikan lampu hijau dengan menyarankan agar Bandung bersanding bersama Jakarta dalam aglomerasi PFII.

Dukungan ini bukan sekadar urusan legalitas di atas kertas, melainkan sebuah pengakuan kuat yang akan memberi posisi tawar baru bagi Kota Bandung di kancah finansial internasional.

Farhan kemudian menegaskan, pengembangan ekosistem ekonomi baru harus berjalan bersama penataan dan penegakan aturan. Pemerintah akan membuka ruang melalui deregulasi, namun pelaku usaha tetap wajib mengikuti ketentuan yang berlaku.

“Kita hanya akan menjadi pemberi kemudahan dan penegak. Di tengah-tengah, silakan para pebisnis yang masuk semuanya,” ucapnya.

Dia juga mengingatkan, agar pengembangan ekonomi digital berbasis blockchain tidak berubah menjadi gelembung ekonomi. Transformasi teknologi, diharapkan menghasilkan aktivitas ekonomi nyata dan manfaat yang dirasakan masyarakat.

“Kita akan memastikan, bahwa kita sedang membangun basis dari blockchain ini di Bandung menjadi ekonomi blockchain nyata pertama di Indonesia,” ujar dia.

Sementara itu Founder IRWATA, Sabdo Yusmintiarto mengatakan, Bandung Initiative lahir sebagai respons terhadap gagasan wali kota mengenai Kota Bandung sebagai bagian dari PFII.

“Kalau misalnya cuma seorang wali kota yang berinisiatif, rasanya akan berat dan mungkin enggak bisa ke mana-mana. Karena itu kami dari Irwata, menginisiasi untuk menjawab pernyataan tersebut dengan menyatakan sebuah komitmen untuk turut membantu investasi atau pertumbuhan,” kata Sabdo Yusmintiarto.

Dia menyatakan, PFII dapat menjadi salah satu mesin ekonomi baru bagi Kota Bandung. Konsep itu diarahkan pada kemudahan masuknya modal dari luar negeri, sekaligus pengembangan infrastruktur finansial berbasis teknologi. (bsf)


Editor : Inilahkoran