Tinggal di Gubuk 2×3 Meter, Nana Kustaman Berjuang Merawat Cucu di Tasikmalaya

Nana Kustaman, 74 tahun, tinggal di gubuk tak layak bersama cucunya di Tasikmalaya. Pemkot mengupayakan bantuan Rutilahu, terkendala administrasi tanah.

Tinggal di Gubuk 2×3 Meter, Nana Kustaman Berjuang Merawat Cucu di Tasikmalaya
Nana Kustaman, 74 tahun, tinggal di gubuk tak layak bersama cucunya di Tasikmalaya. Pemkot mengupayakan bantuan Rutilahu, terkendala administrasi tanah.

INILAHKORAN.ID– Di atas puing-puing reruntuhan rumah, sebuah gubuk berukuran sekitar 2×3 meter menjadi tempat Nana Kustaman, 74 tahun, bertahan hidup bersama cucunya, Seka, yang kini berusia 12 tahun.

Tempat tinggal mereka di Kampung Sindanghayu, RT 003/RW 005, Kelurahan Kahuripan, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya, jauh dari kata layak huni. Gubuk sederhana itu beratapkan asbes dan sebagian ditutup menggunakan banner bekas untuk menahan air hujan agar tidak langsung masuk ke dalam ruangan.

Bagi Nana, gubuk tersebut bukan sekadar tempat berteduh. Di sanalah ia merawat Seka seorang diri sejak cucunya masih kecil. Di usianya yang telah menginjak 74 tahun, Nana tetap berusaha memenuhi kebutuhan sang cucu yang memiliki keterbatasan dalam berbicara dan tengah mengalami gangguan kesehatan.

“Dari tahun 2003 sama cucu saja, dan kondisi cucu lagi sakit. Tuna wicara, kalau kuping bisa denger,” tutur Nana.

Ia mengaku, Seka dititipkan kepadanya sejak masih kecil ketika orang tua anak tersebut berpamitan untuk bekerja. Namun, hingga kini, keduanya tidak pernah kembali dan keberadaan mereka tidak diketahui.

“Dari kecil dititipin, katanya mau kerja dan anaknya dititip, tapi gak balik lagi sampai sekarang dan keberadaannya gak tahu ada dimana,” ujarnya.

Nana Pernah Menjadi Penarik Becak

Sejak saat itu, Nana menjalani hari-harinya dengan merawat sang cucu. Sebelum kondisinya seperti sekarang, ia pernah bekerja sebagai penarik becak. Kini, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Nana mengandalkan bantuan keluarga yang sesekali datang.

“Kadang-kadang dari keluarga dibantu sama ade saya juga,” katanya.

Nana mengaku memiliki empat anak yang kini tinggal berjauhan, di antaranya di Banjar, Tangerang, dan Singaparna. Namun, komunikasi dengan mereka sudah terputus sehingga ia menjalani kesehariannya bersama Seka.

Keterbatasan ekonomi dan kondisi tempat tinggal yang memprihatinkan membuat kehidupan keduanya semakin sulit, terutama ketika hujan turun. Atap yang tidak memadai membuat air masuk dan membasahi ruangan tempat mereka beristirahat.

“Hujan pertama basah semua, gak bisa tidur,” ungkap Nana.

Ia menceritakan, tempat yang kini ditempatinya dahulu merupakan rumah sederhana yang digunakan untuk tidur. Seiring waktu, bangunan tersebut runtuh dan menyisakan puing-puing yang kini menjadi alas berdirinya gubuk darurat.

Di tengah keterbatasan itu, Nana hanya berharap tempat tinggalnya dapat diperbaiki agar ia dan cucunya bisa hidup lebih aman dan nyaman.

“Pengennya dibangun supaya punya rumah yang layak huni saja,” ucapnya.

Pemkot Tasikmalaya Upayakan Bantuan Rutilahu

Pelaksana Tugas (Plt.) Lurah Kahuripan, Ruswan Fladimer Sialana, mengatakan pihak kelurahan telah berkoordinasi dengan sejumlah perangkat daerah untuk membantu Nana dan cucunya.

Dinas Sosial telah merespons dengan memberikan sejumlah bantuan, di antaranya terpal, kasur, dan sembako. Sementara itu, Dinas Kesehatan melalui Puskesmas juga telah mendatangi lokasi untuk memberikan obat kepada Seka.

“Kemudian mereka menyimpan nomor kontak di sini oleh Puskesmas, jadi kalau ada apa-apa yang tidak bisa ditangani oleh warga bisa langsung menghubungi Puskesmas,” kata Ruswan.

Menurutnya, pihak kelurahan juga tengah mengupayakan agar Nana dan cucunya memperoleh bantuan perbaikan rumah tidak layak huni (Rutilahu).

Namun, upaya tersebut masih terkendala persoalan administrasi pertanahan. Berdasarkan komunikasi dengan pengurus RT dan RW setempat, tanah yang ditempati Nana belum memiliki sertifikat.

Karena itu, pihak kelurahan berupaya mendorong penyelesaian administrasi sekaligus meminta persetujuan keluarga atau keturunan pemilik tanah agar proses pengajuan bantuan dapat berjalan.

“Kalau misalkan kami juga masukkan di sini bantuan rumah atau RTLH, itu kan dari segi administrasi harus lengkap, misalkan surat pertanahan atau persetujuan,” jelasnya.

Ruswan menegaskan, penyelesaian persoalan tanah menjadi penting agar pembangunan yang nantinya dilakukan tidak menimbulkan persoalan kepemilikan di kemudian hari.

“Kemarin kami di sini posisi sedang mendorong untuk bisa dapat RTLH atau sejenisnya. Kami juga minta ke RT dan bapaknya, kalau bisa minimal ada persetujuan dari keluarga, keturunan-keturunan yang memiliki tanah, biar administrasinya beres,” katanya.

Kesehatan Cucu Nana Turut Menjadi Perhatian

Selain mengupayakan perbaikan rumah, pihak kelurahan berkoordinasi dengan Puskesmas terkait kondisi kesehatan Seka.

Menurut Ruswan, sebelumnya telah ada upaya untuk membawa anak tersebut ke rumah sakit. Namun, penanganan akan diupayakan terlebih dahulu melalui Puskesmas sebelum dipertimbangkan rujukan lebih lanjut.

Ruswan menambahkan, Nana juga telah menerima Bantuan Sosial berupa beras dan Program Keluarga Harapan (PKH) yang disalurkan melalui rekening.

Meski sejumlah bantuan telah diterima, kondisi tempat tinggal Nana dan cucunya masih membutuhkan perhatian. Terlebih, musim hujan mulai tiba, sementara tempat berlindung mereka belum memadai.

“Kami melihat kondisi rumahnya seperti ini dan cuaca mulai memasuki musim hujan. Makanya kemarin dengan sigap kami maksimalkan dulu menggunakan banner,” pungkasnya.

Upaya bantuan perbaikan rumah kini masih membutuhkan penyelesaian administrasi pertanahan. Sementara itu, bagi Nana dan Seka, harapan sederhana untuk memiliki tempat tinggal yang layak menjadi hal penting agar keduanya dapat menjalani hari-hari dengan lebih aman.***


Editor : JakaPermana