INILAHKORAN-Ratusan disabilitas dan lansia di Kecamatan Majalaya dan Cicalengka mendapatkan vaksinasi covid-19 dosis kedua yang digelar oleh Ibu Foundation di GOR KONI Kecamatan Majalaya Kabupaten Bandung, Selasa (14/12/2021).
Projek Manager Ibu Foundation, Silvia Dewi mengatakan, penyandang disabilitas dan lansia adalah kelompok masyarakat beresiko tinggi sehingga harus dilindungi serta mendapatkan prioritas vaksinasi.
Sehingga, vaksinasi terhadap penyandang disabilitas, lansia, ibu hamil dan remaja menjadi salah satu respon dari Ibu Foundation yang bekerjasama dengan CBM Global Disability Inclusi.
"Ini adalah pemberian vaksin dosis kedua untuk kawan-kawan disabilitas dan lansia. Kami bekerjasama dengan beberapa Sekolah Luar Biasa (SLB) di Cicalengka dan Majalaya serta dengan pihak kecamatan. Totalnya ada 211 orang, 111 diantaranya adalah disabilitas," kata Silvia disela kegiatan vaksinasi.
Menurut Silvia, pihaknya sengaja menggelar vaksinasi bagi disabilitas dan lansia dengan mendekatkan disekitar tempat tinggal mereka. Karena selama ini mereka kesulitan mobilitas untuk mendatangi berbagai event besar vaksinasi masal yang diselenggarakan di tempat tertentu.
Hasilnya, Ibu Foundation ini telah menggelar vaksinasi bagi disabilitas dan lansia dilima tempat. Yakni di Kecamatan Cimenyan, Cileunyi, Cibiru Wetan, Ciparay dan hari ini di Majalaya.
"Setiap penyelenggaraan kami bekerjasama dengan SLB dan pihak kecamatan. Dan sebenarnya yang lumayan sulit itu menjangkau lansia, karena tersebar dimana-mana. Kalau disabilitas mudah dijangkau karena ada SLB dan komunitasnya. Untungnya, kami juga dibantu oleh para relawan lokal yang semangat merekrut dan memobilisasi lansia ke tempat vaksinasi," ujarnya.
Silvia melanjutkan, selama ini masyarakat secara umum menganggap jika disabilitas adalah suatu komorbiditas (penyakit penyertaa atau bawaan). Padahal, bukan penyakit dan justru mereka itu adalah kelompok yang harus dilindungi dengan mendapatkan prioritas vaksinasi. Anggapan ini bahkan dirasakan juga oleh mereka penyandang disabilitas.
"Sehingga kami terus melakukan sosialisasi melaui SLB dan komunitas. Agar mereka paham bahwa disabilitas itu bukan komorbiditas. Justru harus mendapatkan prioritas vaksinasi. Nah untuk vaksinasi untuk disabilitas dan lansia itu kami punya target sebanyak 2000 orang, vaksin kesatu sudah selesai dan sekarang mulai yang kedua," ujarnya.
Karena disabilitas ini harus mendapatkan perlakuan khusus, jelas Silvia, pemberian vaksinasi oleh tim medis pun disiapkan senyaman dan semenarik mungkin. Salah satu caranya, pakaian Alat Pelindung Diri (APD) yang dipakai oleh petugas medis dan vaksinator bergambar tokoh-tokoh kartun animasi. Karena jika memakai APD dengan warna yang biasa dikhawatirkan menimbulkan ketakutan dan stres.
"Terkadang karena penyandang disabilitasnya hiperaktif atau yang autis harus pelan-pelan. Bahkan sampai divaksinnya di taman atau halaman gedung. Yah kitanya memang harus sabar dan menyesuaikan keinginan mereka," katanya.
Dewi (45) salah seorang orang tua penyandang disabilitas asal Cicalengka mengaku senang anaknya yang bernama Cindi (15) bisa mendapatkan vaksinasi covid-19. Dengan begitu, anaknya yang sekolah di SLB A YPKR Cicalengka itu telah terlindungi dari ancaman virus corona.
"Alhamdulilah anak saya dan saya mendapatkan kesempatan divaksin. Sekarang jadi lebih tenang, apalagi anak saya ini kan disabilitas yang termasuk kelompok resiko tinggi," katanya.
Hal senada dikatakan oleh Kepala SLB A YPKR Atep Iswandi. Pihaknya bersyukur dengan adanya program vaksinasi covid-19 dengan sasaran para penyandang disabilitas. Karena memang kelompok disabilitas ini beresiko tinggi. Disisi lain, kebanyakan dari merek tidak bisa mendatangi atau mengakses tempat-tempat vaksinasi masal yang biasa digelar secara umum.Dari sekolahnya itu, ia mengirim sebanyak 21 orang anak penandang disabilitas. Mereka berasal dari berbagai disabilitas namun dengan batasan usia 12 tahun keatas.
"Alhamdulilah ada kegiatan ini, karena memang untuk disabilitas itu harus ada perlakuan khusus. Contohnya untuk anak disabilitas yang hiperaktif kan mereka malah lari-larian terus dan itu harus dibujuk supaya diam dan mau di vaksin. Sekarang adalah vaksinasi kedua, Alhamdulilah lancar, tapi dari sebelumnya 21 orang, yang sekarang datang 17 orang, sisanya belum bisa ikut karena lagi sakit," ujarnya.(rd dani r nugraha)***.