Tingkat Kesembuhan Hewan Ternak Terinfeksi PMK di Kota Bandung Capai 90 Persen

DKPP Kota Bandung mengklaim hewan ternak atau sapi yang terinfeksi PMK semuanya hamir sudah sembuh dan capai 90 persen

Tingkat Kesembuhan Hewan Ternak Terinfeksi PMK di Kota Bandung Capai 90 Persen
DKPP Kota Bandung memastikan hewan ternak yang sempat terjangkit PMK sudah berangsur sembuh.

INIKAHKORAN, Bandung - Hewan ternak terinfeksi penyakit mulut dan kuku (PMK) di Kota Bandung mayoritas telah sembuh. Saat ini hanya tersisa delapan ekor hewan ternak yang masih sakit dan tengah menjalani tahap pengobatan.

"Jadi, dari 150 yang terkonfirmasi dan 300 lebih yang terduga. Sekarang tinggal delapan ekor lagi yang masih sakit. Tingkat kesembuhannya tinggi hampir lebih dari 90 persen. Ini menjadi satu keberhasilan," kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung Gin Gin Ginanjar, Jumat 5 Agustus 2022.

Menurut Gin Gin Ginanjar, penurunan angka hewan ternak yang terinfeksi PMK disebabkan karena proses penanganan dan penyembuhan dilakukan melalui pemberian vitamin dan bio security, serta memelihara kesehatan hewan mulai dari kebersihan kandang.

Baca Juga: Dua Bulan, PMK Timbulkan Kerugian Peternak di KBB hingga Rp17 Miliar

"Itu sudah menjadi pola perilaku dari para peternak, jadi mereka sudah paham itu. Kemudian menjaga mobilitas hewan supaya tidak terlalu tinggi arus lalu lintasnya, juga jangan mendatangkan hewan dari luar, itu mendorong percepatan kesembuhan. Ini menjadi salah satu langkah untuk mempertahankan kondisi yang relatif stabil di Kota Bandung," ucapnya.

Gin Gin menyebut, saat ini pihaknya juga sedang melakukan vaksinasi hewan ternak tahap kedua dengan dosis mencapai 400. Sebelumnya tahap pertama hewan ternak sudah mendapat suntik vaksin untuk 200 dosis yang diprioritaskan ke lokasi terinfeksi.

"Kita sudah vaksinasi kedua untuk PMK ya. Dari 200 vaksin yang sudah diberikan sebelumnya untuk dosis satu, sekarang sudah 400 dosis lagi diberikan untuk dosis kedua. Dan dengan adanya kurban sebenarnya menjadi berkurang kuantitas populasi," ujar dia.

Baca Juga: Kasus PMK Nol Kasus, Dispernakan Ungkap Datanya

Gin gin menambahkan, pihaknya juga telah mendapatkan bantuan untuk penanganan PMK dari dana bantuan tidak terduga (BTT). Beberapa diantaranya alat perlindungan diri untuk petugas maupun peternak yang disebar seusai prioritas.

"Kita mendapatkan bantuan untuk pembelian obat, alat kesehatan, APD, semua dikhususkan untuk PMK. Jadi itu sifatnya bukan bantuan yang disebar, tapi kita yang kendalikan, kita yang melakukan pengobatan. Karena tidak semua peternak bisa melakukan injeksi," tandasnya. *** (Yogo Triastopo)
Area lampiran


Editor : inilahkoran