Banyak Bayi Stunting Lantaran Ibu Muda di Kabupaten Bogor Tidak Memahami Pentingnya ASI

Kabupaten Bogor dikaruniai alam yang indah dan subur hingga menjadi daerah penghasil padi, sayur mayur, peternakan dan perikanan.

Banyak Bayi Stunting Lantaran Ibu Muda di Kabupaten Bogor Tidak Memahami Pentingnya ASI
Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Bogor Azwar Anas melihat tingginya angka bayi stunting, karena rendahnya pengetahuan ibu hamil yang menyusui ketimbang faktor ekonomi. (reza zurifwan)

INILAHKORAN, Bogor - Kabupaten Bogor dikaruniai alam yang indah dan subur hingga menjadi daerah penghasil padi, sayur mayur, peternakan dan perikanan.

Namun, mirisnya angka atau jumlah bayi stunting di Kabupaten Bogor, tertinggi kedua di Provinsi Jawa Barat. Dengan jumlah presentasi bayi stuntingnya mencapai 27,6 persen.

Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Bogor Azwar Anas melihat tingginya angka bayi stunting, karena rendahnya pengetahuan ibu hamil yang menyusui ketimbang faktor ekonomi.

Hingga, dibutuhkan sosialisai pentingnya pemberian Air Susu Ibu (ASI) dan makanan tambahan bergizi kepada bayi.

"Saya melihat, orang tua yang bayinya stunting orang tuanya tidak miskin. Jadi, banyak penyebab bayi stunting tidak memahami pentingnya ASI, makanan tambahan bergizi hingga anak bayinya diberikan makanan junk food,"  ucap Azwar Anas kepada wartawan, Selasa 19 November 2024.

Azwar Anas menuturkan banyak ibu muda tidak memahami pentingnya ASI bagi anak bayinya, lalu mereka juga 'termakan' iklan susu formula di televisi atau media lainnya.

"Banyak ibu muda tidak mau menyusui dan mengandalkan susu formula karena di tayangan iklannya banyak kandungan zat yang bagus buat pertumbugan, padahal ASI adalah susu terbaik buat bayi. Lalu, juga ada ibu muda yang tak ingin payudaranya kendor, hingga memilih susu fornula untuk bayinya, padahal pemberian ASI pada anak bayi bisa mencegah penyakit kanker," tuturnya.

Lalu, Azwar Anas  pun meminta Dinas Kesehatan melalui kader - kader Posyandu, menggalakkan kembali pemberian makanan tambahan.

"Pemberian makanan tambahan harus digalakkan kembali dengan anggaran yang lebih besar, hingga bisa dilaksanakan secara lebih rutin dan lebih banyak penerima manfaat program pemberian makanan tersebut," pintanya. 


Editor : Doni Ramdhani