Bandung, Lari, dan Denyut Ekonomi Baru Kota

Fenomena sport tourism di Kota Bandung kian berkembang, menghadirkan dampak ganda bagi kesehatan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi.

Bandung, Lari, dan Denyut Ekonomi Baru Kota
Komunitas pelari Kecerun di Kota Bandung merayakan HUT ke-6 beberapa waktu lalu. (istimewa)

INILAHKORAN.ID - Fenomena sport tourism di Kota Bandung kian berkembang, menghadirkan dampak ganda bagi kesehatan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi.

Pagi di Kota Bandung kini tak lagi hanya tentang lalu lintas dan rutinitas warga yang berangkat kerja. Suara langkah kaki para pelari mulai menjadi bagian dari lanskap baru urban yang kian hidup: kota yang bergerak, berkeringat, dan bertransformasi lewat olahraga.

Fenomena gaya hidup sehat yang tumbuh di kota-kota besar kini menemukan ruangnya di Bandung. Event lari, fun run, hingga ajang sport tourism tumbuh bak jamur di musim hujan. 

Hampir setiap akhir pekan, jalanan kota berubah menjadi lintasan, sementara komunitas-komunitas lari ikut meramaikan denyut aktivitas itu.

Di balik tren tersebut, sport tourism tak sekadar soal olahraga, tapi menjelma menjadi penggerak ekonomi baru yang ikut menghidupkan hotel, kuliner, hingga pelaku UMKM lokal.

Salah satu komunitas yang aktif di tengah geliat itu adalah Keluarga Cemara Run (Kecerun). Komunitas ini rutin menggelar latihan tiga kali dalam sepekan, sekaligus menjadi ruang pertemuan para pehobi lari dengan latar belakang yang beragam.

Bagi Indra Prayoga (57), lari bukan lagi sekadar aktivitas fisik, tetapi bagian dari gaya hidup yang lebih terstruktur setelah bergabung dengan komunitas.
Sebelumnya, dia berlari seorang diri. Namun kini, ritme latihan, jadwal, hingga target jarak menjadi lebih terarah. Di sisi lain, komunitas juga membuka ruang interaksi sosial yang lebih luas.

“Nanti Minggu (19/4/2026) besok, kita akan mengikuti Run for Humanity di Balai Kota Bandung. Memang akhir-akhir ini banyak event lari. Minggu kemarin, kita ikutan fun run di Cikapayang Dago,” kata Indra, Rabu (15/4/2026).

Di usianya yang tidak lagi muda, Indra mengaku merasakan perubahan signifikan pada kondisi tubuhnya. Parameter kesehatan seperti kolesterol, gula darah, hingga asam urat kini lebih terkontrol.

lari ini juga bisa mencegah penuaan. Kalau bisa lari 19-21 kilometer itu bisa awet muda, lho,” ucap penyuka warna merah menyala itu.

Lebih dari sekadar kesehatan, komunitas lari juga memberi akses lain: jaringan sosial, undangan event di berbagai kota, hingga potongan biaya partisipasi lomba.

Disinggung mengenai atmosfer kota, Indra menuturkan Bandung memiliki keunggulan tersendiri. Selain hawa yang relatif sejuk, udara di kota kelahirannya itu pun lebih segar.

Namun, terdapat kendala yang harus dicarikan solusinya. Sebab, lebar ruas jalan di Kota Bandung ini relatif sempit. Kondisi itu semakin terasa saat terselenggaranya lomba karena ramainya bunyi klakson kendaraan bermotor.

Selain itu, seringnya lomba yang digelar pun bisa mendongkrak perekonomian daerah setempat. Okupansi hotel yang tersebar pun dipastikan penuh menjelang perlombaan berlangsung.

sport tourism ini bisa meningkatkan angka kunjungan hotel. Karena, biasanya kalau eventnya digelar Minggu, biasanya para peserta sudah check-in di hotel mulai Jumat untuk mengambil race pack dan latihan tipis. Rombongan yang mengikuti event lari bisa menghabiskan uang hingga Rp3-5 juta. Sedangkan, per orangan bisa mengeluarkan uang sekitar Rp1-2 juta per event,” tutur Indra.

