BMKG Warning! El Nino Moderat Ancam Jabar, Puncak Kemarau Diprediksi Agustus
BMKG mengigatkan ancaman El Nino Moderat di Jabar dan puncak kemarau akah terjadi pada Agustus
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Ancaman kekeringan membayangi Jawa Barat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kelas I Bandung memperkirakan, musim kemarau 2026 akan mencapai puncaknya pada Agustus mendatang, dengan pengaruh fenomena El Nino yang diprediksi berada pada kategori moderat.
Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan penurunan curah hujan secara signifikan di berbagai wilayah Jawa Barat, termasuk kawasan Bandung Raya. Dampaknya tidak hanya dirasakan sektor pertanian, tetapi juga berpotensi mengganggu ketersediaan air bersih hingga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Fungsional Pengamat Meteorologi dan Geofisika Muda BMKG Bandung, Yuni Yulianti mengungkapkan, sebagian besar wilayah Jawa Barat kini telah memasuki periode musim kemarau. Situasi tersebut diperkirakan berlangsung seiring berkembangnya fenomena El Nino di kawasan Samudra Pasifik.
“Untuk tahun 2026 ini memang sudah musim kemarau, dan BMKG memprediksi akan disertai El Nino,” ujar Yuni dalam keterangannya, Minggu (7/6/2026).
Menurutnya, El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di wilayah Pasifik ekuator yang berdampak pada berkurangnya pembentukan awan hujan di Indonesia. Akibatnya, intensitas hujan di sejumlah daerah diperkirakan menurun dibandingkan kondisi normal.
BMKG memperkirakan, El Nino tahun ini berada pada kategori moderat meski terdapat peluang kecil berkembang menjadi lebih kuat.
“Untuk tahun ini diprediksi El Nino moderat, dengan peluang kecil menuju kuat, tetapi dominan tetap moderat,” ucapnya.
Di tengah maraknya istilah "El Nino Godzilla" yang beredar, BMKG menegaskan istilah tersebut bukan bagian dari klasifikasi resmi yang digunakan lembaga meteorologi.
Yuni menegaskan, BMKG hanya membagi fenomena El Nino ke dalam tiga kategori berdasarkan tingkat kekuatannya.
“BMKG sendiri tidak pernah merilis adanya El Nino Godzilla. Kami mengkategorikan El Nino itu menjadi tiga, yaitu El Nino lemah, moderat, dan kuat,” tuturnya.
BMKG memproyeksikan, puncak musim kemarau di Jawa Barat terjadi pada Agustus 2026. Wilayah yang diperkirakan merasakan dampak paling nyata antara lain Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kota Cimahi.
Pada periode tersebut, curah hujan diprediksi berada di bawah rata-rata normal. Bahkan, durasi musim kemarau di beberapa wilayah berpotensi berlangsung lebih panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Puncak kemarau diprediksi terjadi pada Agustus, termasuk wilayah Bandung Raya. Secara umum, curah hujan lebih rendah dan durasi musim kemarau di beberapa wilayah bisa lebih panjang dari normal,” katanya.
BMKG menilai, sektor pertanian menjadi salah satu bidang yang paling terdampak jika curah hujan terus menurun. Karena itu, para petani diminta mulai menyesuaikan pola tanam serta memilih komoditas yang lebih tahan terhadap kondisi minim air.
Selain pertanian, masyarakat juga diingatkan untuk lebih bijak menggunakan air guna mengantisipasi kemungkinan berkurangnya pasokan selama musim kemarau berlangsung.
“Kami mengimbau masyarakat untuk mulai melakukan penghematan air, dan sektor pertanian menyesuaikan pola tanam serta memilih varietas yang tahan kekeringan,” ujarnya.
BMKG juga mendorong pemerintah daerah mengoptimalkan pengelolaan sumber daya air, termasuk sistem irigasi, embung, dan waduk agar mampu menopang kebutuhan masyarakat saat debit air menurun.
Meski memasuki musim kemarau, Yuni menegaskan hujan masih berpotensi terjadi di beberapa wilayah. Namun frekuensi dan intensitasnya jauh lebih rendah dibandingkan musim penghujan.
“Musim kemarau bukan berarti tanpa hujan sama sekali, tetapi intensitasnya jauh lebih rendah,” katanya.
Dengan prediksi El Nino moderat yang menyertai musim kemarau tahun ini, BMKG meminta seluruh pemangku kepentingan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan dan karhutla yang diperkirakan meningkat seiring berkurangnya curah hujan di Jawa Barat.
Editor : Ahmad Sayuti

