Tekan Ikan Mati di Waduk Saguling, Dispernakan KBB Intruksikan Hal Ini ke KJA
Dispernakan KBB menginstruksikan pembudidaya ikan kolam jaring apung di Waduk Saguling dan Cirata untuk mewaspadai cuaca ekstrem.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Pasca-matinya puluhan ton ikan yang mati mendadak di Waduk Saguling, Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan), Kabupaten Bandung Barat (KBB), telah menginstruksikan pembudidaya ikan kolam jaring apung (KJA) di Waduk Saguling dan Cirata untuk mewaspadai cuaca ekstrem yang terjadi tiba-tiba.
Pasalnya, hal itu dilakukan guna meminimalisasi banyaknya ikan yang mati akibat terjadi umbalan air. Termasuk perubahan suhu air yang diakibatkan cuaca ekstrem.
Seperti diketahui sebelumnya, cuaca ekstrem yang ditandai dengan hujan terus menerus dan minimnya sinar matahari membuat puluhan ton ikan di perairan waduk Saguling dan Cirata, Kabupaten Bandung Barat (KBB) mengalami mati mendadak.
Kondisi tersebut terjadi dalam beberapa hari terakhir. Akibat cuaca dingin dan naiknya air bawah yang bercampur dengan sedimentasi endapan pakan ke permukaan, membuat ikan yang dibudidayakan di kolam jaring apung (KJA) mati akibat keracunan dan kehabisan udara segar.
Baca Juga: Kelompok KJA Waduk Saguling Meradang, Puluhan Ton Ikannya Mati Mendadak
"Surat imbauan dari bulan Agustus sudah kami sampaikan ke berbagai kelompok paguyuban KJA di Saguling dan juga Cirata, KBB. Guna mengantisipasi terjadinya umbalan air yang bisa menyebabkan ikan mati," kata Kasi Kesehatan Ikan dan Lingkungan, Dispernakan KBB Iip Kusyaman, belum lama ini.
Ia menjelaskan, umbalan air atau yang sering disebut upwelling kerap kali terjadi setiap tahunnya. Terlebih, pada saat kondisi cuaca ekstrem ketika memasuki musim penghujan. Sehingga sebagian pembudidaya ikan sudah bisa memprediksi kapan akan terjadi dengan memperhatikan kondisi cuaca.
"Tapi kami tetap memberikan rekomendasi kepada pembudidaya ikan agar melakukan langkah-langkah antisipasi. Seperti panen penjarangan untuk ikan yang sudah besar, jangan dulu menebar benih, mengurangi intensitas pemberian pakan ketika kualitas air jelek, dan mengurangi kepadatan tebar ikan," jelasnya.
Baca Juga: Dukung Citarum Harum, Pembudidaya Kolam Jaring Apung di Saguling Mulai Alih Usaha ke Kolam Darat
Menurutnya, langkah-langkah tersebut bisa meminimalisir kerugian kematian ikan yang diakibatkan umbalan air, sehingga kerugian pembudidaya ikan KJA tidak besar.
Selain itu, sambung dia, memberdayakan Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) untuk melaporkan ke dinas ketika terjadi sesuatu di kolam. Seperti ketika ada ikan mati, pelanggaran penangkap ikan yang memakai porkas, pukat, dll.
"Dengan begitu kami bisa langsung menindaklanjuti untuk menghindari kerugian pembudidaya ikan yang lebih besar," tuturnya.
Baca Juga: Hewan Purba Pernah Hidup di Waduk Saguling, Tim ITB Beberkan Fakta-fakta Ini...
Ia mengaku, pihaknya memiliki kewajiban untuk menjaga produktivitas hasil ikan di KBB tetap tinggi. Seperti di Dermaga Bongas semalem bisa menghasilkan 10 ton, Dermaga Rancapanggung 5 ton, Dermaga Cihampelas 7 ton, belum termasuk Cirata.
"Jadi kalau banyak ikan mati produksi turun, dan kami tidak mau itu terjadi," ujarnya.***(agus satia negara)
Editor : inilahkoran


