Menengok Sentra Bengkel Mesin Jahit Soreang, Saat Mesin Jadi Denyut Ekonomi Konveksi

Menengok sentra bengkel mesin jahit di Jalan Raya Statsion Soreang yang menopang usaha konveksi, dari perbaikan mesin hingga penjualan suku cadang.

Menengok Sentra Bengkel Mesin Jahit Soreang, Saat Mesin Jadi Denyut Ekonomi Konveksi
Yusnik Nursyamsi tengah memperbaiki salah satu mesin jahit di bengkel miliknya, Mandiri Jaya, Jalan Stasiun, Desa Pamekaran, Soreang, Jumat (4/9/2026). Rd Dani Rahmat Nugraha

INILAHKORAN.ID - Suara mesin jahit yang berderak menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut ekonomi Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung. Di balik ribuan pakaian yang diproduksi para pelaku usaha konveksi, ada roda ekonomi lain yang ikut berputar: bengkel-bengkel perbaikan mesin jahit.

Salah satu sentranya berada di sepanjang Jalan Raya Stasiun, Desa Pamekaran, Kecamatan Soreang.  Di ruas jalan tersebut, lebih dari 10 bengkel mesin jahit berdiri dan melayani kebutuhan para pelaku konveksi. Mulai dari menyetel mesin, memperbaiki kerusakan ringan, mengganti komponen, hingga membongkar mesin yang mengalami kerusakan berat.

Salah satunya bengkel mesin jahit Mandiri Jaya milik Yusnik Nusyamsi (40). Lebih dari 15 tahun Yusnik menekuni usaha tersebut. Dari bengkel sederhana itu, ia bersama empat pegawainya melayani pelanggan yang datang bukan hanya dari Soreang, tetapi juga dari Ciwidey, Pasirjambu, Banjaran, dan sejumlah daerah lainnya.

"Memang kebanyakan pelanggan kami para pemilik konveksi yang banyak tersebar di Kabupaten Bandung, khususnya Soreang dan sekitarnya. Biaya perbaikan mulai Rp150 ribu hingga Rp500 ribu, di luar pembelian suku cadang. Kami juga menjual mesin jahit baru dan menerima tukar tambah," kata Yusnik kepada INILAHKORAN.ID, Jumat (4/9/2026).

Bagi Yusnik, keberadaan ribuan pelaku usaha konveksi di Soreang merupakan berkah tersendiri. Semakin tinggi aktivitas produksi pakaian, semakin besar pula kebutuhan terhadap mesin jahit dan perlengkapannya.

Begitu pula sebaliknya. Ketika pesanan konveksi menurun, bengkel mesin jahit ikut merasakan dampaknya.

Di bengkel Mandiri Jaya, mesin jahit bukan satu-satunya peralatan yang ditangani. Berbagai perlengkapan produksi konveksi seperti mesin obras, mesin overdeck, mesin lubang kancing, setrika uap, hingga mesin pemotong kain juga bisa diperbaiki.

Keahlian tersebut diperoleh Yusnik dan para teknisinya bukan dari bangku pendidikan formal. Sebagian besar justru belajar secara otodidak, mulai dari memperhatikan teknisi senior, membantu pekerjaan, hingga akhirnya mampu menangani kerusakan sendiri.

"Rata-rata teknisi atau pegawai di sini belajar otodidak. Dari mulai melihat-lihat, membantu teknisi hingga akhirnya bisa sendiri memperbaiki. Alhamdulillah, keberadaan pelaku usaha konveksi di Soreang ini menjadi ladang rezeki juga bagi kami," ujarnya.

Empat teknisi yang bekerja di bengkel tersebut tampak cekatan menangani mesin yang masuk. Mereka harus mampu membaca karakter setiap mesin karena tingkat kerusakannya berbeda-beda.

Bagi Yusnik, pengalaman menjadi modal utama. Mesin yang digunakan pelaku konveksi memiliki tingkat pemakaian tinggi. Mesin yang bekerja berjam-jam setiap hari tentu membutuhkan perawatan lebih dibandingkan mesin yang hanya digunakan sesekali.

