Fanny Chotimah, Pembuat Film Dokumenter di Bandung yang Ingin Hidup 'Seribu Tahun Lagi'
Fanny Chotimah bicara soal cerita sukses di balik sepak terjangnya dalam dunia film dokumenter hingga diganjar penghargaan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Darah seni mengalir di darah Fanny Chotimah. Wanita kelahiran Bandung 1983 ini, sejak kuliah sudah bergaul dengan teman-teman pembuat film dokumenter.
Memang dari dulu, Fanny Chotimah memiliki ketertarikan yang kuat dengan seni film, sastra ataupun pertunjukan meski awalnya hanya sebagai penikmat.
Pada tahun 2006 lalu, Fanny Chotimah pindah ke Kota Solo mendirikan komunitas film dan juga aktif membuat film sejak tahun 2011.
Baca Juga: Deal Jadi Sahabat, Shawn Mendes dan Camila Cabello Akhirnya Putus
Selama ini Fanny Chotimah lebih sering bergelutsebagai periset, penulis naskah atau produser. Untuk sutradara film You and I (2020) merupakan debut sebagai sutradara film documenter panjang pertama.
"Ada berbagai alasan, diantaranya salah satunya bahwa kedekatan yang sudah terjalin dengan subyek dan juga keberpihakan kepada kemanusiaan," kata Fanny Chotimah, Kamis 18 November 2021.
Berkat film You and I tahun 2020, Fanny Chotimah diganjar penghargaan, dan piala Citra di FFI 2020 dan piala Maya 2020 sebagai film documenter panjang terbaik.
Baca Juga: Anjing Pelacak hingga Ahli Spiritual Dikerahkan Cari Yana Supriatna yang Hilang di Cadas Pangeran
Lalu di DMZ International Film Festival Korea 2020 meraih Asian Perspective Award sebagai documenter pendek terbaik. Dan CPH:DOX International Film Festival di Copehagen, Denmark 2021 meraih Next:Wave Award.
"Semuanya saat berkesan, kalau yang paling diingat mungkin piala citra karena tidak pernah bermimpi akan memegang piala citra sebelumnya," ujar alumni SMAN 12 Bandung ini.
Menurut dia, berbicara masalah seni, dirinya tidak bisa berbicara seni lebih luas, yang dia ketahui film baginya tidak sekedar media untuk berekspresi, dimana pihaknya memiliki ruang kreativitas.
Tapi lebih jauh dari itu, film memiliki ketidakterbatasan seperti layaknya kehidupan ini, ada banyak wilayah-wilayah yang belum dijangkau dan dimaknai.
"Mungkin bagi saya itulah seni, ketika kita bisa menemukan diri kita sendiri," imbuh Fanny Chotimah.
Baca Juga: Petani di Kampung Sirnagalih Menjerit, Lahan 4 Hektare Terancam Gagal Panen Usai Diterjang Banjir
Kata dia, memilih jalan hidup di kesenian pastinya tidak mudah, ada banyak rintangan terutama untuk tetap konsisten dan produktif.
"Mencapai titik dimana kita bisa hidup dari seni pun, butuh proses terkadang sangat lama. Namun, saya percaya apa yang kita raih merupakan imbalan dari usaha dan kerja keras kita," jelas lulusan STIKOM London School of Public Relation, 2005, Bachelor Degree in Mass Communication ini.
Baca Juga: Alpukat Miliki Banyak Kandungan Dahsyat, dr. Zaidul Akbar Bongkar Manfaat dan Cara Pengolahannya
Sebagai pelaku seni, dia berharap, hidup ini hanya singkat dan dia ingin hidup seribu tahun lagi, dirinya akan abadi melalui karya-karyanya.*** (Okky Adiana)
Editor : inilahkoran


