Beda Reaksi PKL Cicadas Soal Pembangunan BRT, 40 Persen Menolak Relokasi
Banyak para PKL Cicadas masih menolak relokasi terkait rencana pembangunan BRT di Bandung. Penyebabnya ketidakjelasan nasib.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID- Rupanya, rencana pembangunan jalur Bus Rapid Transit (BRT) masih menyisakan gelombang penolakan dari para Pedagang Kaki Lima (PKL) di area Cicadas, Bandung.
Hingga hari ini, rencana pembangunan BRT belum disambut positif seluruh PKL di Cicadas. Sebanyak 60 persen menerima namun 40 persen lainnya menolak.
Berdasarkan data internal persatuan PKL Cicadas, dari 557 pedagang yang saat ini aktif sekitar 60 persen memang menyatakan bersedia direlokasi dengan kompensasi demi memuluskan rencana proyek pembangunan BRT.
Ketua Persatuan PKL Cicadas, Suherman mengatakan, ketidakjelasan nasib pedagang membuat banyak di antara mereka merasa cemas.
"Pedagang sudah menanyakan apa yang akan terjadi. Ada yang ingin tetap berjualan, ada yang ingin menerima kompensasi. Dari hasil tanya langsung, sekitar 60 persen mau direlokasi atau menerima kompensasi dan 40 persen menolak," kata Suherman, Jumat 30 Januari 2026.
Menurutnya hingga saat ini pedagang belum menerima sosialisasi resmi dari pihak pemerintah atau pengelola BRT.
"Sampai sekarang belum ada sosialisasi. Kami tidak tahu akan dikemanakan, kalau direlokasi pun tidak mau jauh dari Cicadas. Dan soal kompensasi juga belum jelas," ucapnya.
Ketidakjelasan tersebut, diperparah dengan proses administrasi yang belum tuntas. Pedagang sempat menerima surat peringatan (SP1) pada Desember lalu, diikuti SP2 tetapi SP3 belum diterbitkan.
"Kami menunggu keputusan resmi, dan komitmen pemerintah terkait pencabutan SK atau langkah selanjutnya. SP3 sampai sekarang belum muncul," ujar dia.
Suherman menambahkan, pemerintah melalui Satpol PP hanya menanyakan jumlah PKL dan kemungkinan lokasi relokasi serta besaran penggantinya tanpa memberi kepastian lebih lanjut.
"Kasatpol bilang yang pertama mereka ingin tahu jumlah PKL. Kedua kalau mau pindah ke mana, dan kalau diganti berapa. Itu saja yang mereka sampaikan," tuturnya.
Dari sudut pandang pedagang, masalah utama bukan hanya soal lokasi baru. Tetapi juga keberlangsungan usaha dan pendapatan sehari-hari. Sebagian pedagang masih berharap bisa tetap berjualan di Cicadas, sementara yang lain mempertimbangkan opsi relokasi jika kompensasinya laik.
Hingga kini, Suherman dan para pedagang masih menunggu langkah resmi dari pemerintah dan pengelola BRT. "Belum ada kejelasan untuk semua PKL. Pedagang harus siap-siap menghadapi situasi yang belum pasti ini," ujar dia.***
Editor : Bsafaat