Bersama rekan-rekan lainnya, dia sempat memperkirakan perputaran uang yang terjadi dalam setiap event lari. Angkanya relatif fantastis lantaran perputaran uang bisa mencapai Rp40-50 miliar.

Tak hanya itu. Produk UMKM pun terangkat dengan adanya ajang lari. Sebab, penyelenggara lomba biasanya membuka booth khusus untuk produk kuliner unggulan daerah setempat.

“Karena hal tersebut, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan pun concern terkait gelaran sport tourism yang bisa mengangkat pariwisata,” imbuhnya.

Pemerintahan Kota Bandung pun melihat ‘celah’ tersebut untuk menggerakkan roda ekonomi daerah. Meski demikian, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengaku pengembangan sport tourism itu tidak bisa dilepaskan dari tantangan infrastruktur demi kenyamanan pelari dan pesepeda.

Dia menekankan, pengembangan Kota Kembang sebagai destinasi utama bagi pelari dan pesepeda tergantung pada kualitas jalan dan fasilitas pendukung.

“Kalau kita bicara kenyamanan, maka jalan yang mulus dan penerangan yang baik adalah syarat mutlak. Tanpa itu, kegiatan olahraga luar ruang akan sulit berkembang,” kata Farhan, belum lama ini.

Pemkot Bandung saat ini menargetkan perbaikan 17 ruas jalan sepanjang 2026 ini. Langkah tersebut diharapkan mampu menjawab kebutuhan masyarakat yang semakin aktif berolahraga sekaligus mendukung mobilitas sehari-hari.

Selain perbaikan jalan, Farhan menyebut perlunya pembenahan kota secara menyeluruh. Persoalan klasik seperti sampah dan penerangan yang belum tertangani optimal juga menjadi perhatian.

“Kota Bandung punya keunggulan udara sejuk. Tapi kalau sampah masih berserakan dan lampu jalan tidak memadai, citra kota akan terganggu. Ini pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan. Indikatornya, kalau pelari dan pesepeda tidak lagi mengeluh soal jalan atau fasilitas, berarti kita sudah berada di jalur yang benar,” tuturnya.

Apalagi, saat ini Kota Bandung masuk dalam tiga besar destinasi wisata Asia versi Agoda. Pemeringkatan itu menjadi sinyal positif bagi masa depan pariwisata kota ini.

Dari sektor perbankan, inovasi juga ikut mengalir. Pihak bank bjb menghadirkan skema bundling finansial melalui ajang lari lintas kota bertajuk The Ultimate 10K Series.

Pimpinan Divisi Corporate Secretary bank bjb Herfinia mengatakan, program itu menjadi bagian dari komitmen dalam mendukung gaya hidup sehat sekaligus memberikan nilai tambah melalui integrasi layanan perbankan dengan aktivitas olahraga.

The Ultimate 10K Series merupakan ajang lari multi kota yang tahun ini diselenggarakan di Bandung, Surabaya, Tangerang, dan Semarang dengan sistem reward terintegrasi.

Khusus di Bandoeng 10K, bank bjb memberikan kesempatan mendapatkan tiket lari dengan cara yang mudah dan terjangkau.

Event bank bjb Bandoeng 10K berlangsung pada 17 Mei 2026 dengan lokasi start dan finish di Kantor Pusat bank bjb hingga Balai Kota Bandung. Melalui program promo ini, bank bjb memberikan tiket lari kepada nasabah maupun calon nasabah sesuai ketentuan yang berlaku.

Periode program berlangsung mulai 17 Maret 2026 hingga 9 April 2026, dengan total kuota 250 tiket.

Melalui program ini, bank bjb tidak hanya menghadirkan kemudahan akses untuk mengikuti event lari, tetapi juga mendorong budaya menabung di masyarakat.


Editor : Doni Ramdhani