Mari Mengenal FP2KC, Anak Muda Citatah Penyelamat Bukit Karang Peraih Kalpataru

FP2KC Bandung Barat meraih Kalpataru. Mereka menyelamatkan lingkungan, bebukitan dan karang di wilayah yang rentan.

Mari Mengenal FP2KC, Anak Muda Citatah Penyelamat Bukit Karang Peraih Kalpataru
Citatah

INILAHKORAN, Ngamprah - Forum Pemuda Karst Citatah (FP2KC) Bandung Barat menjadi salah satu dari 10 penerima anugerah tertinggi Kalpataru 2021 bidang lingkungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Sukses meraih kategori penyelamat lingkungan, FP2KC Bandung Barat dinilai berhasil jadi pelindung karst dengan menghadirkan alternatif pengelolaan gunung batu gamping Citatah tanpa harus dirusak.

Bermarkas di Kampung Cidadap, Desa Padalarang, para pemuda ini datang bukan dengan alat berat untuk membuat tambang. Melainkan, menyuguhkan alternatif berbasis konservasi, edukasi, dan rekreasi yang melibatkan pemberdayaan masyarakat.

Bukit-bukit yang semula jadi sasaran tambang diubah menjadi wisata edukasi dan konservasi. Sebut saja Pasir Pawon, Tebing Masigit, Tebing Hawu dan Pabeasan, Stone Garden, Kawasan Pegunungan Sanghyang, dan Karang Panganten. Di lokasi itu kini hadir, wisata ekstrim Hammock, panjat tebing, camping, dan lainnya.

Baca Juga: Jelang PTM, Pemkab Bandung Barat Imbau Para Pelaku Transportasi Segera Divaksin

Ketua FP2KC, Deden Syarif Hidayat menyebut, pencapaian yang diraihnya dinilai belum seberapa. Faktanya kawasan Karst Citatah saat ini masih terancam.

"Kita belum mendapat hasil besar karena pertambangan masih ada. Capaian sudah ada seperti di Sekitar Pasir Pawon, Tebing Masigit, Tebing Hawu dan Pabeasan, Stone Garden, Kawasan Pegunungan Sanghyang, dan Karang Panganten," sebutnya.

"Meski sudah kita lakukan upaya penyelamatan tempat-tempat ini bukan sepenuhnya bersih penambangan, disekitarnya tetap masih ada," sambungnya.

Ia juga mengaku, penghargaan tersebut tidak terlalu menggembirakan. Menurutnya, ini hanya sebagai pelipur lara sementara dan tidak ingin terlena.

"Jangan sampai kaya anak kecil yang sudah diberi hadiah terus kami diam. Karena perjuangannya masih panjang. Meski begitu ini positif juga, kami dedikasikan kepada seluruh masyarakat yang ikut berjuang," ujarnya belum lama ini.

Baca Juga: Ternyata, Banyak Pengusaha Minimarket Bandung Barat Galau Gara-gara Omnibus Law

Ia menjelaskan, FP2KC melakukan upaya penyelamatan Karst Citatah mulai tahun 2009. Berawal kekhawatiran dampak negatif kegiatan tambang seperti dentuman getaran peledakan dinamit, kesulitan air, bencana longsor, hilangnya keanekaragaman hayati, hingga korban jiwa.

"Dari kekhawatiran itu lalu didiskusikan hingga mendapat kesimpulan bahwa kegiatan penambangan ini sudah tidak beres. Alhasil, kita menemukan banyak tambang ilegal, sporadis, dan tanpa aturan," jelasnya.

Lebih lanjut ia menerangkan, berbagai cara telah dilakukan mulai dari kampanye penyadaran, edukasi masyarakat, mendorong regulasi yang jelas, hingga turun ke jalan untuk aksi.

"Tahun 2011 kita mulai masif, awalnya penyadaran dulu terus membangun opini dengan membuat sosialisasi kepada masyarakat dan buat acara-acara atraktif agar mereka melek bahwa tebing juga bisa jadi area bermain, bisa bermanfaat selain di tambang.

Baca Juga: Deteksi Dini Penyalahgunaan Narkoba, BNNK Bandung Barat Tes Urine 384 ASN

Tak hanya itu, kata dia, pihaknya juga sering buat pengibaran bendera raksasa tujuannya agar mengundang perhatian publik.

"Bahkan, kita juga pernah beberapa kali demonstrasi guna menyakinkan pemerintah," katanya.

Dalam perjalanannya perjuangan FP2KC tak selalu mulus, ia mengaku, batu sandungan hadir berbentuk ancaman dibunuh, didatangi orang tak dikenal, hingga dicibir warga.

Kendati demikian, ia bersama kawan-kawannya terus konsisten dan meyakini bahwa solusi yang dihadirkan memang menjawab permasalahan.

Hingga akhirnya, ia pun mengambil jalan alternatif dengan membuat wisata supaya masalah perut warga yang menggantungkan dari tambang bisa dialihkan.

"Wisata adalah pilihan alternatif yang bukan tanpa risiko juga. Makanya kita betul-betul tekankan wisata berbasis konservasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat. Tapi setidaknya ini bisa jadi pilihan ekonomi masyarakat," tandasnya. (agus satia negara).


Editor : inilahkoran