Bandung Masuk Kota Termacet di Dunia, Begini Reaksi Asep Kuswara

Plt Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung Asep Kuswara menjelaskan, tingginya penggunaan kendaraan pribadi menjadi salah satu penyebab kemacetan yang tinggi di Kota Bandung.

Bandung Masuk Kota Termacet di Dunia, Begini Reaksi Asep Kuswara
Asep Kuswara menjelaskan kenapa kemacetan terjadi di Kota Bandung.

INILAHKORAN, Bandung - Plt Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung Asep Kuswara menjelaskan, tingginya penggunaan kendaraan pribadi menjadi salah satu penyebab kemacetan yang tinggi di Kota Bandung.

"Salah satunya itu. Tetapi mudah-mudahan nanti dengan adanya transportasi publik baru, bisa mengurai kemacetan. Mungkin orang akan beralih ke transportasi publik," kata Asep Kuswara, Kamis 16 Januari 2025.

Transportasi baru dimaksud, dituturkan ia, adalah layanan transportasi publik Metro Jabar Trans (MJT) yang resmi beroperasi sejak 1 Januari 2025. MJT merupakan hasil rebranding dari bus rapid transit (BRT) Bandung Raya yang kini telah melayani enam rute atau koridor.

Memiliki 85 unit kendaraan, MJT diharapkannya menjadi solusi pengentasan kemacetan khususnya di kawasan aglomerasi Bandung Raya. Adapun keenam rute eksisting antara lain Leuwipanjang - Soreang, Kota Baru Parahyangan - Alun-alun Bandung, BEC - Baleendah, Leuwipanjang - Dago, Dago - Jatinangor dan Leuwipanjang - Majalaya.

"Tarif MJT ditetapkan untuk menjangkau seluruh lapisan masyarakat yaitu Rp 4.900 untuk penumpang umum dan Rp 2.000 untuk pelajar dan lanjut usia. Ini kita harapkan bisa mengurangi tingkat kemacetan dengan mendorong masyarakat untuk beralih ke transportasi publik. Dari segi tarif juga sangat terjangkau," ucapnya.

Asep menyatakan, bahwa kemacetan di Kota Bandung bersifat tentatif. Seperti di momen liburan dan hari besar tertentu karena Kota Bandung menjadi salah satu destinasi wisata.

"Kita lihat kalau anak sekolah Nggak masuk atau libur kan lalu lintas aman lancar. Kalau event-event atau hari besar seperti liburan itu berbeda. Kemacetan di Kota Bandung ini hanya terjadi sewaktu-waktu," ujar dia.

Selain mendorong penggunaan transportasi publik dan untuk mengurangi kemacetan di Kota Bandung, pihaknya akan koordinasi lintas stakeholder untuk menetapkan aturan jam operasional dan masuk sekolah.

"Sehingga nanti pemkot akan gulirkan regulasi pengaturan jam operasional. Seperti jam sekolah masuk jam tujuh untuk kantoran masuk jam delapan dan industri masuk jam berapa itu solusi yang akan diterapkan. Seperti kemarin libur Nataru liburan itu memang macet. Tapi itu juga kan tidak statis kemacetannya," tandasnya.

Sebelumnya, Kota Bandung dinobatkan sebagai kota termacet ke-12 di dunia. Data tersebut merujuk pada hasil penelitian TomTom Traffic Index 2024 yang dilakukan di 500 kota di 62 negara dari enam benua. Variable yang digunakan pun mengacu pada waktu tempuh rata-rata dan tingkat kemacetan.

Merujuk data TomTom Traffic Index 2024, Bandung berada di posisi ke-12 kota termacet di dunia. Sedangkan Medan berada di posisi ke-15.

Sedangkan peringkat pertama diduduki Barranquilla, Kolombia. Sebelumnya pada TomTom Traffic Index 2023, posisi pertama diduduki London, Inggris, yang kini berada di posisi ke-5.

Dalam indeks tersebut, tercatat rata-rata waktu bepergian di Kota Bandung per 10 kilometer memakan waktu 32 menit 37 detik. Sedangkan waktu yang hilang per tahun karena macet, sebesar 108 jam per tahun. (*)


Editor : Zulfirman