Inilah Upaya Dinkes Mencegah dan Menurunkan Angka Stunting Kabupaten Bogor
Dinkes Kabupaten Bogor berupaya mencegah dan menurunkan angka stunting di daerahnya. Untuk itu, upaya preventif dan kuratif gencar dilakukan
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bogor - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bogor berupaya mencegah dan menurunkan angka stunting di daerahnya. Untuk itu, upaya preventif dan kuratif gencar dilakukan.
Gejala stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita yang disebabkan karena kekurangan gizi dalam jangka waktu lama. Akibatnya, anak lebih pendek dibandingkan dengan tinggi badan anak seusianya.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bogor Mike Kaltarina mengatakan, kekurangan gizi ini dapat terjadi sejak janin dalam kandungan dan pada awal kehidupan setelah lahir. Faktor penyebab stunting dibedakan menjadi dua yaitu penyebab langsung dan penyebab tidak langsung.
"Penyebab langsung yaitu kurangnya konsumsi makanan yang bergizi dan seringnya anak terkena penyakit infeksi. Sedangkan, penyebab tidak langsung stunting yakni ketahanan pangan, tingkat pengetahuan pola asuh, akses ke sarana pelayanan kesehatan, dan sanitasi lingkungan," kata Mike di kantor Dinkes Kabupaten Bogor, Kamis 16 Desember 2021.
Baca Juga: Daya Saing dan Stunting, Dua Masalah Krusial Anak-anak Indonesia yang Harus Diselesaikan
Menurutnya, penurunan stunting penting dilakukan sedini mungkin untuk menghindari dampak jangka panjang yang merugikan seperti terhambatnya tumbuh kembang anak, perkembangan otak sehingga tingkat kecerdasan anak tidak maksimal dan menjadikan anak lebih rentan terhadap penyakit.
Pada saat dewasa anak stunting akan mempunyai resiko terkena penyakit tidak menular seperti jantung, hipertensi, dan diabetes melitus, menurunnya produktivitas kerja, serta rendahnya kualitas sumber daya sehingga akan kalah bersaing dengan negara-negara lain karena rendahnya kemampuan intelektual.
Mengingat besarnya kerugian akibat balita stunting, maka diperlukan upaya yang komprehensif untuk pencegahan dan penurunan angka stunting di Kabupaten Bogor dengan melaksanakan salah satu karsa dari panca karsa yang menjadi misi Bupati Bogor yaitu Karsa Bogor Sehat.
Salah satu upaya yang dilakukan yakni dengan Gerakan Bogor Bebas Stunting (GoBest) pada 2023 yang dilakukan secara terintegrasi atau terpadu dengan berbagai sektor terkait.
Baca Juga: Pemkot Bogor dan PT Ceva Tebar Bantuan Telur untuk Anak Berpotensi Stunting
Upaya penurunan stunting dilakukan melalui dua intervensi, yaitu intervensi gizi spesifik untuk mengatasi penyebab langsung dan intervensi gizi sensitif untuk mengatasi penyebab tidak langsung.
Selain mengatasi penyebab langsung dan tidak langsung, diperlukan prasyarat pendukung yang mencakup komitmen politik dan kebijakan untuk pelaksanaan, keterlibatan pemerintah dan lintas sektor, serta kapasitas untuk melaksanakan.
Upaya pertama adalah intervensi gizi spesifik. Ini merupakan intervensi yang ditujukan kepada anak dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dan berkontribusi pada 30 persen penurunan Stunting.
Kerangka kegiatan intervensi gizi spesifik umumnya dilakukan pada sektor kesehatan. Intervensi ini juga bersifat jangka pendek dimana hasilnya dapat dicatat dalam waktu relatif pendek.
Baca Juga: Di Garut, Masih Ada 10 Ribu Anak Stunting yang Tersebar di 42 Kecamatan
Kegiatan yang idealnya dilakukan untuk melaksanakan Intervensi Gizi Spesifik dapat dibagi menjadi beberapa intervensi utama yang dimulai dari masa kehamilan ibu hingga melahirkan balita.
