Biji Plastik Melonjak 100 Persen, Pelaku Usaha Tertekan dan Kurangi Produksi
Owner PT Dollar Super Plastin Tasikmalaya Lungajaya Ho mengungkapkan, kenaikan harga biji plastik mencapai angka yang cukup ekstrem.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Lonjakan harga biji plastik mulai berdampak serius terhadap pelaku usaha di Kota Tasikmalaya. Kenaikan yang terjadi sejak menjelang Lebaran itu tidak hanya menekan biaya produksi, tetapi juga membuat permintaan pasar ikut melemah.
Owner PT Dollar Super Plastin Tasikmalaya Lungajaya Ho mengungkapkan, kenaikan harga biji plastik mencapai angka yang cukup ekstrem.
“Terutama untuk bahan baku, biji plastik naik sampai 100 persen. Sementara barang jadi baru bisa naik sekitar 60 persen,” ujarnya, Selasa (7/4/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut membuat margin usaha semakin tertekan. Di sisi lain, pasar juga mulai lesu karena harga jual yang ikut naik cukup tinggi.
“Pasaran barang jadi sudah mulai sepi. Yang dikhawatirkan, selain harga tinggi, pasokan biji plastik juga terhambat. Kalau sampai kosong, pabrik bisa berhenti karena tidak ada bahan baku,” katanya.
Mengantisipasi kondisi tersebut, pihaknya mulai menurunkan kapasitas produksi.
“Kita sudah mulai turunkan produksi. Permintaan juga berkurang, jadi kita slowdown supaya usaha tetap berkelanjutan,” tambahnya.
Dia berharap situasi global yang memicu kenaikan harga bisa segera mereda agar aktivitas industri kembali normal.
“Sementara ini masih aman, semoga saja kondisi perang cepat selesai supaya semuanya kembali normal,” ucapnya.
Hal serupa dirasakan pedagang di tingkat pasar. Pemilik toko Gudang Plastik di Pasar Cikurubuk, Ellen, menyebut kenaikan harga terjadi hampir di semua jenis produk plastik.
“Harga plastik ukuran 14-35-05 dari Rp28 ribu per kilo sekarang jadi Rp47 ribu. Yang ukuran 16-10-04 dari Rp27.500 naik jadi Rp48.800,” ungkapnya.
Dia mengatakan, kenaikan harga sudah mulai terasa sejak akhir Februari, bertepatan dengan meningkatnya tensi geopolitik global. Bahkan, dalam beberapa waktu terakhir, harga bisa berubah dalam hitungan hari.
“Kadang dua sampai tiga hari sekali naik, bahkan pagi naik, siang naik lagi. Intinya kenaikan sudah di atas 50 persen,” jelasnya.
Menurut Ellen, hampir semua produk berbahan plastik terdampak, mulai dari kantong kresek, gelas plastik, hingga kemasan makanan.
“Semua jenis plastik naik, tidak ada yang tidak. Bahkan kertas nasi yang ada lapisan plastiknya juga ikut naik,” katanya.
Kenaikan harga ini turut memengaruhi daya beli konsumen. Ia menyebut pembeli kini cenderung mengurangi jumlah belanja.
“Biasanya beli satu, sekarang jadi setengah, bahkan seperempat. Tapi mau tidak mau tetap beli karena kebutuhan,” ujarnya.
Untuk menjaga kestabilan, pihaknya juga mulai membatasi penjualan agar tidak terjadi penimbunan.
“Kita batasi supaya harga tetap seimbang. Dari supplier juga ada kekhawatiran stok terbatas,” katanya.
Ellen berharap pemerintah dapat turun tangan untuk menstabilkan harga, terutama di tingkat bahan baku.
“Harapannya pemerintah bisa lebih peka, minimal jadi penyeimbang langsung ke produsen biji plastik, supaya ada kestabilan harga,” pungkasnya.
Editor : Doni Ramdhani

