Hari Pertama PTM Terbatas di Kab Bandung, Siswa: Semoga Corona-nya Cepat Pergi!

PTM terbatas mulai dilaksanakan di ratusan sekolah berbagai jenjang di Kabupaten Bandung, Senin 9 September 2021.

Hari Pertama PTM Terbatas di Kab Bandung, Siswa: Semoga Corona-nya Cepat Pergi!
Seorang siswi di SDN Cincin Kecamatan Soreang hendak masuk kelas untuk mengikuti PTM Terbatas, Senin 6 September 2021.

INILAHKORAN, Bandung- Hari ini ratusan sekolah TK,SD,SMP dan SMA di Kabupaten Bandung memulai Pembelajaran Tatap Muka (PTM) tebatas. Jumlah siswa perkelas hanya 25 persen dari jumlah siswa.

Berdasarkan pantauan INILAHKORAN di SDN Cincin 01 Kecamatan Soreang, sejak pagi siswa mulai berdatangan ke sekolah. Mereka datang diantar orang tua serta menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Saat masuk gerbang sekolah, para siswa yang memang memakai masker dan kaca pelindung (facesield), harus melalui pengecekan suhu tubuh dan disemprot dengan cairan disinsfektan.

"Datang ke sekolah diantar mamah, senang bisa ketemu teman-teman. Semoga saja coronanya bisa cepat pergi dan kami bisa sekolah sama teman-teman semuanya," kata Farel siswa kelas I.

Sementara itu, Kepala SD Cingcin 01 Soreang, Lilis Supartini mengatakan PTM hanya diikuti oleh kelas 1 dan jumlah siswanya hanya sebanyak 25 persen dari total siswa. Kata dia, kegiatan belajar mengajar hanya berlangsung selama 30 menit dan hanya diisi oleh kegiatan permainan anak.

Baca Juga: PTM atau PJJ, PGRI Kota Bandung Dukung Pelaksanaan PTM Terbatas

“Masuk jam 7 pagi kemudian belajar. Saat pulang, anak diantar ke gerbang nanti disambut oleh orang tua. Barulah siswa sesi kedua yang masuk ke kelas,” ujarnya.

Adapun untuk jeda waktu per sesi, kata Lilis, yaitu 20 menit. Pihaknya menyiapkan 1.500 buah masker untuk mengantisipasi anak yang tidak membawa masker. Selain itu, dari mulai masker, handsinitizer dan thermogun sudah tersedia di setiap kelas.

“Anak tidak harus divaksin, tapi anak yang sakit itu tidak boleh sekolah,” katanya.

Di sisi lain, Bupati Bandung Dadang Supriatna meninjau hari pertama pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas di SDN Cingcin 01Sidak SDN Cingcin 01.

Dadang menyebutkan, pada awal pelaksanaan PTM terbatas ini memang akan terasa aneh karena semua belum terbiasa, terlebih pada penerapan protokol kesehatan di lingkungan sekolah. Dimana setiap anak yang akan ikut PTM terbatas harus berbaris diluar sekolah, kemudian dicek suhu tubuhnya, jika memang suhu tubuhnya normal kemudian anak dipakaikan hand sanitizer dan bisa masuk ke ruangan kelas yang sebelumnya sudah disemprot desinfektan.

"Jadi dimulai pagi ini, anak-anak yang mulai belajar itu kelas satu dulu, dilihat protokol kesehatannya itu seperti apa. Mungkin PTM ini akan terasa aneh di awal-awal karena belum terbiasa, seperti contoh, tahun lalu kita ada intruksi harus pakai masker, kan kita sebagai orangtua atau orang yang sudah dewasa merasa takut, tapi setelah terbiasa kan akhirnya jadi kebiasaan," katanya.

Baca Juga: Kisah Pilu Pengungsi Sukajaya, Sehari-hari Hidup dalam Ketakutan, Tempat Tinggal Rawan Disambar Petir

Dadang melanjutkan, dari total 3000-an sekolah yang ada di Kabupaten Bandung, baru sekitar 1106 sekolah yang bisa melaksanakan PTM terbatas, diantaranya 671 Taman Kanak-Kanak (TK), 373 Sekolah Dasar (SD), dan 83 Sekolah Menengah Pertama (SMP). Untuk Sekolah Menengah Atas (SMA), ia mengatakan akan segera melakukan koordinasi dengan UPT SMA untuk mengetahui ada berapa banyak SMA yang melaksanakan PTM terbatas.

"Pelaksanaan PTM akan terus dilaksanakan secara bertahap dan kita akan pantau terus jangan sampai gambling, jadi dilaksanakan sebagian dulu itu jangan sampai kaget, tidak terkendali dan menimbulkan kerumunan baru yang pada akhirnya ada varian (covid-19) baru," ujarnya.

Dadang menyarankan agar para orangtua mengantar anaknya hingga benar-benar sampai di sekolah, saat ini pihaknya melarang anak menggunakan angkutan umum karena PTM terbatas masih dalam tahap ujicoba.

"Untuk penggunaan angkutan umum ini, nanti kita harus melakukan sosialisasi dulu," katanya.

Tekait pelaksanaan vaksinasi untuk anak-anak (siswa), Dadang mengaku telah melayangkan surat kepada Menko Maritim dan Investasi (Marvest) bahwa Kabupaten Bandung memerlukan obat vaksin untuk anak-anak sekolah agar mereka bisa segera melakukan vaksinasi. Jumlah anak-anak usia sekolah di Kabupaten Bandung, ada sekitar 750 ribu anak, karena itu pihaknya mengajukan sebanyak 1,5 juta dosis obat vaksin untuk dua kali penyuntikan. (rd dani r nugraha).


Editor : inilahkoran