Petani Milenial Minta 3 Hal Ini ke Bupati Bogor Ade Yasin, Asuransi Salah Satunya
Ketua Hiimpunan Petani dan Peternak Milenial Indonesia meminta tiga hal kepada Bupati Bogor Ade Yasin. Salah satunya, Asuransi Produk.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bogor- Ketua Himpunan Petani dan Peternak Milenial Indonesia Aldi Supriyadi meminta Pemkab Bogor menjadikan sektor pertanian dan peternakan sebagai prioritas pemulihan ekonomi.
Menurut mantan Ketua Pokja wartawan DPRD Kabupaten Bogor ini, untuk mendongkrak sektor tersebut, maka diperlukan intervensi pemerintah daerah.
"Harapan kami agar anggaran pemulihan ekonomi digunakan untuk membangun infrastruktur pertanian, asuransi produk pertanian, dan juga penanganan pasca panen komoditas pertanian," kata Aldi kepada wartawan, Rabu (08/09/2021).
Dalam kesempatan ini, ia mengapresiasi pemerintah dan DPRD yang mengalokasikan anggaran sebesar Rp520 miliar untuk sektor pemulihan ekonomi di tahun 2022.
Dari jumlah tersebut, sebesar Rp392 miliar digunakan untuk program membangun insfrastruktur desa yang bernama satu miliar satu desa (Samisade).
"Potensi oerdesaan adalah pertanian karena itu anggaran Samisade mestinya untuk menggerakkan sektor ekonomi di bidang pertanian, perikanan, peternakan hingga pariwisata," sambungnya.
Baca Juga: Pemkot Bogor Pulangkan Aset Negara Hingga 1,43 Juta Meter Lahan
Aldi menuturkan sektor pertanian, perikanan dan peternakan masih tumbuh positif di tengah hantaman pandemi Covid-19. Pada akhir 2020, kontribusi pertanian terhadap produk domestik bruto Kabupaten Bogor sebesar Rp12,73 triliun atau 5,39 persen dari total PDRB tahun 2020 sebesar Rp236,15 triliun.
Kontribusi tersebut masih tumbuh positif dibanding 2019 sebesar Rp12,47 triliun atau 5,26 persen dari total produk domestik bruto
Namun, katanya, pertumbuhan positif sektor pertanian masih belum memberikan dampak positif terhadap pendapatan petani.
Hal itu karena biaya produksi yang mahal serta harga berbagai komoditas yang fluktuatif menjadikan petani seringkali mengalami kerugian.
"Karena itu pemerintah dari pusat hingga daerah harus intervensi kebijakan dan juga anggaran yang memprioritaskan pemulihan ekonomi sektor pertanian, perikanan dan peternakan," tutur Aldi.
Pimpinan Usaha BogorOnline ini juga menyoroti tentang regenerasi petani. Menurutnya dari sektor pertanian hanya menyerap 3,91 persen dari jumlah angkatan kerja yang memiliki pekerjaan.
"Yang memilih sektor pertanian jumlahnya sangat sedikit yakni hanya 3,91 persen atau sebanyak 91.672 orang. Artinya bisnis pertanian kita belum menarik minat kaum Milenial," lanjutnya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut jumlah angkatan kerja pada 2020 sebesar 2.342.939 angkatan kerja yang memiliki pekerjaan. Dari jumlah itu sebanyak 1.073.315 orang atau 45,81 persen bekerja sebagai buruh, karyawan atau pegawai.
Sementara yang memilih wirausaha sebanyak 592.089 orang atau 25.27 persen dari total angkatan kerja yang terserap. Adapun yang memilih sektor pertanian jumlahnya sangat sedikit yakni hanya 3,91 persen atau sebanyak 91.672 orang.
Di tempat yang sama, Bupati Bogor Ade Yasin mengatakan, upaya pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan petani salah satunya dengan gerakan beli beras petani lokal.
Dia bahkan telah meminta seluruh ASN membeli beras Carita Makmur sebesar 5kg per bulan yang merupakan beras dari petani di Kecamatan Sukamkamur.
"Tahun 2020 ASN membeli sebanyak 847,5 ton dengan harga yang membuat petani tersenyum, untuk tahun ini kami menargetkan beli beras petani sebanyak 850 ton," ujar Ade.
Program di sektor pertanian lainnya adalah menerbitkan Kartu Asurasnsi Usaha Tani Padi (AUTP). Program tersebut sudah berjalan dan pada 2020 realisasi 2.020 hektar sawah petani telah diasuransi. Sementara pemerintah daerah menargetkan sebanyak 5 ribu hektar pada 2021 (Reza Zurifwan)
Editor : inilahkoran


