Banjir Jonggol-Bogor Barat, Dedi Mulyadi Sebut Tata Ruang Jadi Biang Kerok

Banjir yang kembali merendam sejumlah titik di Kabupaten Bogor dan Kota Bogor, bukan sekadar bencana musiman.

Banjir Jonggol-Bogor Barat, Dedi Mulyadi Sebut Tata Ruang Jadi Biang Kerok
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi./INILAHKORAN-Yuliantono

INILAHKORAN.ID - banjir yang kembali merendam sejumlah titik di Kabupaten Bogor dan Kota Bogor, bukan sekadar bencana musiman. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyebutnya sebagai konsekuensi serius dari carut-marut tata ruang, yang dibiarkan berlangsung bertahun-tahun.

Peristiwa banjir pada Senin (4/5/2026) terjadi di Kecamatan Jonggol akibat meluapnya Sungai Cipamingkis. Sementara di wilayah Bogor Barat, genangan muncul di Jalan Rimba Baru, memperlihatkan rapuhnya daya dukung lingkungan di kawasan tersebut.

Dedi menilai, bencana yang terus berulang ini tidak bisa lagi dilihat sebagai faktor alam semata. Ia menegaskan, alih fungsi lahan hijau menjadi kawasan permukiman dan pembangunan telah menghilangkan fungsi vital daerah resapan air.

"Saya sangat memahami berbagai problem kerusakan alam di Kabupaten Bogor. Maka suatu hal yang memang agak unik Bogor hari ini banyak banjir, longsor. Itu disebabkan karena perubahan tata ruang di Kabupaten Bogor," ujar Dedi dikutip dari akun media sosialnya, Selasa (5/5/2026).

Menurutnya, perubahan tata ruang di Bogor telah terjadi dalam skala besar dan berlangsung lama, tanpa kendali yang memadai. Dampaknya kini terasa nyata dalam bentuk banjir dan longsor yang datang silih berganti.

Sebagai langkah korektif, Pemerintah Provinsi Jawa Barat tengah mendorong pemulihan fungsi ekologis wilayah Bogor, mulai dari kawasan pegunungan, aliran sungai, hingga danau yang selama ini terdegradasi.

"Saat ini kami pemerintah Provinsi Jabar berusaha untuk mengembalikan tata ruang Bogor agar gunung-gunungnya terselamatkan, aliran sungainya terselamatkan, danau-danaunya. Danau-danaunya terselamatkan sehingga bencana tidak datang dalam setiap waktu," ucapnya.

Dedi juga menggarisbawahi posisi strategis Bogor sebagai wilayah hulu, yang menopang kawasan hilir di sekitarnya. Kerusakan yang terjadi di Bogor, kata dia, akan berdampak langsung ke daerah lain seperti Bekasi, Karawang hingga Jakarta.

"Bogor itu bukan hanya untuk rakyat Bogor. Bogor menjaga Bekasi, Bogor menjaga Karawang, Bogor menjaga Jakarta," katanya.

Sorotan khusus diarahkan ke kawasan Sukamakmur di Jonggol. Wilayah perbukitan yang semestinya menjadi benteng alami penahan air, kini berubah menjadi permukiman, memperbesar risiko limpasan air saat curah hujan tinggi.

Dedi mengingatkan pentingnya komitmen bersama, dalam menjaga kelestarian Bogor. Ia menilai, eksploitasi ruang tanpa memperhitungkan aspek lingkungan hanya akan memperparah ancaman bencana di masa depan.

"Ingin Bogor terbebas dari bencana, Bekasi terjaga dari bencana, Karawang terjaga dari bencana, Jakarta terjaga dari bencana, yuk kita bersama-sama jaga wilayah Bogor jangan hanya menjadi pusat eksploitasi berbagai kepentingan dengan menyampingkan aspek keselamatan dan keasrian alam," tandasnya. ***


Editor : JakaPermana