Beberapa upaya Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor dalam pencegahan dan penurunan balita stunting adalah melalui:
UPAYA PENCEGAHAN (PREVENTIF)
1. Kegiatan Bulan Penimbangan Balita (BPB) di Kabupaten Bogor secara serentak di seluruh Posyandu. Kegiatan BPB adalah kegiatan penimbangan yang dilakukan dua kali dalam setahun (Pebruari dan Agustus). Pada kegiatan BPB tersebut, seluruh balita yang ditimbang dan diukur tinggi badan/ panjang badannya untuk ditentukan status gizinya. Kegiatan tersebut merupakan upaya pemantauan status gizi balita yang merupakan bagian dari sistem kewaspadaan dini terhadap munculnya kasus balita kurang gizi termasuk Stunting.
2. Pemberian ASI eksklusif pada bayi 0–6 bulan sebagai salah satu indikator keluarga sadar gizi, diharapkan dapat menekan munculnya kasus gizi buruk dan Stunting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bayi 0–6 bulan diberi ASI eksklusif segera dapat menekan kematian bayi sebesar 22 persen.
3. Pemberian imunisasi pada balita.
4. Distribusi kapsul vitamin A bagi bayi (6–11 bulan) dan anak balita (12–59 bulan) yang berfungsi untuk penglihatan, pertumbuhan dan meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit.
5. Peningkatan pengetahuan ibu hamil dan balita melalui kelas ibu dan balita.
6. Pemberian tablet tambah darah pada remaja putri, wanita usia subur, ibu hamil dan ibu nifas.
7. Pemantauan garam beriodium pada masyarakat di tingkat Rumah Tangga.
8. Sebagai kewaspadaan dini terhadap munculnya kasus gizi buruk dilakukan pemantauan terhadap balita yang berada dibawah garis merah (BGM) dan balita yang dua kali ditimbang di posyandu tidak naik berat badannya (2T). Bagi kelompok balita BGM dan 2T dari keluarga miskin sebagai prioritas pemberian MP-ASI.
9. Konseling/pelayanan konsultasi di klinik gizi puskesmas.
10. Penyuluhan di media cetak elektronik dan media massa.
11. Peningkatan pengetahuan masyarakat dan pemahaman keluarga tentang makanan bergizi dengan melakukan pembinaan keluarga mandiri sadar gizi (KADARZI).
12. Penyediaan kases PKPR (Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja) di puskesmas.
13. Mempersiapkan konseling bagi calon pengantin.
14. Konsultasi perencanaan kehamilan yang melibatkan suami dan orang tua.
Baca Juga: Geber Pagi, Buruan SAE Peduli, dan Bereaksi Cegah Stunting di Kota Bandung
UPAYA PENANGANAN (KURATIF)
A. Pemberian PMT-P bagi balita gizi buruk sesuai tatalaksana gizi buruk, rujukan dan pelacakan kasus, pemberian PMT-P bagi balita gizi kurang dan ibu hamil KEK (Kurang Energi Kronis).
B. Center Klinik Gizi sebagai upaya pendekatan pelayanan terhadap kasus gizi buruk untuk menanggulangi kasus gizi buruk yang ditemukan agar tidak jatuh pada kondisi yang lebih parah yang dapat mengakibatkan biaya perawatan yang lebih tinggi/ mahal. Diharapkan Center Klinik Gizi ini dapat berfungsi sebagai sarana rujukan bagi kasus gizi buruk agar mendapatkan penanganan sesuai tatalaksana gizi buruk. Saat ini di Kabupaten Bogor sudah ada 26 Center Klinik Gizi yang tersebar di 26 kecamatan.
Upaya kedua adalah Intervensi Gizi Sensitif. Kerangka ini idealnya dilakukan melalui berbagai kegiatan pembangunan diluar sektor kesehatan dan berkontribusi pada 70% Intervensi Stunting. Sasaran dari intervensi gizi spesifik adalah masyarakat secara umum dan tidak khusus ibu hamil dan balita pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan/HPK. Kegiatan terkait Intervensi Gizi Sensitif dapat dilaksanakan melalui beberapa kegiatan yang umumnya makro dan dilakukan secara lintas opd. Upaya penurunan Stunting akan lebih efektif apabila intervensi gizi spesifik dan sensitif dilakukan secara terintegrasi atau terpadu.
