Tas Bambu Asal KBB Kini Sepi Pembeli Padahal Dulu Pembelinya Tembus Amerika Serikat

Sebuah kebanggaan tersendiri bagi Roni warga Kampung Bojongkerta RT06/RW05 Desa Rancapanggung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat

Tas Bambu Asal KBB Kini Sepi Pembeli Padahal Dulu Pembelinya Tembus Amerika Serikat
bisnis kerajinan tangan dari bambu itu kini meredup seiring dengan datangnya pandemi COVID-19 ke tanah air.
 
INILAHKORAN, Ngamprah - Sebuah kebanggaan tersendiri bagi Roni warga Kampung Bojongkerta RT06/RW05 Desa Rancapanggung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat(KBB).
 
Hal itu tak lain berkat kreativitas dan kemampuannya dalam mengolah bambu menjadi berbagai kerajinan yang menarik dan bermanfaat.
 
Salah satu karyanya yang berhasil menembus kancah dunia ada tas berbahan dasar bambu yang banyak diminati warga Amerika Serikat. Bahkan, sejumlah negara pun turut melakukan pemesanan secara langsung tas bambu hasil karya Roni tersebut.
 
 
Kendati demikian, bisnis kerajinan tangan dari bambu itu kini meredup seiring dengan datangnya pandemi COVID-19 ke tanah air.
 
Ia mengatakan, ide tersebut datang dari sahabatnya pada tahun 2009 lalu, dengan memanfaatkan bambu dirinya membuat tikar lalu berlanjut ke kursi, tempat tidur hingga kontruksi.
 
"Mulai 2013 saya mulai membuat tas dan berjalan sampai 2017, untuk sekarang masih kurang pembeli dari 2019 dan 2020," katanya.
 
 
Ia mengaku, ada sejumlah kendala yang dihadapi, terutama dalam hal pemesanan baik konsumen maupun modal, bahkan sempat berhenti produksi kala itu.
 
"Malah hampir berhenti produksi, tapi dari tahun 2021 hingga 2022 mulai masuk konsumen," ungkapnya.
 
Terkait dengan bahan baku yang digunakan, ia menyebut, bahan yang dipilih merupakan bahan yang berkualitas baik dan asli dari Bandung Barat.
 
 
"Bahan baku yang kami pakai diprioritaskan dari lokal dan hasil karyanya kami sudah jual ke negara luar, seperti Inggris, Jerman, Italia, Dubai, dan Arab Saudi," sebutnya.
 
Sementara, sambung dia, untuk harga dari setiap karyanya dijual bervariatif mulai dari kisaran Rp 150 ribu-Rp 250 ribu untuk harga satuan.
 
"Jika partai besar ia mematok sekitar Rp120 ribu jauh lebih murah," ujarnya.
 
 
Tak hanya itu, dari wirausaha yang dirintisnya ia menyebut, dirinya mampu memberdayakan masyarakat sekitar dan warga Desa Rancapanggung sebanyak 50 orang.
 
"Tapi di tengah pandemi seperti sekarang ini, dirinya hanya bisa memperkerjakan hanya ada dua orang, itu pun kalau ada pesanan," ujarnya. *** (agus satia negara).
 
 
 
 


Editor : inilahkoran