Bio Farma Perkuat Dukungan Program Eliminasi Kanker Serviks

Bio Farma menegaskan komitmennya dalam mendukung rencana aksi nasional eliminasi kanker serviks yang diinisiasi Kementerian Kesehatan.

Bio Farma Perkuat Dukungan Program Eliminasi Kanker Serviks
Direktur Komersial Bio Farma Fitri Puspadewi mengatakan, Bio Farma memiliki vaksin HPV Nusagard dan alat deteksi dini HPV CerviScan yang dapat mendukung upaya pencegahan kanker serviks dan deteksi dini infeksi HPV. (istimewa)

INILAHKORAN.ID - Bio Farma menegaskan komitmennya dalam mendukung rencana aksi nasional eliminasi kanker serviks yang diinisiasi Kementerian Kesehatan.

Direktur Komersial Bio Farma Fitri Puspadewi mengatakan, Bio Farma memiliki vaksin HPV Nusagard dan alat deteksi dini HPV CerviScan yang dapat mendukung upaya pencegahan kanker serviks dan deteksi dini infeksi HPV.

“Vaksin HPV memberikan perlindungan terhadap tipe HPV yang dapat menyebabkan penyakit jinak maupun ganas, termasuk kanker serviks. Vaksinasi HPV juga dapat diberikan kepada perempuan maupun laki-laki. Saat ini, Bio Farma telah memiliki vaksin pencegahan HPV yang sepenuhnya diproduksi di dalam negeri dan telah memperoleh sertifikat halal,” ujar Fitri dalam keterangan resmi yang diterima INILAHKORAN.ID, Rabu (22/7/2026).

Fitri menjelaskan, vaksin HPV Nusagard memberikan perlindungan terhadap HPV tipe 6, 11, 16, dan 18. HPV tipe 16 dan 18 diketahui merupakan tipe berisiko tinggi yang berkaitan dengan terjadinya kanker serviks, sementara tipe 6 dan 11 berkaitan dengan penyakit lain yang disebabkan oleh infeksi HPV.

“Selain Nusagard, Bio Farma juga memiliki CerviScan yang digunakan untuk mendukung deteksi dini infeksi HPV. Kehadiran kedua produk tersebut mencerminkan kesiapan Bio Farma dalam memberikan kontribusi terhadap upaya pencegahan, deteksi dini, dan pengendalian penyakit yang disebabkan oleh HPV di masyarakat,” jelasnya.

Sebagai bagian dari ekosistem Danantara, Bio Farma berkomitmen untuk memperkuat kapasitas industri kesehatan nasional dengan menghadirkan produk-produk yang diproduksi di dalam negeri. Penguatan kapasitas tersebut diharapkan dapat mendukung kemandirian kesehatan nasional sekaligus memastikan tersedianya akses terhadap produk pencegahan dan deteksi dini yang berkualitas bagi masyarakat.

kanker serviks merupakan kanker yang terjadi pada leher rahim, yaitu bagian bawah rahim yang menghubungkan rahim dengan vagina. Berdasarkan data GLOBOCAN, kanker serviks merupakan kanker keempat yang paling sering terjadi pada perempuan di dunia, dengan perkiraan sekitar 660.000 kasus baru dan 350.000 kematian pada tahun 2022.

Infeksi HPV dapat menyerang siapa saja tanpa memandang usia, jenis kelamin, maupun latar belakang. Infeksi tersebut dapat menyebabkan penyakit jinak maupun ganas. Oleh karena itu, perempuan dan laki-laki perlu memperoleh pemahaman yang tepat mengenai pencegahan HPV, termasuk melalui vaksinasi sesuai rekomendasi tenaga kesehatan.

Melalui kolaborasi strategis ini, Bio Farma menegaskan komitmennya sebagai BUMN dan bagian dari ekosistem Danantara yang tidak hanya berorientasi pada keberlanjutan bisnis, tetapi juga menjalankan peran strategis dalam pembangunan kesehatan masyarakat. 

Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyediaan produk kesehatan dalam negeri, edukasi berkelanjutan, dan kolaborasi lintas sektor untuk mendukung terwujudnya generasi Indonesia yang lebih sehat serta bebas dari ancaman penyakit yang disebabkan oleh infeksi HPV.

Sementara itu, Direktur Imunisasi Kementerian Kesehatan Indri Yogyaswari menegaskan infeksi HPV tidak hanya menyerang perempuan, tetapi juga dapat menginfeksi laki-laki sehingga upaya pencegahan perlu dilakukan secara menyeluruh.

“Rencana Aksi Nasional Eliminasi Kanker Leher Rahim dengan target 90% imunisasi HPV, 75% skrining, dan 90% tata laksana kanker pada tahun 2030. Capaian imunisasi HPV pada tahun 2025 telah mencapai 90,9% berkat kebijakan pemberian satu dosis vaksin bagi anak perempuan usia 11 tahun, setelah perjalanan panjang mulai dari uji coba di Jakarta pada 2016 hingga introduksi nasional pada 2023," tuturnya.

Ke depan, kata dia, vaksinasi akan diperluas secara bertahap kepada anak laki-laki, dimulai di DKI Jakarta, DI Yogyakarta, dan Bali pada 2026, dilanjutkan Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Banten pada 2027, serta Jawa Timur pada 2028, disertai perluasan sasaran usia bagi perempuan.

Dia juga menekankan tantangan dalam eliminasi kanker serviks masih berasal dari rendahnya literasi masyarakat dan beredarnya berbagai informasi yang tidak tepat mengenai vaksin HPV.

“Masih banyak mitos yang berkembang di masyarakat, seperti anggapan bahwa vaksin HPV dapat menyebabkan kemandulan. Oleh karena itu, tenaga kesehatan memiliki peran penting sebagai ujung tombak edukasi. Dengan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, eliminasi kanker serviks di Indonesia dapat kita wujudkan,” jelasnya.


Editor : Doni Ramdhani