Benteng Terkuat Hadapi Deep Fake, Rustiyana: Integritas dan Literasi Manusia

Di tengah lautan informasi digital yang semakin luas dan kompleks, sebuah ancaman tersembunyi terus berkembang, yakni konten Deep Fake yang bisa dengan mudah membingungkan realitas dan rekayasa. 

Benteng Terkuat Hadapi Deep Fake, Rustiyana: Integritas dan Literasi Manusia
Ketua PGRI sekaligus Sekretaris Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Bandung Barat (KBB) Rustiyana menegaskan bahwa pendidikan harus menjadi fondasi untuk membekali generasi muda dengan alat bukan hanya untuk beradaptasi dengan teknologi, tetapi juga untuk membedakan mana yang benar dan mana yang palsu. (ilustrasi)

INILAHKORAN.ID - Di tengah lautan informasi digital yang semakin luas dan kompleks, sebuah ancaman tersembunyi terus berkembang, yakni konten Deep Fake yang bisa dengan mudah membingungkan realitas dan rekayasa. 

Menjawab tantangan ini, Ketua PGRI sekaligus Sekretaris Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Bandung Barat (KBB) Rustiyana menegaskan bahwa pendidikan harus menjadi fondasi untuk membekali generasi muda dengan alat bukan hanya untuk beradaptasi dengan teknologi, tetapi juga untuk membedakan mana yang benar dan mana yang palsu.
 
“Saat ini, setiap kali anak kita mengunggah foto selfie resolusi tinggi atau video wajah secara sembarangan di platform publik, mereka tidak sadar memberikan ‘bahan baku’ gratis bagi pembuat Deep Fake,” kata Rustiyana, Sabtu 10 Januari 2026.

“Itulah mengapa kita tidak hanya mengajarkan mereka untuk mewaspadai konten orang lain, tetapi juga untuk melindungi data biometrik mereka sendiri,” sambungnya.
 
Menurut Rustiyana, kesadaran untuk membatasi paparan data diri di dunia maya bukan hanya tentang menghindari Deep Fake semata. 

“Ini juga menjadi perlindungan dari berbagai ancaman keamanan digital lainnya, mulai dari pencurian identitas hingga peretasan akun pribadi,” jelasnya.
 
Dalam pembelajaran di kelas, siswa diajarkan langkah-langkah praktis untuk menjadi pengguna digital yang bijak, seperti memilih pengaturan privasi yang tepat pada platform sosial media, tidak memberikan informasi pribadi kepada pihak yang tidak dikenal.

"Termasuk berpikir dua kali sebelum mengunggah konten yang menampilkan wajah atau informasi khas diri mereka," ucapnya.
 
Peran guru dalam membangun literasi digital ini, menurut Rustiyana, memiliki peran sentral yang tidak bisa digantikan. 

Namun, pendekatan yang digunakan haruslah tepat agar tidak membuat siswa menjadi anti-teknologi.
 
“Guru tidak boleh hanya menakut-nakuti siswa dengan berbagai risiko teknologi,” tegasnya. 

Pihaknya juga ingin mereka bisa menikmati kemudahan dan kreativitas yang dibawa oleh Kecerdasan Artifisial, misalnya dalam membuat karya seni, menyusun proyek pembelajaran, atau bahkan mengembangkan ide bisnis. 

"Namun, mereka juga harus memiliki kompas etika yang kuat untuk mengetahui batasan mana yang tidak boleh dilanggar saat berkreasi atau berinteraksi di dunia digital,” ujarnya.
 
Rustiyana menyebut, guru dilatih untuk menjadi fasilitator diskusi yang membuka wawasan siswa tentang dua sisi mata uang teknologi. 

"Mereka membantu siswa memahami bahwa teknologi itu sendiri bersifat netral, nilai positif atau negatifnya terletak pada cara orang menggunakannya," sebutnya.
 
Rustiyana menekankan, upaya melawan ancaman Deep Fake dan informasi palsu lainnya tidak bisa hanya bergantung pada perangkat lunak pendeteksi canggih. 

“Benteng terkuat yang bisa kita bangun adalah integritas dan literasi manusia yang tumbuh dari pendidikan yang baik,” katanya.

Rustiyana menilai program yang terintegrasi dalam kurikulum Koding dan Kecerdasan Artifisial saat ini tidak hanya fokus pada kemampuan teknis, tetapi juga pada pembentukan karakter yang bijaksana. 

“Kita sedang membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga mampu mengambil keputusan yang benar di tengah lautan informasi yang seringkali membingungkan,” bebernya.
 
Mereka, kata dia, adalah penjaga kebenaran yang akan membawa bangsa melewati badai informasi palsu di masa depan. 

“Jangan biarkan anak kita terjebak dalam dunia yang palsu. Berikan mereka alat untuk melihat kebenaran dengan jelas dan berdiri tegak dengan prinsip yang kuat,” pungkasnya.


Editor : Doni Ramdhani