Dedi Mulyadi Temui Bio Farma, Pemprov Jabar Siap Bantu Peternak Ular Produksi Serum Anti Bisa

Guna memenuhi kebutuhan serum anti bisa ular, Pemerintah Provinsi Jawa Barat siap membantu membiayai peternak untuk produksi.

Dedi Mulyadi Temui Bio Farma, Pemprov Jabar Siap Bantu Peternak Ular Produksi Serum Anti Bisa
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi./INILAHKORAN-Yuliantono

INILAHKORAN.ID - Guna memenuhi kebutuhan serum anti bisa ular, Pemerintah Provinsi Jawa Barat siap membantu membiayai peternak untuk produksi.

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi menuturkan, dari hasil pertemuannya dengan Bio Farma beberapa waktu lalu, didapati bahwa ada kesulitan dalam memenuhi kebutuhan penyediaan serum anti bisa ular, lantaran ketersediaan hewan melata tersebut terbatas.

Maka dari itu, Pemprov Jabar kata Dedi, menawarkan kepada siapapun masyarakat, untuk menjadi peternak ular dan dibiayai oleh pemerintah.

"Kita biayain, karena kasihan orang-orang di daerah itu masih ngandelin dukun atau ahli pengobatan tradisional. Sehingga kan banyak yang tidak tertolong," ujar Dedi, dikutip Jumat 23 Januari 2026.

Apalagi bila ada korban yang tergigit ular, yang memiliki kadar bisa tinggi dan berbahaya seperti King Cobra. Sehingga di tiap desa seperti Puskesmas, sejatinya harus memiliki serum anti bisa.

"Apalagi kayak King Cobra, kan enggak bisa lama. Nah, kemudian kalau dibawa ke rumah sakit, perjalanan jauh. Kan harusnya di desa itu yang di mana ada kerawanan terhadap bisa ular, itu serumnya tersedia," ucapnya.

Sebelumnya, Dedi berdiskusi bersama jajaran PT Bio Farma di kediaman pribadinya di Lembur Pakuan, Kabupaten Subang, Senin 19 Januari 2026 silam, dirinya mendorong perusahaan pelat merah tersebut untuk memperluas perannya dalam pemenuhan kebutuhan serum anti bisa ular, khususnya di Jawa Barat.

Menurut Dedi, kasus gigitan ular masih menjadi ancaman serius bagi masyarakat Jabar. Kondisi geografis yang didominasi kawasan pegunungan dan hutan lebat membuat potensi interaksi manusia dengan ular berbisa masih tinggi, terutama di wilayah pedesaan.

Ancaman itu kian nyata bagi warga yang menggantungkan hidup dari sektor pertanian, seperti petani sawah dan kebun, yang setiap hari beraktivitas di alam terbuka.

"Dan sekarang yang kita lagi pesen-pesen benar adalah serum anti bisa ular. Orang Sunda yang paling bahaya tiga, yakni 1. Oray gibuk atau ular tanah 2. Oray welang atau ular weling, yang nomor 3. ular kobra," papar Dedi.

Guna menjamin ketersediaan serum secara berkelanjutan, dia menilai diperlukan sistem produksi yang terintegrasi, termasuk penangkaran ular sebagai sumber bisa.

"Mudah-mudahan dan selanjutnya Harus ada yang melihara ular Menetaskan, menernakan," ucapnya.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas pihak, mulai dari pegiat konservasi, peneliti, hingga dukungan program corporate social responsibility (CSR). Menurut Dedi, proses riset dan produksi serum juga memerlukan dukungan hewan uji yang memadai.

"Panji (Panji Petualang) kamu menjadi salah satu mitra ya nanti ya disupport oleh CSR Bio Farma untuk mengembangkan peternakan ular agar nanti bisanya banyak, terus termasuk disitu harus ada apa namanya tikus putih kerjasama untuk tikus putih kelinci percobaan," katanya.

Kelak, Dedi menargetkan setiap desa yang masuk kategori endemik gigitan ular memiliki ketersediaan serum anti bisa ular sebagai bagian dari sistem kesiapsiagaan kesehatan desa.

Langkah ini diharapkan dapat menekan risiko fatalitas akibat gigitan ular sekaligus memperkuat perlindungan kesehatan masyarakat di wilayah pedesaan Jawa Barat.

"Kita ingin di setiap desa yang endemik ular, yang sering dipatok ke sawah, ke kebon. Nanti harus tersedia (serum dan vaksin) di desa," tandasnya.***


Editor : JakaPermana