"Awet atau tidaknya mesin jahit tergantung pemakaiannya. Kalau pemakaiannya tinggi dan terus-menerus, tentunya lebih cepat rusak dan harus diperbaiki. Kalau tidak terlalu sering digunakan tentu lebih awet," katanya.

Ramadan dan Lebaran, Masa Ramai bengkel mesin jahit

Ada satu masa yang biasanya menjadi periode emas bagi Yusnik dan para pelaku bengkel mesin jahit lainnya, yakni menjelang Ramadan dan Idul Fitri.

Ketika pesanan pakaian meningkat, rumah-rumah konveksi di Soreang biasanya ikut meningkatkan produksi. Mesin dipaksa bekerja lebih lama sehingga kebutuhan perawatan, perbaikan, bahkan pembelian mesin baru ikut meningkat.

Namun, kondisi tersebut kini tak lagi seramai sebelum pandemi Covid-19.

Yusnik masih mengingat masa ketika beberapa bulan sebelum Lebaran, bengkelnya bisa dipenuhi pelanggan. Penjualan mesin baru pun meningkat drastis.

"Kalau dulu sebelum adanya Covid, beberapa bulan menjelang bulan puasa dan Lebaran kami ikut kebanjiran pekerjaan. Mulai dari perbaikan sampai penjualan mesin jahit baru ramai. Dulu saya sampai bisa menjual 10 unit mesin jahit baru per hari," tuturnya.

Momentum Ramadan dan Lebaran kini tak lagi otomatis membuat penjualan mesin jahit melonjak. Aktivitas usaha cenderung lebih landai dibandingkan masa sebelum pandemi.

"Sekarang mah enggak seramai dulu. Landai saja. Mau mendekati Lebaran atau tidak juga sama saja," ujarnya.

Kondisi tersebut menjadi gambaran bahwa geliat ekonomi sebuah sektor usaha tidak berdiri sendiri. Ketika industri konveksi mengalami perlambatan, usaha yang menjadi penopangnya pun ikut merasakan tekanan.

Suku Cadang Makin Mudah, bengkel Tetap Bertahan

Meski menghadapi kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, Yusnik menyebut ada perubahan lain yang justru membuat bisnis perbaikan mesin jahit lebih mudah dijalankan.

Berbeda dengan masa lalu ketika sebagian besar mesin jahit yang beredar merupakan produk Jepang. Saat sebuah komponen mengalami kerusakan, teknisi maupun pemilik mesin terkadang harus menunggu berminggu-minggu, bahkan hingga sebulan, untuk mendapatkan suku cadang.

Kini kondisinya berbeda. Beragam merek, terutama produk asal China, lebih mudah ditemukan dengan harga yang relatif terjangkau.

"Kalau dulu mesin jahit semuanya made in Jepang. Sekarang banyak produk China dengan harga lebih murah dan suku cadang yang melimpah dan murah juga. Jadi untuk perbaikan tidak memerlukan waktu terlalu lama," katanya.

Perubahan tersebut membuat bengkel seperti milik Yusnik tetap memiliki ruang untuk bertahan.

Sebab, selama mesin produksi masih menjadi tulang punggung para pelaku konveksi, kebutuhan untuk merawat dan memperbaikinya akan tetap ada. Di sepanjang Jalan Raya Stasiun, aktivitas itu terus berlangsung.

Ada mesin yang datang dalam kondisi mati total. Ada yang hanya membutuhkan penggantian komponen. Ada pula mesin lama yang kembali dipoles dan direkondisi hingga layak digunakan seperti baru.

Di tempat-tempat seperti inilah, denyut ekonomi Soreang terus bergerak. Bukan hanya melalui pakaian yang diproduksi, tetapi juga melalui tangan-tangan teknisi yang memastikan mesin-mesin produksi tetap hidup.


Editor : Ahmad Sayuti