Aksi Integrasi merupakan pendekatan intervensi yang dilakukan secara terkoordinir, terpadu, dan Bersama-sama sehingga institusi penanggung jawab Aksi Integrasi harus melibatkan lintas sektor dalam perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan kegiatan. Terdapat 8 aksi integrasi intervensi penurunan stunting.
Baca Juga: Makanan Bergizi Kunci Cegah Stunting
Komitmen pemerintah daerah dalam pelaksanaan program penurunan Stunting di Kabupaten Bogor ditunjukkan dengan telah terbitnya Instruksi Bupati Nomor 440/884 tahun 2019 Tentang Intervensi Stunting Terintegrasi dan Keputusan Bupati no 444/294/Kpts/per-UU/2019 Tentang Pembentukan Tim Koordinasi Pelaksanaan Aksi Integrasi Stunting Di Kabupaten Bogor yang memayungi OPD di lingkungan Kabupaten Bogor.
Untuk mempertajam program intervensi stunting maka berdasarkan keputusan Bupati Bogor Nomor 444/303/Kpts/Per-UU/2020 tentang penetapan lokasi intervensi stunting di Kabupaten Bogor, telah ditetapkan 68 desa yang menjadi lokus intervensi stunting yang tersebar di 34 puskesmas dan 26 kecamatan.
Berbagai kegiatan koordinasi dan konvergensi yang dilaksanakan dengan melibatkan OPD, kecamatan, dan desa di lokus stunting diantaranya:
1. Pertemuan analisa situasi program penurunan stunting yang dilaksanakan untuk mendapatkan gambaran pelayanan pada sasaran 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
2. Rembuk Stunting yang dihadiri oleh Bupati, Wakil Bupati, OPD, dan kecamatan, serta desa.
3. Pertemuan Penguatan dan Pembinaan Tim Kabupaten, kecamatan, dan desa dalam Akselerasi Penurunan Stunting di Kabupaten Bogor yang bertujuan untuk menajamkan program dan kegiatan dari masing-masing OPD dalam program penurunan stunting.
4. Pertemuan Penguatan Peran dan Tugas Kader Pembangunan Manusia (KPM) dalam Penurunan Stunting.
5. Pelatihan kader kesehatan dalam peningkatan kemampuan komunikasi perubahan perilaku dan komunikasi antar pribadi.
6. Rapat Koordinasi Persiapan Aksi 6 dan Aksi 7.
7. Publikasi stunting.
8. Pertemuan Review Kinerja Penurunan Stunting yang dilaksanakan untuk mengetahui sejauh mana pencapaian indikator kinerja dari masing-masing OPD, permasalahan yang ditemukan dan upaya-upaya strategis yang dilaksanakan untuk mengatasi masalah tersebut.
9. Penyusunan perbup STBM
Keberhasilan upaya pencegahan dan penurunan Stunting dapat dinilai dari tidak adanya peningkatan kasus baru Stunting atau penurunan angka Stunting dari tahun sebelumnya. Berdasarkan hasil pengukuran status gizi melalui kegiatan Bulan Penimbangan Balita yang dilaksakana pada bulan Agustus diperoleh hasil sebanyak 18.877 (5,96%) memiliki berat badan kurang, 32.939 (10,48%) balita menderita Stunting, dan 16.537 (5,24%) balita menderita gizi kurang. Bila dibandingkan dengan tahun 2020, angka Stunting mengalami penurunan sebesar 2,31%. Kecenderungan status gizi balita tahun 2020 – 2021.
Mengingat kompleksnya penyebab stunting, maka penyelenggaraan intervensi penurunan stunting terintegrasi merupakan tanggung jawab bersama lintas sektor dan bukan tanggung jawab Dinas Kesehatan saja.
Untuk itu, perlu penguatan peran dari tim koordinasi pelaksanaan aksi integrasi stunting mulai dari perencanaan sampai pada monitoring dan evaluasi kegiatan pencegahan dan penurunan stunting, sehingga target Gerakan Bogor Bebas Stunting (Go-Best) tahun 2023 dapat tercapai.
Dokumentasi Kegiatan
1. Pelayanan Gizi pada Ibu Hamil
2. Pelayanan Gizi pada Balita
3. Pelayanan Gizi pada Remaja Putri
4. Pelayanan Gizi pada keluarga.
5. Koordinasi dan konvergensi dengan lintas program dan lintas sector. (adv)
Editor : inilahkoran


